Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Ayu Novitasari, Korban Pencurian Emas 220 Keping di Kota Batu: Semua Harta Dimaling, Kita Jatuh Miskin Ibu

Mahmudan • Senin, 15 Juni 2026 | 17:23 WIB

 

KORBAN PENCURIAN: Ayu Novitasari Menunjukkan foto kepingan emas yang digondol pencuri
KORBAN PENCURIAN: Ayu Novitasari Menunjukkan foto kepingan emas yang digondol pencuri

Saat menengadahkan doa untuk mendiang suami, Ayu Novitasari tak pernah membayangkan rumah yang menjadi tempat menyimpan harapan anak-anaknya justru dibobol pencuri. Sebanyak 220 keping logam mulia raib dalam semalam. Namun dari reruntuhan harapan itu, lahir tekad seorang ibu untuk memperjuangkan keadilan.

RAMIZARD RAFSANJANI

MENJELANG petang pada Jumat, 5 Februari lalu, langkah Ayu Novitasari mendadak terhenti di ambang pintu rumahnya. Di hadapannya, pemandangan yang tersaji seolah meruntuhkan seluruh ikhtiar yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan kerja keras, ketekunan, dan doa.

Dua kamar di rumahnya porak-poranda. Lemari terbuka lebar. Pakaian berserakan di lantai, sementara tiga brankas besi yang selama ini menjadi tempat menyimpan masa depan anak-anaknya telah lenyap tanpa jejak. Sebanyak 220 keping logam mulia yang tersimpan di dalamnya raib digondol pencuri. Jika ditotal, berat emas yang raib mencapai 50 gram.

Padahal sehari sebelumnya, Kamis siang, Ayu meninggalkan rumahnya di kawasan Kota Batu dengan hati yang penuh kekhusyukan. Ia menuju rumah mertuanya di kawasan Gadang, Kota Malang, untuk mengikuti tahlilan seribu hari wafatnya sang suami, Ahmad Hendra Prayitno.

Hari itu seharusnya menjadi ruang bagi Ayu untuk mengenang dan mendoakan lelaki yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Dalam balutan suasana religius, perempuan 36 tahun itu larut dalam doa-doa yang dipanjatkan demi ketenangan jiwa almarhum.

Namun di saat yang sama, tanpa sepengetahuannya, rumah yang ditinggalkan dalam keadaan kosong ternyata tengah menjadi sasaran para pelaku kejahatan. Sekitar pukul 20.00, dua orang pelaku, belakangan diketahui sebagai Rio Eko Wahyudi dan Hasan, diduga menyusup melalui pintu belakang rumah. Dengan leluasa mereka mengobrak-abrik setiap sudut ruangan untuk mencari barang berharga.

 Usai tahlilan malam itu, Ayu sebenarnya sempat diliputi perasaan tidak tenang. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan. Nalurinya mendorongnya untuk segera pulang dan memastikan kondisi rumah.

 Namun keluarga besar mendiang suaminya meminta ia menginap karena malam sudah larut. Ayu akhirnya mengurungkan niat pulang dan memilih bermalam bersama kedua anaknya di Gadang. Keputusan itulah yang kemudian menjadi salah satu penyesalan yang terus teringat dalam benaknya.

 Keesokan harinya, Jumat petang, Ayu kembali ke rumah. Kumandang azan Magrib yang menggema di langit Batu sempat menyambut kepulangannya. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Begitu pintu rumah terbuka, dunianya seakan runtuh.

 Di luar rumah, tetangganya, Wijiati, telah lebih dulu merasa ada yang tidak beres. Sejak pagi ia melihat pintu belakang rumah Ayu terbuka menganga. Kecurigaannya terbukti ketika Ayu mendapati isi rumahnya telah diacak-acak.

Malam itu menjadi titik paling kelam dalam hidupnya. Tiga brankas besi yang selama ini menyimpan berbagai harapan telah hilang. Masing-masing berisi tabungan pendidikan anak, modal usaha jual-beli emas, serta titipan logam mulia milik pelanggan.

Bagi Ayu, emas-emas tersebut bukan simbol kemewahan. Seluruhnya merupakan aset usaha yang diputar untuk menopang kehidupan keluarga sekaligus tabungan pendidikan kedua buah hatinya.

Sebagai seorang ibu yang harus melanjutkan hidup tanpa suami, logam mulia itu adalah benteng ekonomi yang ia bangun sedikit demi sedikit demi memastikan anak-anaknya tetap memiliki masa depan.

 Penderitaannya tak berhenti sampai di situ. Para pelaku juga membawa sebuah dompet tua peninggalan almarhum suaminya. Di dalamnya tersimpan uang tunai Rp 1,4 juta, termasuk selembar uang edisi khusus pecahan Rp 75 ribu yang selama ini disimpan sebagai kenang-kenangan.

Barang itu mungkin tak punya nilai secara materi, tetapi memiliki arti yang jauh lebih mahal bagi Ayu. Bahkan kotak kecil berisi uang sedekah Subuh yang rutin ia kumpulkan setiap pagi selama tujuh tahun terakhir pun tak luput dari tangan pencuri.

 Di tengah kepedihan itu, kalimat polos dari sang anak justru menjadi luka yang paling membekas. "Anak saya bilang, kita sudah jatuh Bu. Semua harta kita dicuri maling. Kita jatuh miskin, Ibu," kata Ayu menirukan ucapan anak sulungnya.

 Ucapan itu membuat pertahanan batin Ayu runtuh. Namun di saat bersamaan, kalimat tersebut juga membangkitkan kekuatan baru dalam dirinya. Malam itu juga Ayu mendatangi Polres Batu untuk membuat laporan resmi. Bersamaan dengan itu, ia menghubungi jaringan sesama pedagang emas di Malang Raya dan menyebarkan informasi mengenai ciri-ciri logam mulia yang hilang.

 Beberapa waktu kemudian, seorang pedagang emas bernama Andiranto mencurigai seorang pria yang datang menawarkan logam mulia seberat 5 gram dan 3 gram dengan ciri yang identik seperti informasi yang disebarkan Ayu.

Kecurigaan itu berkembang menjadi operasi penjebakan. Melalui koordinasi antara korban, jaringan pedagang emas, dan kepolisian, pelaku dipancing melakukan transaksi secara cash on delivery (COD) di depan sebuah minimarket di Kota Batu.

 Tanpa menyadari telah diawasi, kedua pelaku datang ke lokasi yang telah ditentukan. Saat itulah pelarian mereka berakhir. Rio dan Hasan langsung diamankan petugas kepolisian. Dari hasil penyelidikan, terungkap pula sebagian logam mulia hasil curian sempat digadaikan di Pegadaian Unit Batu dengan nilai sekitar Rp 24,6 juta melalui rekening seorang rekan mereka bernama Ian.

 Kini perkara pencurian dengan pemberatan tersebut telah bergulir ke Pengadilan Negeri (PN) Malang. Saat memberikan kesaksian di Ruang Garuda, luka batin Ayu tampak belum benar-benar sembuh. Suaranya bergetar ketika menceritakan tiga brankas yang menyimpan masa depan keluarganya lenyap dalam semalam.

 Bagi Ayu, perjuangan mengawal perkara ini bukan semata soal mengembalikan kerugian materi. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar seorang ibu untuk memperjuangkan keadilan, menjaga kehormatan keluarga, dan menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa kejahatan tidak boleh dibiarkan menang begitu saja.(*/dan)

Editor : Mahmudan
#Korban pencurian emas #malang hari ini #sosok inspriatif