RADAR MALANG – Delapan lokasi di Kota Malang dipilih menjadi latar video musik Hatchu milik Salma Salsabil. Dalam durasi hanya 3 menit 29 detik, video ini menampilkan beragam sudut kota untuk menghidupkan narasi tentang kehidupan kelas pekerja, mulai dari apartemen modern hingga pabrik tua yang penuh jejak industri.
Video musik ini menjadi penanda kembalinya Salma Salsabil setelah vakum sementara usai melahirkan. Dirilis dengan warna musik RnB dan hip hop, Hatchu telah ditonton lebih dari 1,8 juta kali di YouTube dan mendapat sorotan tidak hanya dari sisi musik, tetapi juga visual yang kuat menampilkan Kota Malang sebagai ruang cerita.
Delapan Lokasi Kota Malang Jadi Representasi Kehidupan Urban
Pemilihan delapan lokasi di Kota Malang bukan sekadar estetika visual, melainkan bagian dari narasi besar tentang kehidupan masyarakat urban dan kelas pekerja.
Beberapa lokasi yang digunakan antara lain Apartemen Begawan yang menggambarkan ritme kehidupan modern, kawasan heritage Kajoetangan yang merepresentasikan kota lama, hingga Pabrik Keramik Dinoyo serta area industri Realizm 87 yang memperkuat suasana kerja dan tekanan ekonomi dalam cerita lagu.
Baca Juga: Penantian Setahun Berakhir, Atlet Paralayang Kota Batu Galuh Ade Pristanto Rebut Emas IPAC 2025
Menurut sutradara Prialangga, lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setiap lokasi dipilih untuk memperkuat pesan lagu agar tidak hanya berpusat pada penyanyi, tetapi juga lingkungan sosial di sekitarnya.
“Setelah sempat vakum, Salma ingin tampil berbeda dengan musik RnB dan HipHop. Saya berpikir music video ini harus menampilkan skena,” ujarnya.
Produksi Libatkan 50 Talent dan Selesai dalam Dua Hari
Proses produksi video musik Hatchu melibatkan sekitar 50 orang talent dari berbagai latar belakang, mulai dari musisi, influencer, hingga penggemar Salma Salsabil.
Nama-nama seperti Desy Afrika, Ciloq Cilik, Sembada, vokalis Coldiac, hingga personel SATCF (Snicker And The Chicken Fighters) ikut terlibat dalam penggarapan visual yang dinamis dan padat karakter.
Syuting dilakukan hanya dalam dua hari, yakni 26–27 Maret 2026, atau lima hari setelah Idul Fitri. Efisiensi waktu ini dimungkinkan karena jarak antar lokasi di Kota Malang relatif dekat.
“Lokasi di Malang sebenarnya tidak kalah dari Jakarta. Tinggal kita menyesuaikan suasana tempatnya dengan tema lagu,” kata Angga.
Pabrik Keramik Dinoyo Jadi Lokasi Paling Berkesan
Dari seluruh titik syuting, Pabrik Keramik Dinoyo menjadi lokasi yang paling berkesan bagi tim produksi. Bangunan bekas industri tersebut dinilai memiliki atmosfer visual yang kuat dan sesuai dengan tema lagu Hatchu.
Dinding kusam, ruang kosong, dan sisa aktivitas produksi lama memberikan nuansa industrial yang sulit ditemukan di lokasi lain.
“Karena tempatnya cocok dan izinnya cukup mudah, proses syuting di pabrik keramik berjalan lancar,” terangnya.
Sutradara Prialangga juga menegaskan bahwa proyek ini menjadi salah satu pengalaman penting dalam kariernya setelah sebelumnya menggarap video musik sejumlah penyanyi besar, termasuk Lyodra, Tiara Andini, dan Keisya Levronka.
Kota Malang Tampil sebagai Karakter Utama Visual Musik
Lebih dari sekadar latar, Kota Malang tampil sebagai karakter utama dalam video musik Hatchu. Setiap lokasi membentuk potongan cerita tentang kehidupan urban, tekanan kerja, hingga ruang sosial masyarakat.
Mulai dari apartemen hingga pabrik tua, seluruhnya dirangkai menjadi narasi visual yang memperkuat pesan lagu tentang perjuangan kelas pekerja.
Meski berdurasi singkat, video musik ini berhasil menjadikan Kota Malang bukan hanya latar, tetapi bagian dari cerita yang hidup dan relevan dengan realitas sosial perkotaan.
Editor : Aditya Novrian