Riuh klakson bus, teriakan kernet, dan langkah para pedagang pernah menyatu di jantung Pecinan Kota Malang. Dari kawasan itulah denyut kota berputar. Namun terminal bus pertama di Kota Malang itu perlahan lenyap, terkubur perkembangan zaman hanya sekitar satu setengah dekade setelah Indonesia merdeka.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
DENYUT kehidupan Kota Malang sejak lama berpusat di kawasan Pasar Besar, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen. Jauh sebelum pusat-pusat perdagangan modern bermunculan, kawasan itu telah menjadi titik temu warga dari berbagai penjuru.
Bukan hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi gerbang kedatangan masyarakat luar kota yang mengadu nasib di Malang. Di sisi timur pasar itulah dahulu berdiri Terminal Pecinan. Terminal bus pertama di Kota Malang yang kini nyaris hilang dari ingatan.
Jejak Pasar Besar telah tercatat sejak pertengahan abad ke-19. Dalam buku Malang: Beeld Van Een Stad terungkap bahwa Pasar Besar sudah ada di kawasan yang kini masuk Kelurahan Sukoharjo, Klojen. Namun pada 1855, wujud pasar itu belum semegah sekarang. Bangunannya sederhana. Kalah mencolok dibanding gedung-gedung di sekitarnya. Meski begitu, pasar tersebut telah menjadi tempat utama warga memenuhi kebutuhan hidup.
Seiring perkembangan zaman, wajah Kota Malang berubah. Kawasan Pasar Besar hingga tepi Sungai Brantas makin padat oleh permukiman dan aktivitas perdagangan. Pada 1914, Pasar Besar resmi dibuka oleh pemerintah kolonial. Sebelumnya, pasar itu dikelola swasta. Dibangun oleh sejumlah pengusaha. Kemudian pada 1919 hingga 1920, bangunan pasar dibangun ulang untuk menyesuaikan geliat kota yang semakin sibuk.
“Tahun 1924, terjadi revitalisasi Pasar Besar oleh pemerintah. Bersamaan dengan itu dibangun juga Autobus Station yang kemudian dikenal sebagai Terminal Pecinan,” terang Hannu Ayodya Mamola, penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang.
Perlahan, transportasi umum di Malang bergeser. Trem uap milik Malang Stoomtram Maatschappij (MS) yang sempat mendominasi akhir abad ke-19 mulai digeser bus antarkota. Pada 1929 menjadi salah satu tonggak penting ketika bus Naamloze Vennotschap (NV) Adam mengaspal untuk rute Malang-Lawang hingga Pasuruan.
Tak lama berselang, hadir pula NV Batoe Omnibus Maatschappij (BOM) yang melayani trayek Malang-Batu.
“Semua bus melayani pemberangkatan dari Pasar Besar sebelah timur, dekat area Kidul Pasar,” imbuhnya.
Kala itu, perjalanan dengan bus menjadi pengalaman tersendiri bagi warga. Penumpang bisa bepergian ke Batu dengan tarif 35 gulden sekali jalan. Tersedia pula sistem abonemen bulanan dengan potongan harga 30 persen bagi pelanggan dewasa maupun pelajar.
Memasuki 1930-an, aktivitas Terminal Pecinan semakin ramai. Bus-bus dengan sasis Eropa dan Amerika seperti Chevrolet serta Ford mewarnai kawasan itu. Rutenya pun berkembang. Tak lagi sebatas wilayah Malang Raya, tetapi merambah Surabaya, Pasuruan, hingga Jember.
Keramaian tersebut mendorong pemerintah kolonial memperluas terminal pada 1937. Terminal Pecinan disulap lebih modern.
“Bangunan terminal mendapat perluasan. Saat itu 12 bus sekaligus bisa berteduh dari panas dan hujan. Trotoar diperlebar. Tersedia bangku tunggu penumpang, dan ada loket di tengah kanopi,” beber Ayodya.
Perbaikan itu dilakukan bersamaan dengan pembenahan Pasar Bunga atau Splendid serta Pasar Malam Pecinan. Anggaran yang digelontorkan mencapai 4.500 gulden.
Konsep terminal yang berdampingan dengan pasar memang lazim diterapkan pemerintah kolonial Belanda kala itu. Tujuannya sederhana. Yakni mempermudah distribusi komoditas dagang sekaligus mengangkut pedagang beserta barang bawaannya.
“Penumpang umum juga banyak. Makanya kawasan Pasar Besar tergolong ramai karena dua aktivitas itu,” lanjutnya.
Terminal Pecinan terus hidup melewati masa-masa pergantian zaman, termasuk setelah Hindia Belanda berubah menjadi Republik Indonesia. Namun umur terminal tersebut tidak panjang.
Sekitar satu setengah dekade setelah Indonesia merdeka, riuh kendaraan dan lalu-lalang penumpang perlahan menghilang dari kawasan tersebut. Pada 1955, Terminal Pecinan resmi ditutup setelah aktivitas transportasi dipindahkan ke Sawahan.
“Karena terminal itu pindah ke Sawahan,” kata Ayodya.
Kini, jejak terminal pertama Kota Malang itu nyaris tak tersisa. Kawasan Pasar Besar tetap hidup sebagai pusat perdagangan, tetapi kisah terminal yang pernah menjadi pintu masuk ribuan orang ke Kota Malang tenggelam di balik padatnya bangunan dan hiruk-pikuk kota modern.(*/dan)
Editor : Mahmudan