Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Taufik Ferdiansyah, Guru Honorer yang Tempuh Jarak 150 Km untuk Mengajar

Nahdiatul Affandiah • Senin, 11 Mei 2026 | 15:42 WIB
PENGABDIAN: Taufik Ferdiansyah bersama murid-muridnya SMP 1 Wajak, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.
PENGABDIAN: Taufik Ferdiansyah bersama murid-muridnya SMP 1 Wajak, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

 

Jarak tak menghalangi semangat Taufik Ferdiansyah untuk mengamalkan ilmunya. Hampir tiap hari menempuh perjalanan 150 km untuk mengajar di SMPN 1 Wajak, padahal gajinya pas-pasan. Kebutuhan rumah tangga terpaksa mengandalkan pendapatan istri.

 

NAHDIATUL AFFANDIAH

LANGIT masih gelap ketika Taufik Ferdiansyah memulai harinya. Arah jarum jam menunjukkan pukul 04.00 saat guru honorer itu bersiap berangkat kerja. Seusai menunaikan salat subuh, dia bergegas keluar rumahnya di Gempol, Pasuruan, lalu berjalan cepat menuju tepi jalan untuk mengejar bus pertama menuju Malang.

Dengan tiket Rp 13 ribu di tangan, Taufik memulai perjalanan panjangnya menuju SMPN 1 Wajak, Kabupaten Malang, tempat dia mengabdikan diri sebagai guru. Hampir setiap hari, pria 25 tahun itu harus menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 150 kilometer demi mencerdaskan anak bangsa.

Sekitar pukul 05.30, Taufik tiba di Terminal Arjosari, Kota Malang. Dari sana, perjalanan belum selesai. Dia masih harus berjalan menuju parkiran, membayar Rp 4 ribu untuk penitipan kendaraan, lalu melanjutkan perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor menuju sekolah.

Rutinitas itu dijalaninya hingga empat kali dalam sepekan. Semua dilakukan karena dia tak ingin terlalu lama jauh dari istri dan anak pertamanya yang baru berusia tujuh bulan. Padahal, rumah orang tuanya di Poncokusumo sebenarnya jauh lebih dekat dengan lokasi sekolah.

“Sekali perjalanan bisa habis sampai Rp 75 ribu untuk tiket bus, bensin, dan sarapan Rp 15 ribu,” ujarnya saat dihubungi wartawan koran ini.

Ironisnya, pengorbanan sejauh itu tidak sebanding dengan pendapatan yang diterimanya. Gaji Taufik sebagai guru honorer hanya Rp 900 ribu sebulan. Ditambah tunjangan wali kelas serta uang kehadiran, dia hanya membawa pulang Rp 1,5 juta.

Jika dihitung, penghasilannya nyaris habis hanya untuk ongkos perjalanan mengajar.

Jika hanya mengandalkan gajinya sebagai guru honorer, kebutuhan rumah tangga Taufik tidak akan tercukupi. Terlebih kini dia sudah memiliki buah hati, sehingga kebutuhan akan terus bertambah. Untuk sementara, keuangan keluarga mereka lebih banyak ditopang dari penghasilan sang istri yang juga bekerja sebagai guru honorer di Pasuruan.

Sebelum menikah pada 2024 lalu, Taufik sempat berjualan jaket sebagai pekerjaan sampingan. Saat itu dia belum menjalani perjalanan Gempol–Wajak setiap hari. Namun setelah berkeluarga, waktu dan tenaganya semakin tersita. Akhir pekan yang dulu dipakai berdagang kini lebih sering dihabiskan untuk menjaga anak semata wayangnya.

Saat libur sekolah tiba, profesinya berganti. Taufik mengenakan jaket ojek online untuk menambah pemasukan. Dunia kerja keras sebenarnya sudah akrab dengannya sejak kuliah di UIN Jember. Selain menjadi driver Ojol, dia pernah berjualan takjil saat Ramadan hingga menjadi kuli bangunan di Bali ketika masa libur kuliah datang.

Meski hidupnya terus diburu perjalanan panjang dan kebutuhan ekonomi, Taufik tak pernah benar-benar berpikir meninggalkan profesi guru. Baginya, mengajar adalah panggilan jiwa.

Dia mengaku paling bahagia saat melihat mata murid-muridnya berbinar ketika mulai memahami materi pelajaran yang dijelaskan di depan kelas. Momen sederhana itu menjadi tenaga tambahan yang membuatnya tetap bertahan, meski tubuhnya kerap dipaksa melawan lelah dan kantuk setiap hari. Apalagi sepulang mengajar, dia masih harus bergadang membantu sang istri merawat anak mereka yang masih bayi.

Di tengah perjalanan menuju sekolah, Taufik sering memperhatikan sesama penumpang bus yang sama-sama berjuang mencari nafkah. Ada pekerja laki-laki, perempuan, orang tua, hingga anak muda yang menahan kantuk demi sampai ke tempat kerja tepat waktu.

Perasaan tidak berjuang sendirian itu diam-diam menjadi penyemangat Taufik. Dari sana, dia belajar tetap tersenyum dan ceria ketika mengajar murid-muridnya sejak pagi hingga siang hari.

Namun di balik pengabdiannya selama empat tahun terakhir, Taufik masih harus menelan kenyataan pahit. Namanya belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga dia belum bisa memperoleh Tunjangan Profesi Guru (TPG). Formasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pun belum tersedia baginya.

“Jalan satu-satunya ikut CPNS, tapi rasanya seperti empat tahun mengajar tidak ada artinya kalau diangkat menjadi PNS saja dipersulit,” ungkap guru Pendidikan Agama Islam (PAI) itu.

Dia sedih ketika melihat teman-teman seusianya sudah lulus PPG, sementara dirinya masih harus menunggu peluang yang belum tentu datang. Taufik berharap guru honorer lain tidak mengalami perjuangan jarak sejauh dirinya. Dia juga meminta pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan guru honorer yang selama ini kerap dihadapkan pada ketimpangan antara pengabdian dan penghasilan.

Di tengah wacana penghapusan tenaga honorer pada Januari 2027 nanti, ayah satu anak itu menyimpan kecemasan tersendiri. Sebab di pundaknya kini ada masa depan keluarga yang harus terus diperjuangkan.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Taufik kembali menaiki bus yang sama. Membawa harapan sederhana. Yaitu tetap bisa mengajar. Tetap bisa pulang, dan tetap mampu menghidupi keluarganya dari profesi yang dicintainya. (*/dan)

 

Editor : Mahmudan
#Guru pengabdi #guru honorer #Pendidikan Malang