MALANG KOTA, RADAR MALANG – Perjalanan ibadah haji tak selalu diawali dengan penantian panjang. Bagi Haidar Fattah Rizqy Santoso, langkah menuju Tanah Suci justru berawal dari kehilangan dan sebuah amanah yang kini ia tunaikan.
Di usianya yang baru 16 tahun, remaja yang akrab disapa Atta itu berangkat sebagai calon jemaah haji termuda dari Malang Raya tahun ini. Ia berangkat bersama sang ibu, May Syaroh Buchori, menggantikan posisi ayahnya, Dwi Santoso, yang wafat pada Agustus 2025 lalu.
Perjalanan ini berangkat dari pesan sederhana yang dahulu terdengar biasa. Sang ayah pernah berpesan, jika suatu saat tak bisa menunaikan ibadah haji, ia ingin Atta yang menggantikannya.
“Waktu itu ayah hanya berpesan seperti itu saat kondisi masih sehat,” kenang Atta.
Pesan tersebut sempat dianggap sebagai hal biasa oleh keluarga. Namun takdir berkata lain. Dwi Santoso yang telah mendaftar haji sejak 2011 bersama istrinya, sempat dijadwalkan berangkat pada 2023. Namun keberangkatan ditunda demi persiapan yang lebih matang pascapandemi.
Penundaan berlanjut hingga 2025. Hingga suatu hari, Dwi mendadak sakit saat berada di kantor. Tanpa riwayat penyakit sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisinya sempat membaik, namun keesokan harinya ia meninggal dunia.
Baca Juga: Lolos SNBP 2026 di Usia 15 Tahun, M. Fatichul Firdaus Jadi Calon Mahasiswa Termuda UM
Duka mendalam menyelimuti keluarga. Namun di tengah kehilangan, panggilan haji justru datang.
“Seminggu setelah ayah meninggal, kami mendapat panggilan haji,” ujar Atta.
Keputusan pun diambil. Atta, anak kedua dari tiga bersaudara, dipilih untuk menggantikan sang ayah. Ia dinilai paling memungkinkan, sementara kakaknya masih berpeluang berangkat di masa depan dan adiknya masih terlalu kecil.
Sejak saat itu, Atta menjalani peran ganda sebagai pelajar sekaligus calon jemaah haji. Ia harus menyelesaikan seluruh kewajiban sekolah sebelum berangkat.
Pihak SMA Ar-Rohmah tempatnya belajar memberikan dukungan penuh. Atta yang kini duduk di kelas 10 tetap diizinkan berangkat dengan syarat menuntaskan tugas-tugas pengganti.
“Semua tugas harus selesai sebelum berangkat,” katanya.
Bekal pengetahuan tentang ibadah haji juga telah ia miliki sejak SMP. Hal itu membuatnya lebih mudah memahami rangkaian ibadah selama persiapan.
“Jadi tidak terlalu kesulitan saat menghafal,” ujarnya.
Dari sisi fisik, Atta justru memiliki keunggulan. Di tengah mayoritas calon jemaah yang berusia lebih tua, ia menjadi salah satu yang paling bugar. Latihan fisik seperti jogging hingga gym mampu ia jalani tanpa kendala.
Baca Juga: Mengenal Sosok Yai Mim yang Wafat saat Proses Hukum Berlangsung
Meski menjadi yang termuda, Atta mengaku tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan jemaah lain.
“Saya bisa bergaul dan siap membantu,” tambahnya.
Di balik kesiapan tersebut, terselip momen emosional yang tak terlupakan. Sebelum berangkat, Atta bersama ibunya berziarah ke makam sang ayah. Mereka berpamitan, menyampaikan bahwa perjalanan yang dulu direncanakan bersama tetap akan dilanjutkan.
Sang ibu, May Syaroh, juga menyimpan kenangan yang membekas. Ia pernah bermimpi bertemu almarhum suaminya dalam balutan pakaian indah.
“Dalam mimpi itu, beliau berpesan agar beliau saja yang pergi,” tuturnya.
Kini kenyataan berkata sebaliknya. Justru May dan Atta yang berangkat ke Tanah Suci, membawa doa, kenangan, dan rindu yang tak pernah usai.
Di usia yang masih sangat muda, Atta memegang satu pelajaran penting: janji, sekecil apa pun, tetap harus ditunaikan. Bahkan ketika orang yang memberi amanah telah tiada.
Editor : Aditya Novrian