Bangkit lewat Shopee, Casila Indonesia Kini Rutin Kirim Gamis hingga Malaysia dan Singapura

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 09:00 WIB
Linda Casila Sakti dan sang suami berada di Gerai Casila Indonesia yang bangkit lewat Shopee. (Indah Mei Yunita/Radar Malang)
Linda Casila Sakti dan sang suami berada di Gerai Casila Indonesia yang bangkit lewat Shopee. (Indah Mei Yunita/Radar Malang)

RADAR MALANG – Siapa sangka, usaha kecil yang berawal dari keinginan mencari uang saku tambahan kini berkembang menjadi merek busana muslim anak yang menembus pasar internasional. Casila Indonesia, yang berpusat di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kini rutin mengirimkan produknya ke berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia dan Singapura.

Di balik pertumbuhan tersebut, ada kisah Linda Casila Sakti yang memulai bisnisnya sebagai reseller pada 2013. Berbekal telepon genggam dan jejaring pertemanan, ia perlahan membangun kepercayaan pelanggan hingga akhirnya berani memproduksi merek sendiri.

Berawal dari Reseller Gamis di Jakarta

Deretan gamis anak dan dewasa berwarna pastel hingga earth tone memenuhi rak-rak di gerai Casila Indonesia di Jalan Raya Wonorejo, Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Beberapa anak tampak antusias memilih pakaian favorit mereka. Ada yang mencoba gamis bergaya princess, lalu tersenyum sambil bercermin.

Suasana itu menjadi gambaran perjalanan panjang usaha yang dimulai lebih dari satu dekade lalu.

Linda bercerita, bisnis tersebut bermula saat dirinya tinggal di Jakarta. Kala itu ia ingin membeli gamis, namun mengetahui harga akan lebih murah jika membeli sebagai reseller dengan jumlah minimal tiga potong.

Baca Juga: Shopee Dukung Pemberdayaan UMKM Lokal di Sumberpucung dan Poncokusumo

Alih-alih hanya membeli untuk diri sendiri, ia memilih menjual kembali dua gamis lainnya.

"Saat itu saya memanfaatkan BBM (BlackBerry Messenger) dan Facebook. Konsumen pertama saya teman kantor, teman kuliah, dan teman sekolah," ujar Linda.

Dari lingkaran pertemanan itulah bisnisnya mulai berkembang. Pesanan terus berdatangan, sementara jaringan pelanggan semakin luas melalui promosi dari mulut ke mulut.

Melihat Peluang Besar di Segmen Anak

Setelah menikah dan memiliki anak, Linda mulai membaca perubahan perilaku konsumen. Ia melihat pasar busana muslim anak memiliki peluang lebih besar dibanding pakaian dewasa.

Menurutnya, orang tua cenderung membeli lebih dari satu pakaian untuk anak. Selain itu, pertumbuhan tubuh anak yang cepat membuat kebutuhan membeli ukuran baru juga semakin sering.

Keputusan itu menjadi titik balik perkembangan usahanya.

Namun, tantangan datang ketika pada 2016 ia memutuskan pindah dari Jakarta ke Poncokusumo karena biaya hidup ibu kota yang tinggi, bersamaan dengan kehamilan anak keduanya.

"Waktu itu di sini masih banyak keterbatasan. Ekspedisi, jaringan internet, sampai supplier juga jauh," kenangnya.

Produksi Sendiri karena Ongkos Kirim Mahal

Jarak dengan pemasok justru menjadi titik awal lahirnya Casila Indonesia sebagai produsen.

Mahalnya ongkos kirim membuat Linda memutuskan mendesain dan memproduksi sendiri pakaian yang dijualnya. Ia memulai dari satu contoh desain yang ditawarkan kepada pelanggan loyal.

Respons pasar ternyata sangat baik. Dalam waktu singkat, puluhan pesanan masuk untuk model yang sama.

Baca Juga: UMKM Shopping Festival BRI akan Hadir di CFD dengan Produk Unggulan

Saat itu produsen gamis anak masih relatif sedikit sehingga peluang pasar masih terbuka lebar.

Perlahan, pelanggan tidak hanya membeli produk, tetapi juga menawarkan diri menjadi reseller.

Menembus Pasar Luar Negeri

Menjelang pandemi Covid-19, Casila Indonesia telah memiliki sekitar 200 mitra penjualan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia, Singapura, dan Jepang. Sebagian besar merupakan warga negara Indonesia yang bekerja di negara tersebut.

Linda juga mulai memanfaatkan Instagram sebagai media pemasaran ketika platform tersebut belum seramai sekarang. Dukungan sejumlah selebgram turut membantu memperluas jangkauan pasar.

Seiring meningkatnya permintaan, variasi desain pun terus bertambah.

Bangkit lewat Shopee

Pandemi Covid-19 sempat mengubah arah bisnis Casila Indonesia. Banyak mitra penjualan tidak lagi mampu bertahan sehingga penjualan ikut menurun.

Melihat kondisi tersebut, sang suami, Arif Susanto, mengambil langkah dengan membuka toko resmi di Shopee. Sejak saat itu, strategi pemasaran beralih ke marketplace dan terus dikembangkan hingga sekarang.

"Awalnya hanya satu penjahit. Sekarang menjadi empat penjahit utama, dan masing-masing masih dibantu beberapa tenaga produksi lainnya. Mayoritas pekerja berasal dari masyarakat sekitar," kata Arif.

Proses produksi pun semakin modern. Jika sebelumnya pemotongan kain dilakukan menggunakan gunting, kini sudah menggunakan mesin sehingga kapasitas produksi meningkat.

Gamis Polos Jadi Produk Andalan

Untuk menjaga minat konsumen, Casila Indonesia rutin meluncurkan koleksi baru setiap bulan. Hingga kini, ratusan desain telah diproduksi dengan berbagai pilihan warna.

Meski demikian, Arif mengungkapkan gamis polos tetap menjadi produk paling diminati.

"Yang paling menjadi favorit konsumen adalah gamis polos. Itu juga menjadi winning product kami di Shopee," ujarnya.

Baca Juga: Belanja Online Kini Lebih Dekat dengan Hiburan, Vidio dan Shopee Perkenalkan Vidio Shopping

Produk tersebut banyak dibeli untuk kebutuhan umrah keluarga. Bahkan, meningkatnya tren membawa anak beribadah ke Tanah Suci ikut mendorong permintaan busana muslim anak.

Saat ini Casila Indonesia juga mulai dilirik calon mitra dari negara-negara Timur Tengah. Meski demikian, perusahaan masih mempelajari berbagai persyaratan sebelum memperluas ekspor dalam skala yang lebih besar.

Sementara itu, pengiriman ke luar negeri masih dilakukan melalui mitra aktif di Malaysia dan Singapura yang setiap bulan menerima puluhan produk dari Poncokusumo. Dari sebuah usaha reseller rumahan, Casila Indonesia kini membuktikan bahwa produk UMKM Kabupaten Malang mampu bersaing hingga pasar internasional.

Editor : Aditya Novrian
Casila Indonesia busana muslim anak gamis anak poncokusumo umkm kabupaten malang