BATU, RADAR MALANG – Sebuah koper terbuka di ruang tengah rumah sederhana di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, menjadi saksi awal perjalanan besar Lelyana Arifa Indah Permatasari. Di usianya yang baru 17 tahun, ia bersiap menunaikan ibadah haji sebagai calon jemaah termuda asal Kota Batu tahun ini.
Mukena, pakaian, hingga buku panduan manasik tertata rapi di dalam koper. Lely tampak berulang kali memeriksa isi bawaannya. Tangannya sibuk, namun sorot matanya menyiratkan perasaan yang campur aduk antara tak percaya dan haru.
Perjalanan ini bukan sekadar ibadah. Bagi Lely, keberangkatan ke Tanah Suci adalah cara melanjutkan mimpi sang ayah, Muhammad Arifin, yang wafat sebelum sempat berangkat haji.
Semua bermula pada 2012, saat kedua orang tuanya mendaftar haji. Namun takdir berkata lain. Pada 2021, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan saat bekerja mengantar empal di kawasan Baloga.
Kepergian sang ayah menjadi titik balik. Di tengah duka, ibunya, Siti Mucholifah, memutuskan melimpahkan porsi haji tersebut kepada Lely yang saat itu masih duduk di bangku kelas 8.
Di usia yang masih belia, Lely belum sepenuhnya memahami makna keputusan itu. Namun ia menyadari ada tanggung jawab besar yang kini berada di pundaknya.
Kesempatan berangkat sebenarnya sempat terbuka pada 2023. Namun aturan usia membuatnya harus menunda. Penantian itu berlangsung hingga tiga tahun, bahkan sempat diwarnai kendala administrasi.
Baca Juga: Lolos SNBP 2026 di Usia 15 Tahun, M. Fatichul Firdaus Jadi Calon Mahasiswa Termuda UM
Nama Lely dan ibunya tak kunjung muncul dalam daftar keberangkatan 2025 akibat kekeliruan data. Hingga akhirnya, kepastian itu datang pada 12 Januari 2026.
Waktu persiapan yang singkat tak menyurutkan langkahnya. Meski sempat tertinggal rangkaian manasik, Lely memilih memaksimalkan persiapan dengan cara sederhana.
Hampir setiap hari, ia berjalan kaki bersama ibunya di sekitar Perumahan Bukit Panorama untuk melatih stamina.
Di balik kesiapan fisik, ada pergulatan batin yang tak kalah besar. Lely sempat diliputi rasa ragu dan takut, merasa belum pantas menjadi tamu Allah di usia muda.
Namun setiap keraguan itu selalu dijawab oleh sang ibu dengan keyakinan sederhana.
“Allah memampukan orang-orang yang dipanggil-Nya,” ujar Lely menirukan pesan ibunya.
Sejak kecil, Lely memang tumbuh dalam lingkungan religius. Ia tinggal di pondok pesantren sejak MTs dan rutin membaca Surat Al-Waqiah setiap pagi serta Al-Kahfi setiap Jumat.
Meski begitu, sosok ayah tetap menjadi ruang rindu yang tak tergantikan.
“Ayah itu tidak pernah marah,” kenangnya pelan.
Siswi MAN Kota Batu jurusan IPS tersebut akan meninggalkan sekolah selama sekitar 43 hari. Namun pihak sekolah telah menyiapkan ujian susulan sebagai bentuk dukungan.
Kini, rasa cemas yang sempat menghinggapi perlahan berubah menjadi antusiasme.
“Deg-degan juga rasanya mau berangkat haji,” ucapnya sambil tersenyum.
Perjalanan Lely bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang harapan, kehilangan, dan keyakinan yang tumbuh dalam diam. Sebuah langkah kecil dari Kota Batu menuju panggilan besar di Tanah Suci.
Editor : Aditya Novrian