Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dokter Jantung UB Prof Saifur Rohman Ciptakan de-Teko, Berawal dari Pasien yang Kembali Pasang Ring Jantung

Ramizard Rafsanjani • Jumat, 17 Juli 2026 | 15:20 WIB
Prof Mohammad Saifur Rohman memperlihatkan de-Teko, produk hasil riset hampir satu dekade yang memadukan ekstrak kopi hijau dan teh hijau sebagai pendamping terapi medis kemarin. (Ramizard Rafsanjani/Radar Malang)
Prof Mohammad Saifur Rohman memperlihatkan de-Teko, produk hasil riset hampir satu dekade yang memadukan ekstrak kopi hijau dan teh hijau sebagai pendamping terapi medis kemarin. (Ramizard Rafsanjani/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Berulangnya kasus pasien yang harus kembali menjalani pemasangan ring jantung mendorong Prof Saifur Rohman mengembangkan de-Teko, minuman fungsional berbasis kopi hijau dan teh hijau. Inovasi dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) itu lahir setelah hampir satu dekade penelitian sebagai pendamping terapi bagi pasien penyakit jantung.

Pengembangan de-Teko berangkat dari pengalaman Prof Saifur sebagai dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang sehari-hari menangani tindakan intervensi. Ia kerap mendapati pasien kembali mengalami penyempitan pembuluh darah beberapa tahun setelah pemasangan ring, meski sebelumnya telah menjalani prosedur medis dengan baik.

Berawal dari Pasien yang Kembali Masuk Ruang Kateterisasi

Menurut Prof Saifur, tantangan terbesar dalam penanganan penyakit jantung justru muncul setelah pasien pulang dari rumah sakit. Pada awal masa pemulihan, sebagian besar pasien disiplin menjalankan seluruh anjuran dokter. Namun, kebiasaan lama perlahan kembali, mulai merokok, mengonsumsi makanan tinggi lemak, hingga menikmati kopi seperti sebelumnya.

Baginya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap terapi. Kopi dan teh telah menjadi bagian dari budaya serta aktivitas sosial masyarakat sehingga tidak mudah ditinggalkan.

"Dari situ saya berpikir, apakah pasien harus benar-benar meninggalkan kopi dan teh seumur hidup?" ujarnya.

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi titik awal penelitian sejak 2015 bersama tim peneliti FK UB. Mereka mengembangkan formulasi dari kopi hijau dan teh hijau yang mengandung Chlorogenic Acid (CGA) serta Epigallocatechin Gallate (EGCG), dua senyawa antioksidan yang diketahui memiliki efek antiinflamasi dan membantu menghambat fibrosis pembuluh darah.

Baca Juga: Layangan Sukhoi Buatan Malang Kembali Terbang ke Prancis, Lucky Maulana Siapkan 1.000 Unit untuk Combat Kite 2027

Prof Saifur juga meluruskan anggapan masyarakat yang selama ini mengaitkan kopi dengan meningkatnya tekanan darah.

"Sebenarnya yang paling ditakuti dari hipertensi itu garam, bukan kopi. Kopi dan teh secara langsung tidak menaikkan tensi," jelas dokter yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Akademik FK UB tersebut.

Menurutnya, tekanan darah lebih sering meningkat akibat pola hidup yang kurang sehat, seperti begadang atau kurang istirahat, bukan semata karena konsumsi kopi.

Riset Hampir Satu Dekade hingga Lahir de-Teko

Perjalanan riset de-Teko berlangsung bertahun-tahun. Penelitian dimulai dari kultur sel, dilanjutkan menggunakan hewan model obesitas dan hipertensi, kemudian memasuki tahapan uji klinis pada manusia.

Tahapan yang paling kompleks adalah proses dekafeinasi. Tim peneliti harus menemukan formulasi yang mampu menurunkan kadar kafein tanpa menghilangkan kandungan CGA dan EGCG yang menjadi komponen utama produk.

"Prosesnya memang panjang karena kami harus menemukan titik optimal agar manfaatnya tetap ada, tetapi kandungan kafeinnya berkurang," terang Prof Saifur.

Hasil penelitian tersebut kemudian melahirkan de-Teko, minuman fungsional berbentuk saset yang dikonsumsi dua kali sehari sebagai pendamping terapi medis.

Baca Juga: Website EWS Sound Horeg Buatan Arek Malang Dikembangkan Jadi Aplikasi, Bantu Warga Hindari Jalur Karnaval

Berdasarkan uji klinis yang dilakukan tim peneliti, formulasi tersebut membantu memperbaiki sejumlah parameter kesehatan, seperti tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, hingga inflamasi. Namun, Prof Saifur menegaskan de-Teko bukan pengganti obat.

"Obat dari dokter tetap harus diminum. Ini hanya sebagai pendamping terapi," tegasnya.

Berharap Diproduksi Massal agar Manfaatnya Lebih Luas

Meski telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah bereputasi internasional, Prof Saifur menilai tujuan utama penelitiannya bukan sekadar menambah karya akademik.

Ia berharap inovasi tersebut dapat diproduksi secara massal melalui kolaborasi dengan mitra industri agar semakin banyak masyarakat memperoleh manfaatnya.

"Sebagai akademisi, enggak mungkin saya jualan sendiri. Kegamangan kami adalah apakah ada mitra yang mau memproduksi secara massal agar manfaatnya bisa tersebar lebih luas," pungkasnya.

Editor : Aditya Novrian
de-Teko Prof Saifur Rohman minuman fungsional pasien jantung FK UB