SURABAYA, RADAR MALANG – Oky Akbar Prakoso menorehkan prestasi membanggakan di dunia tinju. Petinju asal Kepanjen itu sukses merebut sabuk World Boxing Council (WBC) Asia Continental Bantamweight 2026 setelah menumbangkan petinju Thailand, Chirawat Prmma.
Bertanding di GOR Pancasila, Surabaya, Oky tampil dominan sejak ronde awal. Ia mengunci kemenangan melalui technical knock out (TKO) setelah wasit menghentikan laga pada ronde kelima.
Sejak bel pertama berbunyi, Oky langsung mengambil inisiatif serangan. Gerakannya lincah dengan kombinasi pukulan terukur, baik ke arah kepala maupun tubuh lawan.
Pukulan ke bagian perut beberapa kali membuat Chirawat goyah. Meski sempat bertahan, tekanan yang terus diberikan membuat petinju Thailand tersebut kesulitan keluar dari ritme permainan.
Memasuki ronde-ronde berikutnya, Oky semakin percaya diri. Ia mampu mengatur jarak, membaca pola permainan lawan, dan memanfaatkan setiap celah hingga akhirnya laga dihentikan wasit.
Kemenangan ini menjadi penebusan bagi Oky setelah kegagalan pada edisi sebelumnya. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses panjang yang penuh tantangan.
Ia mengaku sempat berada di titik jenuh akibat intensitas latihan yang tinggi, mencapai empat jam setiap hari.
“Pernah ingin berhenti,” ujarnya.
Namun, dorongan dari sang paman, Bahtiar Al Amin, yang juga mantan petinju, menjadi titik balik dalam kariernya. Dari yang awalnya hanya mengandalkan keberanian, Oky perlahan ditempa menjadi petinju disiplin dengan teknik matang.
Karier profesional Oky dimulai pada 2021 di Jakarta. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan kemampuan dengan bertanding di berbagai level, baik nasional maupun internasional.
Sejumlah negara pernah menjadi panggungnya, mulai dari Malaysia, Thailand, Timor Leste, hingga China. Catatan 12 kemenangan dan empat kekalahan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mengantarkannya ke titik ini.
Menjelang pertarungan di Surabaya, Oky menjalani persiapan intensif selama tiga bulan. Ia juga mengikuti training camp di Bali selama 10 hari, termasuk berlatih bersama petinju profesional asal Australia.
Strategi matang disiapkan untuk menghadapi Chirawat yang dikenal sebagai counter boxer. Oky memilih tampil agresif sejak awal untuk mengontrol tempo dan menekan lawan.
Kini, di usia 28 tahun, sabuk continental tersebut menjadi bukti kerja kerasnya selama ini.
“Ini spesial. Tidak banyak petinju Indonesia yang punya sabuk continental,” ungkapnya.
Meski demikian, Oky tidak ingin cepat berpuas diri. Setelah masa pemulihan, ia menargetkan untuk mempertahankan sabuk dalam enam bulan ke depan sekaligus membuka peluang naik kelas.
Editor : Aditya Novrian