SUARA deru mesin amplas memecah keheningan di sebuah sudut bengkel kerja milik Ilham Subakti. Bengkel kecilnya terletak di di belakang Kafe Van Houven, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Untuk sampai ke sana, perlu mengakses lorong sempit sekitar satu meter di ujung kafe.
Bengkel kerjanya justru tak tampak sebagai sebuah tempat membuat karya. Tidak ada pertanda atau papan nama yang terpajang. Namun, perkakas tumpukan kayu dan lempengan besi yang berjejer rapi. Di ruang yang tak terlalu luas itu, aroma khas logam bercampur dengan bau serutan kayu menciptakan atmosfer kerja yang kental.
Bakti tampak fokus menatap sebilah logam di tangannya. Di usianya yang sudah memasuki kepala enam, ketajaman matanya dalam melihat presisi sebuah mata pisau tak perlu diragukan. Siapa sangka, di tangan dinginnya, barang-barang yang dianggap sampah oleh sebagian orang bisa berubah menjadi perkakas dapur yang memiliki nilai jual tinggi.
”Kalau ini jenis pisau yang cocok untuk digunakan memasak di dapur oleh para koki,” terangnya. Ketertarikan Bakti pada dunia bilah sebenarnya sudah bermula sejak tiga tahun silam. Sebagai pria yang dulunya gemar menjelajah hutan dan naik gunung, pisau adalah barang setia yang dia miliki.
Namun, mahalnya harga pisau berkualitas di pasaran sempat membuatnya berpikir ulang. Dari sanalah ide nekatnya mulai muncul. Dia mencoba membuat pisau sendiri dengan biaya murah tapi kualitasnya tak kalah dengan produk bermerek. Bergelut dengan baja tiga tahun, hobinya berubah menjadi ketekunan yang serius.
Bakti justru berburu limbah baja di pasar loak. Salah satu bahan andalannya adalah bekas gergaji bundar dari pabrik penggergajian batu marmer. Lempengan bulat yang sudah aus itu dipotong, dibentuk pola, lalu diproses sedemikian rupa.
Dulu, mencari bahan baku bukanlah perkara sulit bagi Bakti. Dia kerap menyisir lapak-lapak tukang loak untuk mencari harta karun berupa lempengan gergaji bekas yang ukurannya besar.
Namun, seiring berjalannya waktu, para pengepul mulai sadar akan nilai tinggi baja-baja tersebut. Kini, berburu bahan di pasar loak tak lagi semudah membalik telapak tangan. ”Sekarang orang sudah pada tahu kualitasnya. Bahan bekas yang sudah pecah-pecah saja, orang sudah berani minta harga Rp 500 ribu," keluhnya.
Namun bagi Bakti, pecahan baja tetaplah emas. Dia memiliki insting untuk memilih bagian mana yang masih bisa diproses menjadi bilah yang kokoh. Keputusan Bakti untuk setia pada bahan bekas bukan tanpa alasan. Harga bahan mentah baru di toko-toko sudah sangat melangit.
Untuk satu potong plat baja mentah seukuran satu pisau saja, harganya bisa mencapai Rp 1 juta. Itu pun belum termasuk biaya pengerjaan yang rumit. ”Kalau pakai bahan baru yang kualitasnya sangat bagus, satu pisau itu harganya bisa tinggi sekali. Jarang yang mau beli,” jelasnya.
Itulah sebabnya ia memilih tetap di jalur daur ulang agar pisaunya tetap bisa dijangkau oleh teman-teman dan masyarakat sekitar. Di bengkelnya, pisau-pisau kecil hasil karyanya dibanderol dengan harga yang sangat ramah kantong, mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 300 ribu per bilah.
Prosesnya pun tidak sembarangan. Bakti harus melalui tahapan yang menuntut kesabaran ekstra. Lempengan baja gergaji yang sangat keras itu tidak bisa langsung dikikis. Dia harus memanaskannya terlebih dahulu hingga merah membara agar kadar kekerasannya menurun dan mudah dibentuk.
Setelah pola terbentuk, baja itu dikeraskan kembali melalui proses tempering yang pas. ”Kalau beli bahan pabrikan yang baru seperti baja Bohler itu mahal sekali. Bisa Rp 400 ribu hanya untuk bahannya saja. Tapi kalau pakai bekas gergaji ini, biayanya mungkin cuma seperempatnya,” jelas pria kelahiran 1959 itu.
Detail adalah kunci baginya. Mata pisau yang bagus tidak hanya soal tajam, tapi juga soal estetika dan keseimbangan. Keunikan bengkel Bakti itu juga sering menjadi objek wisata dadakan. Lokasi bengkelnya yang berada di belakang kafe milik anaknya membuat para pengunjung kafe sering mampir.
Saat mereka hendak ke toilet atau sekadar berjalan-jalan ke belakang. Mereka sering terpesona melihat proses pembuatan pisau secara tradisional itu. ”Pernah saya buat pisau bergaya Jepang, mirip samurai kecil, yang langsung ludes diborong,” katanya.
Bahkan, Bakti tidak tahu persis darimana pelanggannya berasal. Karena tidak mengunggah apapun di sosial media untuk promosi. Semuanya berjalan murni dengan ketidaksengajaan pembeli yang mampir dan mendapati bengkel kecil miliknya.
Meski peralatannya masih terbatas, pisau karya Bakti memiliki level ketajaman yang mengerikan. Saat diuji coba, pisau itu mampu menyayat kertas dengan sangat halus layaknya sebuah silet. ”Biasanya orang tertarik karena tajamnya ini. Tapi untuk mencapai ini, prosesnya bisa empat hari satu pisau," tambahnya.
Kini, di masa tuanya, Bakti menikmati setiap gesekan mesin amplas dan ketukan palu. Baginya, membuat pisau bukan sekadar urusan mencari rupiah. Melainkan kepuasan batin saat melihat sebilah logam bekas bisa kembali bermanfaat. Baik di dapur para koki, di rumah-rumah sederhana hingga teman setia pendaki gunung. (*/adn)
Editor : A. Nugroho