Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dinilai Pelatih Berpengalaman Women's NBA, Mey Putri Diana Tembus DBL All-Star Terbang ke Amerika Serikat

Andika Satria Perdana • Selasa, 16 Juni 2026 | 17:33 WIB
TAK GENTAR: Mey Putri Diana memberikan arahan kepada pemain dalam DBL Camp pada April lalu. (Dokumen Mey Putri Diana)
TAK GENTAR: Mey Putri Diana memberikan arahan kepada pemain dalam DBL Camp pada April lalu. (Dokumen Mey Putri Diana)

RADAR MALANG - Tanggal 5 September 2025 menjadi salah satu momen yang sulit dilupakan Mey Putri Diana. Sore itu, pelatih basket asal Kota Malang tersebut berdiri di tepi lapangan memimpin tim putri SMAN 3 Kota Malang menghadapi SMA Kolese Santo Yusuf (Kosayu) pada semifinal DBL Jawa Timur.

Empat puluh menit pertandingan berlangsung sengit. Kedua tim silih berganti menekan. Namun saat peluit panjang berbunyi, tim yang diasuh Mey harus mengakui keunggulan Kosayu dengan skor 35-48.

Kekalahan itu menutup langkah SMAN 3 menuju final. Tetapi tanpa disadari, justru menjadi awal perjalanan terbesar dalam karier kepelatihannya.

Performa Mey selama kompetisi ternyata menarik perhatian tim penilai DBL. Meski gagal membawa timnya ke partai puncak, namanya masuk nominasi First Team dan Second Team Coach Jawa Timur. Penghargaan tersebut diberikan kepada pelatih terbaik selama kompetisi berlangsung.

Baca Juga: Truk Bertonase Besar Dilarang Melintas di Jalan Pasar Induk Gadang Selama Perbaikan, Arus Kendaraan Dialihkan Bertahap

Mey akhirnya terpilih sebagai Second Team Coach. Status itu menjadi tiket menuju DBL Camp, ajang seleksi nasional yang mempertemukan para pemain dan pelatih terbaik dari seluruh Indonesia untuk memperebutkan tempat di DBL All-Star 2026.

Tujuh bulan kemudian, perempuan kelahiran 1992 itu terbang ke Jakarta. Sejak 27 April hingga 3 Mei 2026, dia mengikuti rangkaian seleksi bersama 56 pelatih terbaik dari berbagai daerah.

Persaingan berlangsung ketat. Pada tahap awal, peserta harus melewati lima hari seleksi untuk memperebutkan 16 tiket ke fase berikutnya. Setelah itu, mereka kembali disaring selama dua hari untuk menentukan empat pelatih terbaik yang berhak bergabung dalam DBL All-Star 2026.

Dari puluhan nama tersebut, Mey menjadi satu-satunya pelatih perempuan yang berhasil lolos.

"Tesnya secara umum terbagi dua, psikotest dan cara menangani tim," ujarnya.

Penilai yang dilibatkan pun bukan sosok sembarangan. DBL menghadirkan juru taktik yang memiliki pengalaman di Women's NBA untuk menilai kemampuan para peserta.

Meski berhadapan dengan pelatih-pelatih terbaik Indonesia, Mey mengaku tidak mencoba menjadi orang lain. Dia hanya menjalankan apa yang selama ini menjadi kebiasaannya saat mendampingi tim.

Ketika mendapat kesempatan memimpin tim dalam sesi simulasi pertandingan, dia tampil apa adanya. Berdiri di pinggir lapangan, aktif memberikan instruksi, membangun komunikasi dengan pemain, sekaligus berdiskusi dengan staf pelatih.

"Kuncinya tetap tegas, tetapi harus pintar menempatkan diri. Komunikasi dengan asisten pelatih juga harus bagus," terangnya.

Perjalanan menuju titik tersebut tidak berlangsung mudah. Tahun 2025 menjadi musim pertamanya sebagai pelatih kepala di ajang DBL Jawa Timur. Sebelumnya, Mey lebih banyak mengasah kemampuan di level kampus maupun tim daerah.

Kariernya ditempa melalui berbagai pengalaman. Mulai menangani tim Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, tim basket Universitas Brawijaya, menjadi asisten pelatih PON Kalimantan Selatan, pelatih Porprov Kota Malang, hingga akhirnya dipercaya menangani tim putri SMAN 3 Kota Malang.

Baca Juga: Update Bursa Transfer Arema FC: Marcos Santos dan Andre Caldas Tetap Jadi Juru Taktik Singo Edan Musim 2026/2027

Menariknya, tim yang mengalahkannya di semifinal DBL 2025 justru menjadi tim yang kini diasuhnya. Mey saat ini dipercaya menangani SMA Kolese Santo Yusuf.

Baginya, kekalahan musim lalu menjadi pelajaran berharga yang tidak tergantikan.

"Tahun 2025 persiapannya masih tergolong kurang, sehingga hasilnya tidak maksimal," ungkapnya.

Sebagai pelatih kepala, tantangan terbesarnya justru bukan datang dari pertandingan. Dia harus menyusun program latihan yang menyesuaikan jadwal akademik para pemain yang sering berbenturan dengan agenda sekolah.

Situasi tersebut membuatnya belajar menyusun metode latihan yang lebih fleksibel tanpa mengurangi kualitas pembinaan.

"Evaluasi ke depan, program latihan harus menyesuaikan pemain. Volume latihan disesuaikan dengan kondisi mereka agar hasil latihan bisa terserap dengan efektif," jelas alumnus SMAN 8 Kota Malang tersebut.

Kini, tantangan baru sudah menanti. Pada 22 Juli mendatang, Mey bersama tiga pelatih dan 24 pemain terbaik Indonesia akan bertolak ke Amerika Serikat dalam program DBL All-Star 2026.

Selama delapan hari mereka akan menjalani pelatihan, mengunjungi berbagai fasilitas basket, serta melakoni pertandingan persahabatan melawan tim lokal.

Perjalanan yang bermula dari kekalahan di sebuah semifinal kini membawanya menuju panggung internasional. Bagi Mey Putri Diana, kegagalan ternyata bukan akhir sebuah cerita. Justru dari titik itulah kesempatan terbesar datang menghampiri.

Editor : Aditya Novrian
#mey putri diana #Amerika #dbl