RADAR MALANG – Jamu tradisional kini dikemas lebih praktis dan modern oleh pasangan suami istri asal Kota Malang, Guntur Purwadi dan Wilda Yustisia Syarifah. Lewat usaha bernama Kantong Jamu, mereka menghadirkan minuman herbal dalam bentuk tea bag atau teh celup agar lebih mudah dinikmati generasi muda.
Berawal dari eksperimen sederhana pada 2025, usaha tersebut kini mampu memproduksi sekitar 5.000 kantong jamu setiap bulan. Produk mereka bahkan mulai dikenal di berbagai daerah dan kerap menjadi sponsor kegiatan olahraga hingga wellness seperti yoga.
Baca Juga: Jejak Trem Uap di Turen yang Hilang Ditelan Zaman, Dulu Jadi Jalur Vital Angkut Singkong
Dikemas Modern agar Jamu Lebih Mudah Diterima Anak Muda
Di rumah produksinya di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Guntur dan Wilda mengolah berbagai tanaman herbal menjadi minuman praktis siap seduh.
Tidak lagi identik dengan rasa pahit dan aroma rempah yang terlalu kuat, jamu buatan mereka diracik dengan kombinasi buah, bunga, dan rempah agar terasa lebih ringan.
“Waktu itu kami membuat serai kering dimasukkan ke dalam tea bag. Isinya cuma serai saja, tapi rasanya hambar,” ujar Guntur sambil tertawa.
Dari percobaan itu, keduanya mulai melakukan riset berbagai bahan herbal. Sekitar 110 jenis bahan sempat diuji untuk menemukan komposisi rasa yang cocok di lidah anak muda.
Kini, mereka memiliki tiga varian utama. Yakni yellow helow berbahan jahe, kunyit, lemon, dan serai. Kemudian simple purple dengan campuran nanas, serai, lemon, bunga telang, dan lavender. Serta reddish wish yang berisi rosella, peppermint, bunga telang, lemon, kayu manis, dan kuncup bunga apel.
“Pemilihan namanya berdasar warna. Kami juga sudah menguji jamu ini ke kalangan yang tidak suka jamu, alhamdulillah cocok,” tutur pria 32 tahun tersebut.
Baca Juga: Daftar Klub Lolos Club Licensing 2025/2026: Arema FC Masuk Kategori Granted with Sanctions
Proses Produksi Tetap Manual dan Gunakan Bahan Aman
Meski tampil modern, proses produksi Kantong Jamu sebagian besar masih dilakukan secara manual. Pemotongan bahan herbal dikerjakan dengan tangan untuk memberdayakan warga sekitar.
Namun untuk menjaga kualitas, mereka menggunakan mesin pengering bersuhu rendah sekitar 55 hingga 70 derajat Celsius agar kandungan nutrisi dan aroma alami tanaman tidak rusak.
“Semua proses kami lakukan manual, terutama pemotongan bahan-bahannya supaya bisa memberdayakan tetangga sekitar,” kata Guntur.
Selain bahan baku, pasangan tersebut juga cukup detail menentukan jenis tea bag yang dipakai. Mereka memilih kantong berbahan food grade nilon setelah memastikan aman digunakan dalam air panas.
“Kami memastikan titik leburnya 200 derajat Celsius. Jadi kalau dipanaskan di suhu 100 derajat Celsius tidak ada kontaminasi mikroplastik,” jelasnya.
Baca Juga: Konsumsi Miras di Ruang Publik, Enam Remaja di Malang Jalani Sidang Tipiring
Dipasarkan Online hingga Jadi Teman Aktivitas Wellness
Saat ini, kapasitas produksi Kantong Jamu mencapai sekitar 300 kantong per hari. Sebagian besar produk dipasarkan melalui marketplace dan pengiriman ke berbagai kota di Indonesia.
Cara penyajiannya juga dibuat sederhana. Satu kantong jamu cukup diseduh menggunakan air panas layaknya teh celup biasa.
Menurut Guntur, minuman tersebut bisa langsung diminum tanpa gula karena rasa herbalnya sudah dibuat lebih ringan dan segar. Namun tetap cocok dipadukan dengan madu maupun gula bagi yang menyukai rasa manis.
Mereka bahkan punya cara khusus menikmati jamu dingin. Yakni menyimpannya terlebih dahulu di dalam kulkas tanpa menambahkan es batu agar cita rasa herbal tetap terjaga.