Enam bulan setelah banjir bandang menerjang Aceh, kondisinya belum pulih. Jalan masih putus dan listrik masih sempat padam berhari-hari. Di tengah kondisi yang serba terbatas, Dika, relawan asal Malang, memilih tetap bertahan menemani warga.
NABILA AMELIA
KONDISI di sejumlah kawasan Provinsi Aceh tidak jauh berbeda dengan saat Dika, sapaan Nehemia Mahardika Brilliandi, pertama kali datang. Sejak dilanda banjir bandang pada November 2025, kondisi pasca-banjir belum benar-benar pulih. Masih banyak infrastruktur yang porak poranda.
Secara kasat mata, baru 50 persen yang ditanggulangi. Terutama di tiga kawasan yang sempat disinggahi. Yakni Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Tengah.
”Setahu saya, ada dana dari pemerintah yang dikucurkan kepada setiap keluarga,” cerita Dika yang hingga kini masih bertahan di Aceh.
Sebagian rumah sudah dibangun kembali, tapi tidak jauh dari lokasi longsor dan banjir. Akibatnya, beberapa rumah yang sudah dibangun kemasukan air lagi. Di samping permukiman, infrastruktur publik juga masih perlu dikuatkan kembali. Terutama jalan dan jembatan.
”Untuk menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain, masih menggunakan jembatan dari kayu. Ini sangat membahayakan," sambung relawan yang bergabung dalam Ikatan Pencinta Keindahan Alam (IPKA) sejak 2014 itu.
Demikian pula jalan. Karena di beberapa kawasan masih rawan longsor, maka untuk mobil atau kendaraan besar harus melintas secara bergantian.
Kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih juga terlihat di Desa Serule, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Ia berada di sana untuk membantu warga setempat. Di Desa Serule, tempat Dika sekarang singgah, warga masih waspada. Sebab kondisi cuaca tidak menentu. Selain itu, akses jalan masih kerap terputus.
Sementara perbaikan terbatas karena alat berat yang bisa menuju ke arah desa hanya satu unit. Untuk menuju ke desa, perjalanan yang harus ditempuh dari kota sekitar 4 jam. Belum lagi kendala pasokan solar yang merupakan bahan bakar alat berat.
Beberapa waktu lalu, Desa Serule juga terdampak black out. Warga setempat merasakan kondisi listrik yang terbatas selama tiga hari. Hal itu disebabkan oleh tiang listrik yang roboh karena tertimpa angin kencang. Selama black out, aktivitas warga masih berjalan. Hanya malam hari terasa sepi. Sebab sinyal dan genset terbatas.
Di tengah kondisi yang tidak menentu, Dika melihat semangat warga untuk bangkit. Hatinya tergerak. Terlebih lagi perhatian masyarakat Indonesia saat ini tak lagi pada bencana di Aceh. Apalagi uluran tangan dari relawan-relawan semakin berkurang.
Dika bersama relawan-relawan yang masih ada seperti Gimbal Alas hingga Advokasi Gayo Lestari (AGL) membangun kemandirian masyarakat tangguh bencana.
”Saat nanti relawan dari luar sudah pulang. Relawan lokal membantu menjembatani jika ada donatur atau lembaga yang ingin memberikan donasi kepada masyarakat," tegasnya.
Perjuangan itu dilakukan Dika meski harus mengorbankan pekerjaannya di Kota Malang. Dika sebenarnya memiliki rutinitas sebagai pekerja freelance di biro perjalanan wisata yang dibentuknya. Namun selama enam bulan terakhir ini, bisnisnya terpaksa vakum.
Belum lagi dengan kegiatan di IPKA. Dika adalah Ketua Umum IPKA. Beruntung rekan-rekannya di organisasi bisa melaksanakan kegiatan secara mandiri. Keluarga juga mendukung penuh aktivitasnya di Aceh.
"Hanya saja, saya berencana kembali ke Kota Malang pada Juli mendatang," ucapnya.
Sebelum kembali ke Malang, Dika berupaya semaksimal mungkin membantu warga melakukan perbaikan. Seperti yang dilakukannya di Aceh Tamiang pada Desember 2025 sampai Januari lalu. Setelah dari Aceh Tamiang, Dika bersama para relawan lain juga membantu pemulihan di Aceh Timur pada Januari sampai Maret lalu.
Bentuk pemulihan yang dilakukan beragam. Mulai perbaikan saluran air, kamar mandi, tempat ibadah, logistik, trauma healing, pendampingan di posko, edukasi nonformal, hingga pembuatan rumah literasi.
Ia berharap masyarakat Indonesia masih menaruh perhatian terhadap kondisi Aceh, meskipun tidak ikut terjun ke lapangan langsung.
"Karena kita satu bangsa. Aceh saudara kita, sehingga perlu digandeng bersama untuk segera pulih. Di sisi lain, pemerintah perlu banyak melakukan evaluasi," pungkasnya. (*/dan)
Editor : Mahmudan