RADAR MALANG - Ketika sebagian besar pegawai berangkat kerja menggunakan sepeda motor atau mobil, Ahmad Sholeh memilih cara yang berbeda. Setiap pagi, ASN Pemerintah Kota Malang itu berlari dari rumahnya di kawasan Bandulan, Kecamatan Sukun, menuju Balai Kota Malang sejauh sekitar lima kilometer.
Rutinitas yang dijalani hampir setiap hari itu bukan sekadar cara menuju tempat kerja. Bagi pria berusia 53 tahun tersebut, jalanan Kota Malang telah berubah menjadi lintasan latihan yang mengantarkannya meraih salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya: menuntaskan lomba ultra marathon sejauh 100 kilometer.
Karena itu, sebelum pukul 06.00, yang dikenakan Ahmad Sholeh bukan seragam dinas. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Malang itu lebih dulu memakai pakaian olahraga dan sepatu lari. Seragam ASN baru dikenakannya setelah tiba di kantor.
Berangkat Kerja sekaligus Menjaga Kebugaran
Bagi Ahmad Sholeh, perjalanan menuju kantor merupakan bagian dari latihan yang sudah dijalani bertahun-tahun.
Kebiasaan tersebut bermula dari keinginannya menjaga kebugaran tubuh. Namun seiring waktu, jarak tempuh lari yang dijalani terus meningkat. Dari awalnya hanya beberapa kilometer, berkembang menjadi latihan 10 kilometer, 20 kilometer, hingga persiapan untuk lomba jarak jauh.
"Kalau berangkat kerja sambil lari, waktu latihan jadi lebih efektif karena sekalian menjalankan aktivitas harian," ujarnya.
Kini, rutinitas itu menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kesehariannya.
Menaklukkan Ultra Marathon di Usia 53 Tahun
Puncak dari latihan panjang tersebut terjadi pada Januari 2026 saat Ahmad Sholeh mengikuti Jatim Ultra Marathon yang menghubungkan Kota Malang dan Surabaya.
Ajang tersebut menempuh jarak resmi 100 kilometer dan dikenal sebagai salah satu lomba lari paling menantang di Jawa Timur.
Tidak semua pelari dapat mengikuti kompetisi tersebut. Panitia menerapkan proses seleksi untuk memastikan peserta memiliki kemampuan fisik dan pengalaman yang memadai.
Ahmad Sholeh berhasil lolos dan bersaing dengan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan lebih muda.
Namun tantangan terbesar justru muncul menjelang akhir perlombaan. Saat memasuki wilayah Surabaya, konsentrasinya sempat menurun akibat kelelahan.
Di sekitar Kebun Binatang Surabaya, ia salah mengambil jalur dan keluar dari rute lomba.
Akibatnya, jarak yang ditempuh bertambah sekitar 10 kilometer.
“Jatim Ultra Marathon menjadi event paling jauh bagi saya pada usia 53 tahun,” kenangnya.
Alih-alih menyelesaikan 100 kilometer, ia justru harus menuntaskan sekitar 110 kilometer sebelum akhirnya mencapai garis finis.
Latihan di Gunung untuk Hadapi Tanjakan
Untuk menjaga kondisi fisik, Ahmad Sholeh tidak hanya mengandalkan lari harian menuju kantor.
Ia juga rutin bersepeda dan berlatih di kawasan pegunungan untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat menghadapi lintasan berat.
Gunung Arjuno, Semeru, Bromo, hingga Butak pernah menjadi lokasi latihannya.
Medan dengan elevasi tinggi sengaja dipilih agar tubuh terbiasa menghadapi tanjakan panjang dan perubahan kontur lintasan saat mengikuti lomba.
“Lari tidak hanya soal fisik dan stamina. Tetapi juga pikiran. Kita harus yakin bisa sampai garis finis meskipun sudah capek,” katanya.
Koleksi 400 Medali Finisher
Konsistensi yang dijaga selama hampir satu dekade membuat Ahmad Sholeh mengoleksi sekitar 400 medali finisher dari berbagai ajang lari.
Selain itu, beberapa kali ia juga berhasil naik podium juara.
Baca Juga: Academy Arema FC Ingin Jadi Jembatan Pemain Muda ke Liga
Salah satu pengalaman yang paling diingat terjadi saat mengikuti lomba di Trenggalek. Saat berhasil menjadi juara pertama, hadiah yang diterimanya bukan trofi maupun uang pembinaan, melainkan seekor kambing.
“Karena kesulitan membawanya, akhirnya kambingnya saya jual,” ujarnya sambil tertawa.
Kini, setelah hampir tiga dekade mengabdi sebagai ASN dan dipercaya menjadi Ketua PASI Kota Malang, Ahmad Sholeh tetap setia menjaga rutinitas berlari menuju kantor setiap pagi.
Baginya, usia bukan alasan untuk berhenti bergerak. Sebab yang terpenting bukan seberapa cepat mencapai garis finis, melainkan bagaimana menjaga tubuh dan semangat agar terus melangkah setiap hari.
Editor : Aditya Novrian