DERU halus motor listrik mesin jahit nyaris tak pernah absen dari sebuah rumah di Jalan Sudarno, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu. Suaranya berulang-ulang, ritmis, seperti metronom yang mengatur tempo pagi hingga sore.
Di ruangan kerja yang tak terlalu luas, Nani Eviati duduk membungkuk dengan konsentrasi penuh. Di hadapannya, potongan-potongan kain tersusun rapi. Tangannya cekatan menyatukan lembar demi lembar kain, lalu mengisi dakron hingga perlahan terbentuk siluet tubuh manusia dalam ukuran mini.
Bagi Nani, proses mencipta boneka bukan sekadar pekerjaan rutin. Ada semacam dialog sunyi antara jarum, benang, dan imajinasinya. Setiap detail diperhitungkan.
Ia memeriksa kembali jahitan baju mungil yang pas di badan boneka, memastikan kancing celana terpasang presisi, hingga merapikan aksesori kecil yang bisa dilepas-pasang. Bahkan, ketika pelanggan menginginkan motif kain yang tak tersedia di pasaran, ia memilih jalan yang lebih rumit dengan melukis motif itu sendiri secara manual.
Keistimewaan boneka buatannya memang bertumpu pada ketelitian. Sentuhan seni lukis dan bordir yang ia kuasai memberi karakter kuat pada setiap karya. Wajah boneka tampak hidup, ekspresinya lembut, seolah menyimpan cerita.
”Saya sudah belajar menjahit dan membuat boneka sejak dia masih kecil karena diajarkan ibu saya,” ungkap Nani. Warisan keahlian itu tumbuh bersamaan dengan ketekunannya, hingga menjadi fondasi yang kokoh bagi profesinya hari ini.
Menariknya, jalan Nani menuju dunia kerajinan tak sepenuhnya lurus. Ia pernah meniti karier sebagai arsitek di Surabaya. Pada akhir 1990-an, menjahit, menyulam, dan melukis hanya menjadi pelarian kreatif sepulang kerja.
Malam hari dihabiskannya dengan benang dan kain, sementara siang ia berkutat dengan gambar rancangan bangunan. Hingga memasuki tahun 2000-an, Nani mengambil keputusan besar meninggalkan dunia arsitektur dan menekuni pembuatan boneka secara penuh.
”Saya mulai terima pesanan itu sudah lama, tapi memang sempat on-off karena merawat ibu yang sakit,” ceritanya. Usahanya sempat berjalan tersendat. Namun, titik balik datang dari ruang digital. Sekitar dua bulan lalu, ia aktif membagikan karyanya di media sosial Threads.
Salah satu unggahan tentang boneka karakter Mahalini yang dibuatnya mendadak viral. Sejak itu, pesanan custom mengalir deras. Ada yang memesan miniatur rekan kerja sebagai kado pensiun, ada pula boneka wisuda lengkap dengan batik khas sekolah.
Di balik bentuknya yang mungil, boneka-boneka itu menyimpan emosi besar. Banyak pelanggan memesan bukan sekadar untuk koleksi, melainkan untuk merawat kenangan.
Salah satu pesanan paling membekas datang dari seorang ibu di Bali. Ia meminta Nani membuat boneka yang menyerupai putrinya yang telah meninggal.
”Jadi saya dikirim fotonya untuk dibuatkan versi boneka sebagai obat rindu,” jelasnya. Dalam momen seperti itu, Nani merasa karyanya menjelma jembatan antara kehilangan dan kehangatan.
Setiap boneka menjadi sangat personal. Tak jarang hubungan antara Nani dan pelanggannya berlanjut bertahun-tahun. Ia mengenang sebuah keluarga yang pertama kali memesan boneka saat anak mereka berusia satu tahun. Kini, anak itu telah duduk di bangku SMP dan komunikasi masih terjalin.
”Pernah ada yang pesan saat anaknya umur satu tahun, sekarang masih rajin komunikasi anaknya seusia SMP,” kata alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) tersebut. Dari sebuah boneka kecil, tumbuh ikatan yang menyertai perjalanan hidup seseorang.
Namun, kiprah Nani tak berhenti pada produksi dan penjualan. Ia membawa keterampilannya ke ranah sosial. Sejak enam tahun terakhir, ia rutin berkolaborasi dengan SLB Eka Mandiri melalui program vokasi setiap Rabu. Di sana, ia mengajarkan dasar-dasar membuat kerajinan kepada siswa berkebutuhan khusus. Ketertarikannya pada kegiatan sosial berakar dari lingkungan keluarga.
”Bapak saya dulu di dinsos. Jadi saya terbiasa melihat kegiatan sosial dan pemberdayaan. Sering diajak ke SLB atau panti tunanetra sejak kecil,” ungkapnya.
Mengajar di sekolah luar biasa menuntut kesabaran ekstra. Proses belajar berjalan perlahan, penuh pengulangan. Dari sepuluh siswa, mungkin hanya satu atau dua yang mampu mengikuti dengan baik. Namun bagi Nani, setiap kemajuan sekecil apa pun adalah kemenangan.
Kini, boneka-boneka karya Nani terus melintasi batas geografis. Ia menjalin kerja sama dengan rekannya di Houston, Amerika Serikat, untuk kegiatan amal melalui penjualan boneka custom.
Pesanan juga datang dari berbagai negara seperti Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Setiap paket yang ia kirim membawa cerita, harapan, dan sentuhan tangan yang dikerjakan dengan penuh perhatian.
Bagi Nani, boneka tak pernah sekadar benda mati. Di balik jahitan rapi dan wajah yang dilukis hati-hati, tersimpan makna yang lebih dalam. Ia melihat setiap karyanya sebagai wadah kasih sayang—sesuatu yang bisa dipeluk, dirawat, dan dijadikan pengingat akan momen berharga. (*/adn)
Editor : A. Nugroho