Juney Hanafi, Pria Asal Malang Meraih Juara Setelah Mengayuh Sepeda Sejauh 1.000 Kilometer di Flores

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 18 Mei 2026 | 18:00 WIB
Juney Hanafi Menjuarai Lintang Flores 2026
Juney Hanafi Menjuarai Lintang Flores 2026

 

Di bawah bentangan langit Flores yang membakar hingga 48 derajat celsius, Juned menempuh jarak sejauh 1.000 kilometer. Terus mengayuh dan hanya tidur satu jam dalam sehari.

 ANDIKA SATRIA PERDANA

SISA debu dari tanah Flores masih menempel di sepeda hitam yang disandarkan Juney Hanafi. Di sepanjang rangka hingga setangnya, gurat-gurat goresan halus menjadi saksi bisu perjuangannya menaklukkan Lintang Flores 2026.

Langkah awal berayun pada 26 April 2026. Pria yang karib disapa Juned itu bertolak dari Malang, mengayuh sepedanya menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari sana, ia memilih naik kapal laut menuju Labuan Bajo, titik mula Lintang Flores 2026. Pilihan jatuh pada jalur laut murni demi menekan ongkos.

Andai berangkat dengan pesawat, ia harus merogoh kocek lebih dalam. Selain tiket yang bertengger di atas Rp 1 juta, Juned wajib membayar bagasi ekstra untuk sepedanya. Tarifnya mencapai Rp 200 ribu. Ia menghabiskan waktu dua hari mengarungi lautan, hingga akhirnya tiba di dermaga Labuan Bajo pada 28 April 2026.

Juned sengaja menginjakkan kaki lebih awal demi menjinakkan hawa Flores. Di sana, sang surya membakar bumi dengan suhu ekstrem yang kontras dengan sejuknya Kota Malang. Suhu tertinggi yang sempat menyengat kulitnya menyentuh angka 48 derajat Celsius. Beruntung, "neraka" kecil itu sudah diantisipasi oleh Juned.

Sebulan sebelum berangkat, pria 32 tahun ini getol menempa fisiknya di kawasan bersuhu pekat. Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung yang suhunya kerap berkisar 42 derajat Celsius dipilih menjadi kawah candradimuka.

”Tantangan pertama yang langsung menghadang saya memang cuaca yang sangat panas,” ujar dia ditemui di sebuah bengkel sepeda kawasan Klojen, Sabtu (16/5).

Petualangan sejauh 1.000 kilometer itu dimulai pada Minggu pagi (3/5). Ketika fajar mulai merangkak naik tepat pukul 06.00, Juned bersama 38 pesepeda tangguh lainnya mengayuh sepeda dari halaman Hotel Taaktana, Labuan Bajo.

"Seharusnya ada 50 peserta yang mendaftar, tapi 12 orang absen," tutur Juned.

Menyusuri ujung barat Pulau Flores, dari garis start menuju Check Point (CP) pertama, roda sepeda Juned melahap rute sisi selatan. Jalur itu memaksanya melintasi bentang alam yang memisahkan Ruteng, Bajawa, hingga Ende. Namun belum genap satu hari roda berputar, ujian pertama datang menyergap.

Tepat di kilometer 57, Juned terempas ke aspal setelah gagal menjinakkan medan. Ketika menikung tajam dengan kecepatan tinggi, haluan sepedanya terlalu sempit. Celakanya, hamparan pasir halus di sudut jalan membuat cengkeraman remnya kehilangan daya. Pria asal Pakis, Kabupaten Malang itu pun jatuh tersungkur.

Beruntung, petaka tidak berakibat fatal. Tubuhnya hanya dihiasi beberapa luka lecet, meski tangan kanannya mulai berdenyut dan membengkak. Sepeda hitamnya pun hanya mengalami baret-baret ringan tanpa kerusakan masif.

"Sejak jatuh itu, saya lebih mawas diri. Pelan-pelan mencari ritme gowes lagi. Saya baru benar-benar merasa nyaman setelah melewati kilometer 100," ungkapnya.

Serupa dengan ajang Bentang Jawa, Lintang Flores mengusung konsep un-support. Artinya, panitia sama sekali tidak menyediakan fasilitas apa pun bagi peserta, kecuali meja registrasi di tiap Check Point. Urusan mengisi perut hingga mencari tempat memejamkan mata sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta secara mandiri. Juned harus pintar-pintar mencuri waktu untuk tidur di sembarang tempat.

Sesi istirahat pertamanya dihabiskan di sebuah kantor polisi. Di sana, ia sempat mereguk tidur yang cukup, yakni tiga jam penuh. Namun setelah itu, demi memburu waktu, Juned memangkas jatah tidurnya secara ekstrem, maksimal hanya 1 hingga 2 jam saja. Jika ditotal secara keseluruhan termasuk waktu makan, ia hanya berhenti selama 4 jam.

"Jadi polanya, 20 jam saya terus mengayuh di atas sadel, 4 jam sisa waktu yang benar-benar dipakai untuk istirahat," kata pria yang juga karib dengan dunia pendakian gunung tersebut.

Juned akhirnya menyentuh CP Lintang Flores di Kota Maumere pada Selasa (5/5). Wilayah ini menandai ujung paling timur Pulau Flores. Saat mendaftarkan di pos tersebut, posisinya masih tertahan di urutan keenam. Di titik ini, bayangan untuk menggondol trofi juara bahkan tak pernah melintas di benaknya. Seusai melintasi Maumere, rute memaksa para peserta berbalik arah, memutari sisi utara untuk kembali ke Labuan Bajo.

Dewi fortuna mulai menaungi Juned pada 500 kilometer paro kedua. Perjalanannya relatif mulus tanpa kendala teknis yang berarti. Satu-satunya lawan tangguh hanyalah sengatan terik matahari yang membakar di kala siang, yang kemudian berubah drastis menjadi tusukan suhu dingin menusuk tulang saat malam tiba.

"Di Flores, jarak dari satu desa ke desa berikutnya sangat jauh. Kalau malam suasananya sepi senyap, hampir tidak pernah berpapasan dengan orang," urai Juned.

Kilometer demi kilometer terus dikikis oleh kayuhan kaki Juned, hingga perlahan namun pasti, ia berhasil membalap peserta yang berada di urutan terdepan. Keputusannya memangkas waktu tidur menjadi kunci utama meraih podium tertinggi. Di saat peserta lain memilih memejamkan mata selama tiga hingga empat jam, Juned langsung tancap gas setelah tidur selama satu jam saja.

Tabungan waktu dua hingga tiga jam itulah yang dikonversi menjadi jarak puluhan kilometer di depan rival-rivalnya. Hingga Rabu (6/5) sekitar pukul 12.00, Juned akhirnya menyentuh garis finish pertama. Tanpa ekspektasi muluk sejak awal, kerja keras dan keteguhan mentalnya justru berhasil membawa pulang prestasi membanggakan ke Bumi Arema.

Pencapaian ini menjadi sebuah lompatan raksasa bagi seorang pria yang baru menceburkan diri ke dunia ultra cycling pada 2024 lalu. Setelah sebelumnya hanya mampu bertengger di peringkat ke-50 pada ajang Bentang Jawa 2025, Juned kini sukses menjinakkan 38 peserta lain di Lintang Flores 2026.

"Selisih waktu saya dengan juara dua dari Jakarta sekitar satu jam, sedangkan dengan posisi ketiga, terpaut dua jam," kata dia sembari tersenyum. (*/dan)

 

Editor : Mahmudan
Atlet sepeda Kota Malang Juara Sepeda Sosok Kota Malang