Fasih Bahasa Inggris dari Sesame Street, Guide Asal Tumpang Jadi Langganan Pendaki Mancanegara ke Semeru

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 17:52 WIB
Choirul Rizal memandu pendaki asal Prancis di Gunung Welirang.(Dokumen Choirul Rizal)
Choirul Rizal (tengah) memandu pendaki asal Prancis di Gunung Welirang.(Dokumen Choirul Rizal)

RADAR MALANG - Langit Ranupani masih gelap saat Choirul Rizal memeriksa satu per satu perlengkapan pendakian milik tamunya. Carrier tersandar di tanah. Udara dingin menusuk lereng Semeru dini hari itu. Di antara para pendaki, seorang pria tua asal Jepang berdiri tenang sambil membetulkan jaketnya.

Usianya 85 tahun.

Pagi itu, pria lansia tersebut bersiap menuju Mahameru bersama Rizal, guide asal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, yang selama belasan tahun menjadi langganan wisatawan mancanegara pendaki Gunung Semeru.

Bagi Rizal, gunung bukan sekadar tempat bekerja. Semeru sudah menjadi bagian hidupnya sejak muda. Pria berkacamata itu mulai gemar mendaki pada 1995. Gunung Semeru menjadi gunung pertama yang dia taklukkan sebelum akhirnya serius menjadi guide pendakian sejak 2008.

Di komunitas Tumpang Camp Adventure (TCA), Rizal dikenal sebagai satu-satunya guide yang fasih berbahasa Inggris. Kemampuan itulah yang membuatnya kerap dipercaya mendampingi wisatawan asing, terutama pendaki asal Eropa.

Baca Juga: Kopi, Lupus, dan Perjuangan Muhammad Nabiel Bertahan Hidup lewat Kedai Maeda

Menariknya, kemampuan bahasa Inggris Rizal ternyata bukan berasal dari kursus mahal atau pendidikan luar negeri. Dia justru belajar secara otodidak dari serial televisi anak-anak Sesame Street.

“Dulu saya bisa Bahasa Inggris karena serial Sesame Street. Meskipun sudah bisa, awal memandu pendaki asing tetap canggung,” ujar Rizal saat ditemui di Basecamp TCA di Jalan Raya Tumpang-Gubugklakah.

Baca Juga: Sediakan Tempat Perisirahatan Gratis, Pemuda Tumpang Malang Ini Menampung 10.000 Lebih Pendaki Lokal dan Mancanegara

Awal mula Rizal menjadi guide wisatawan asing pun terjadi tanpa rencana. Sekitar tiga tahun setelah menjadi guide lokal, seorang teman menawarkan tamu mancanegara yang ingin mendaki Semeru. Saat itu dia sempat gugup. Bukan karena medan gunung, melainkan soal komunikasi.

Beruntung, tamu asing pertamanya yang berasal dari Rusia cukup lancar berbahasa Inggris. Percakapan berjalan nyaman sepanjang perjalanan. Dari pengalaman itulah, nama Rizal mulai dikenal di kalangan pendaki asing dari mulut ke mulut.

Alumnus ITN Malang tersebut kemudian serius mempromosikan jasanya. Dia membagikan brosur ke hotel-hotel dan mengirim email ke sejumlah agen perjalanan di Perancis, Singapura, hingga Malaysia.

Kini mayoritas tamunya berasal dari Eropa seperti Perancis, Austria, dan Jerman. Menurut Rizal, wisatawan Eropa memang memiliki budaya mendaki gunung yang cukup kuat.

“Beberapa orang Eropa memiliki budaya untuk naik gunung, terutama orang Prancis dan Austria. Makanya mereka sampai ke Indonesia,” katanya.

Gunung-gunung di Indonesia, terutama Semeru, dianggap menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan asing karena memiliki gunung berapi aktif. Pemandangan seperti itu sulit mereka temukan di negara asalnya.

Baca Juga: Juney Hanafi, Pria Asal Malang Meraih Juara Setelah Mengayuh Sepeda Sejauh 1.000 Kilometer di Flores

Selain wisatawan Eropa, Rizal juga pernah mendampingi pendaki dari Jepang, China, India, Malaysia, Singapura, hingga berbagai negara lain. Dari sekian banyak karakter pendaki, dia paling nyaman mendampingi wisatawan Eropa karena dikenal disiplin dan menghargai aturan perjalanan.

Sebaliknya, pengalaman paling melelahkan justru datang dari sebagian pendaki asal India.

“Mereka merasa sudah bayar guide jadi bisa semaunya sendiri,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Dari ratusan perjalanan yang pernah dilalui, pengalaman paling membekas baginya adalah ketika mendampingi pendaki Jepang berusia 85 tahun pada 2018 lalu.

Saat pertama bertemu, Rizal sempat khawatir. Sebab jalur menuju Mahameru bukan medan ringan. Dari Kalimati menuju puncak saja biasanya membutuhkan waktu empat hingga tujuh jam perjalanan.

Namun pria lansia asal Jepang itu tetap bersikeras melakukan summit.

“Rambutnya sudah putih tetapi dia tetap kuat berjalan sampai puncak. Memang sedikit lambat, tapi tidak capek,” terang Rizal.

Pendakian dimulai sekitar pukul 01.00 WIB. Langkah pendaki tua tersebut memang pelan, tetapi stabil. Rizal akhirnya tiba di puncak Mahameru bersama tamunya sekitar pukul 12 siang. Hampir 12 jam perjalanan ditempuh dari Kalimati menuju puncak.

“Beliau bilangnya kunci bisa kuat, karena terbiasa makan ikan mentah atau direbus,” ungkapnya.

Selain pengalaman mengesankan, Rizal juga pernah menghadapi situasi menegangkan di jalur Semeru. Pada 2016, seorang pendaki mendadak muntah darah sesampainya di Kalimati.

Setelah ditelusuri, ternyata pendaki tersebut baru menjalani operasi perut sebelum mendaki.

Baca Juga: Hilang Dua Hari, Lansia Asal Wagir Malang Ditemukan Tewas di Sumur Tua, Ada Indikasi Pembunuhan?

“Saat itu saya berpikir sepertinya orang ini tidak akan selamat,” katanya.

Pendaki itu akhirnya dilarang melanjutkan summit dan diminta beristirahat di tenda. Beruntung, keesokan harinya kondisinya membaik dan berhasil turun dengan selamat menuju basecamp.

“Kalimati itu jauh di dalam kawasan, sehingga kami hanya bisa pasrah. Beruntung dia selamat,” imbuh Rizal.

Sayangnya, perjalanan Rizal mengantar wisatawan asing menuju Mahameru harus terhenti sejak 2019. Aktivitas summit Semeru ditutup karena faktor keselamatan dan meningkatnya aktivitas vulkanik.

Kini pendakian hanya diperbolehkan sampai Ranu Kumbolo. Banyak wisatawan asing akhirnya mengalihkan tujuan ke Gunung Arjuno-Welirang maupun perjalanan overland ke sejumlah destinasi wisata di Jawa Timur.

“Selain itu saya juga mengantar overland. Dari Bromo, Tumpak Sewu, sampai Gunung Ijen,” pungkasnya.

Editor : Aditya Novrian
Choirul Rizal guide Semeru pendaki mancanegara Semeru Tumpang Camp Adventure Pendakian gunung semeru