MALANG KOTA, RADAR MALANG – Layangan tradisional buatan Kota Malang kembali menembus pasar internasional. Perajin Lucky Maulana tengah menyiapkan sekitar 1.000 layangan Sukhoi untuk ajang Combat Kite 2027 di Prancis. Pengiriman tersebut melanjutkan kiprahnya memasok layangan ke Eropa yang telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade.
Permintaan itu menjadi bukti layangan khas Malang masih memiliki daya saing di pasar dunia. Bahkan, Lucky mengaku pernah mengirim hingga 5.000 layangan Sukhoi ke Prancis untuk memenuhi kebutuhan kompetisi layangan aduan.
"Malang ini dari dulu terkenal dengan layangan Sukhoi, sampai sekarang masih dikenal ke mancanegara. Saya pernah mengirim hingga 5.000 layangan Sukhoi ke Prancis," ujarnya.
Layangan Sukhoi Malang Tembus Pasar Internasional
Kesuksesan Lucky menembus pasar luar negeri berawal dari prestasinya di Festival Layangan Bali 2005. Gelar juara tersebut mempertemukannya dengan komunitas layangan dari berbagai negara. Namanya semakin dikenal setelah kembali meraih prestasi pada festival layangan di Vietnam pada 2012.
Dari pertemanan sesama pegiat layangan, peluang bisnis mulai terbuka. Kolektor dan penghobi dari Prancis, Belanda, Hong Kong, hingga sejumlah negara lain kemudian mulai memesan karya buatannya secara rutin.
Di etalase sederhana di rumahnya di kawasan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Lucky memproduksi beragam jenis layangan. Mulai layangan aduan hingga layangan hias berbentuk ikan, naga, dan gurita. Namun, layangan Sukhoi tetap menjadi produk unggulan.
Nama Sukhoi diambil dari pesawat tempur Rusia karena karakter layangan tersebut dikenal lincah saat bermanuver, tetapi tetap stabil ketika diterbangkan. Karakter itulah yang membuatnya banyak digunakan dalam kejuaraan layangan aduan.
Kualitas Bambu Jadi Kunci Daya Saing
Di balik harga jual sekitar Rp 7.000 per buah, proses produksi layangan Sukhoi membutuhkan ketelitian tinggi. Lucky menggunakan bambu petung sebagai rangka utama karena dinilai ringan sekaligus kuat.
Sebelum dipakai, bambu harus dikeringkan selama enam hingga tujuh bulan agar menghasilkan rangka yang kokoh dan tidak mudah berubah bentuk. Standar kualitas tersebut dipertahankan agar produk buatannya mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Selain pasar ekspor, Lucky juga memperluas pemasaran melalui platform digital. Menurut dia, pembeli kelas turnamen justru lebih banyak berasal dari luar Pulau Jawa.
"Kalau kelas turnamen, pembeli layangan ini justru lebih banyak dari luar Jawa. Ada pemesanan online sampai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta," ungkapnya.
Tradisi Layangan Hadapi Tantangan Lahan dan Digitalisasi
Meski permintaan terus berdatangan, Lucky melihat tantangan baru mulai muncul. Selain perubahan kebiasaan anak-anak akibat digitalisasi, ruang terbuka untuk bermain layangan juga semakin berkurang karena pesatnya pembangunan permukiman.
Padahal, menurutnya, tradisi bermain layangan bukan sekadar hiburan. Aktivitas tersebut turut menggerakkan ekonomi para perajin sekaligus menjadi identitas budaya yang telah lama melekat di Malang.
Lucky berharap ruang terbuka tetap tersedia agar tradisi tersebut tidak hilang. Sebab, keberadaan lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga regenerasi penghobi maupun keberlangsungan usaha para perajin layangan.
"Digitalisasi sudah cukup menggerus kegemaran anak-anak bermain layangan. Kami berharap keterbatasan lahan tidak menjadi masalah baru, baik bagi penghobi maupun pengrajin," pungkas mantan pelatih layangan Jawa Timur tersebut.
Editor : Aditya Novrian