RADAR MALANG - Di balik limbah pertanian yang sering dianggap tidak bernilai, Rosalina Ariesta Laeliocattleya justru menemukan potensi besar. Selama sebelas tahun, dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya itu meneliti rambut jagung hingga akhirnya berhasil mengubahnya menjadi sunscreen dengan perlindungan SPF 50.
Perjalanan panjang tersebut dimulai sejak 2013. Saat itu, perempuan yang akrab disapa Oca tersebut mulai mencoba berbagai bagian tanaman jagung untuk mencari kandungan alami yang mampu menangkal paparan sinar ultraviolet.
Berawal dari Rasa Penasaran pada Limbah Jagung
Di laboratorium, Oca tidak langsung menemukan jawaban. Penelitian berjalan perlahan dan penuh percobaan. Mulai tongkol jagung hingga rambut jagung diuji satu per satu untuk mengetahui kandungan terbaik sebagai bahan tabir surya alami.
“Awalnya kami mencoba beberapa bagian jagung untuk melihat mana yang paling efektif menangkal sinar ultraviolet,” ujarnya.
Dari berbagai percobaan, rambut jagung justru menunjukkan hasil paling menjanjikan. Bagian yang biasanya dibuang setelah panen itu ternyata mengandung flavonoid, fenol, dan pigmen alami yang cukup tinggi.
Baca Juga: Kisah Taufik Ferdiansyah, Guru Honorer yang Tempuh Jarak 150 Km untuk Mengajar
Kandungan tersebut dikenal mampu membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet penyebab kerusakan kulit.
Temuan itu membuat Oca semakin yakin melanjutkan penelitian. Selain mudah ditemukan di Indonesia, khususnya Jawa Timur, pemanfaatan rambut jagung selama ini juga masih sangat minim.
Berkali-kali Gagal sebelum Temukan Formula Tepat
Perjalanan penelitian tidak berjalan singkat. Selama bertahun-tahun, Oca bersama tim terus melakukan ekstraksi, pengujian laboratorium, hingga mencoba berbagai komposisi formula.
Baca Juga: Cedera hingga Panas 38 Derajat Tak Hentikan Daniel dan Aqilah Ukir Prestasi di Pakistan
Ada formula yang gagal karena teksturnya tidak stabil. Ada pula yang belum mampu memberikan perlindungan optimal terhadap sinar matahari.
“Prosesnya rambut jagung diekstrak atau diambil sarinya. Kemudian ditambah cairan pelarut, ada beberapa sampel lalu dipilih yang paling efektif,” terang dosen Ilmu Pangan dan Teknologi FTAB UB tersebut.
Setelah hampir sepuluh tahun penelitian, titik terang akhirnya muncul pada 2023. Tim berhasil menemukan formula sunscreen dengan kandungan SPF 35.
SPF atau Sun Protection Factor merupakan ukuran kemampuan tabir surya dalam melindungi kulit dari sinar ultraviolet. Angka SPF 35 tergolong cukup tinggi karena mampu memblokir sebagian besar paparan sinar UV.
Dukungan Industri Bikin Penelitian Makin Berkembang
Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan kepada sejumlah pihak industri. Salah satu yang tertarik adalah PT Cedefindo, anak perusahaan Martha Tilaar Group.
“Kami presentasi bulan Maret 2024 dan mereka langsung tertarik,” kata Oca.
Baca Juga: Direktur RS UMM Prof Djoni Djunaedi Setia Kliping Berita, Tiap Pagi Tiga Koran Tak Pernah Absen
Ketertarikan itu muncul karena konsep sunscreen berbahan rambut jagung dinilai sejalan dengan pengembangan kosmetik alami berbasis bahan lokal Indonesia.
Meski telah mendapat dukungan industri, penelitian tetap dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas perlindungan produk.
Formula Baru Berhasil Tembus SPF 50
Penelitian tambahan dilakukan bersama Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi UB selama kurang lebih delapan bulan.
Dalam proses tersebut, ekstrak rambut jagung dikombinasikan dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil.
Baca Juga: Jejak Pasar Dinoyo yang Pernah Menjadi Pusat Transportasi Malang Barat
Hasilnya, formula baru mampu meningkatkan perlindungan sunscreen hingga mencapai SPF 50.
“Untuk menghasilkan angka SPF 50 kami kerja sama penelitian dengan pihak lain dari DIKST UB,” tutur perempuan kelahiran 1987 tersebut.
SPF 50 termasuk tingkat perlindungan tinggi yang umum digunakan untuk aktivitas luar ruangan dengan intensitas paparan matahari besar.
Kini Sudah Diproduksi dan Dipasarkan
Setelah formula final ditemukan, tantangan berikutnya adalah pengurusan legalitas produk seperti sertifikasi halal dan izin BPOM.
Proses tersebut mulai dilakukan pada awal 2025 dan memerlukan berbagai tahapan pengujian keamanan maupun kualitas produk.
“Alhamdulillah beres sebelum akhir tahun lalu,” ungkap perempuan asli Mataram tersebut.
Baca Juga: Update Kondisi Fullback Arema FC Achmad Maulana Dapat Pemantauan Khusus Selama Gabung Tim
Kini sunscreen berbahan rambut jagung itu telah diproduksi massal dengan nama Hi-To-Go Sun Protector. Produk dibuat dalam bentuk spray agar lebih praktis digunakan, terutama untuk anak-anak.
Sekitar 1.000 produk sudah dipasarkan melalui toko daring maupun gerai di Transmart Malang.
Bagi Oca, penelitian tersebut bukan akhir perjalanan. Ia meyakini rambut jagung masih memiliki banyak potensi lain untuk dikembangkan di masa depan.
“Ke depannya, produk berbasis rambut jagung juga diarahkan pada inovasi lain seperti minuman herbal hingga potensi antikanker,” pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian