MALANG, RADAR MALANG – Sebuah nasihat sederhana dari jurnalis foto senior Kompas, Arbain Rambey, mengubah cara Suprapto memandang dunia fotografi. Bagi fotografer asal Malang itu, kamera bukan sekadar alat untuk menyalurkan hobi, tetapi juga harus mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi. Kini, prinsip tersebut terbukti. Jasa photo setting yang ia rintis telah mendatangkan klien dari berbagai negara.
Perjalanan pria berusia 53 tahun itu tidak dibangun dalam semalam. Bertahun-tahun ia belajar mengenali momen, menyusun cerita visual, hingga akhirnya dikenal sebagai fotografer yang kerap mengangkat tema budaya dan sejarah dalam setiap karya.
Nasihat Arbain Rambey Menjadi Titik Balik
Suprapto masih mengingat betul kalimat yang disampaikan Arbain Rambey kepadanya.
"Kamera harus bisa membiayai hobi fotografer."
Kalimat itu terus melekat dalam benaknya. Menurut Suprapto, fotografi tidak cukup hanya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Seorang fotografer juga harus mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai dan diapresiasi.
Pertemuannya dengan Arbain terjadi ketika ia sering mendampingi atasannya di sebuah bank, Dante Sulindro, dalam berbagai kegiatan di Malang sejak 2011.
Awalnya, Suprapto hanya bertugas membawa perlengkapan fotografi milik atasannya. Namun, Dante justru membuka kesempatan baginya untuk belajar teknik fotografi, berburu foto, hingga memahami cara menangkap momen yang bercerita.
Dari Karyawan Studio Foto hingga Juara Lomba
Ketertarikan Suprapto terhadap fotografi sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA.
Kala itu, ia bekerja paruh waktu di Bali Foto, sebuah studio foto di Kota Malang. Dari pekerjaan mencuci dan mencetak foto, ia mulai belajar langsung kepada pemilik studio, almarhum Andre.
"Waktu itu saya pernah diajak hunting foto di Kecamatan Ngadas," kenangnya.
Perjalanan kariernya semakin berkembang setelah Dante membantunya memiliki kamera digital Canon EOS 1100D.
"Karena diberi modal, saya jadi bisa ganti kamera. Sebelumnya saya pakai kamera analog seharga Rp600 ribu," ungkapnya.
Tak lama kemudian, ia mengikuti lomba fotografi yang digelar salah satu BUMN. Meski menjadi pengalaman pertamanya, hasil yang diraih di luar dugaan.
Suprapto keluar sebagai juara pertama. Lima foto yang dikirim dalam kompetisi itu juga dibeli perusahaan tempatnya bekerja untuk dijadikan kalender.
"Satu foto dihargai Rp5 juta," katanya.
Photo Setting Jadi Ciri Khas
Sejak 2013, Suprapto mulai mengembangkan konsep photo setting, yakni pemotretan dengan skenario, properti, dan penataan khusus untuk membangun cerita visual.
Salah satu proyek pertamanya melibatkan sekitar 100 fotografer di Nongkojajar dengan tema Tujuh Bidadari. Setelah itu, ia menghadirkan berbagai konsep lain, termasuk kisah Bandung Bondowoso di kawasan Lembah Tumpang.
"Kenapa senang photo setting dengan dua tema itu karena saya ingin mengulang sejarah di dunia foto sekarang," ujarnya.
Baginya, setiap karya bukan hanya menghasilkan gambar menarik, tetapi juga menjadi cara mengenalkan sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat.
Klien Datang dari Arab Saudi hingga Eropa
Konsistensi menghadirkan konsep yang berbeda membuat nama Suprapto semakin dikenal.
Foto-foto hasil photo setting rutin diunggah melalui media sosial, terutama Facebook. Dari sana, karyanya mulai menarik perhatian fotografer maupun wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Klien yang datang tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga Arab Saudi, Thailand, India, hingga sejumlah negara di Eropa.
"Waktu pertama kali dapat klien dari luar negeri, saya patok Rp60 juta. Itu untuk photo setting selama tiga hari disertai akomodasi. Eh ternyata klien saya mau," ujarnya.
Kini, jasa photo setting menjadi sumber penghasilan utamanya. Untuk paket pemotretan selama tiga hari beserta akomodasi, ia mematok tarif sekitar Rp15 juta per orang.
Meski demikian, Suprapto memastikan setiap konsep selalu berbeda. Ia mencatat seluruh tema yang pernah dibuat agar tidak ada cerita visual yang diulang.
"Pokoknya setiap bulan paling tidak saya menggelar satu kali photo setting," pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian