Dari Gubuk Galejo, DZ Sandyarto Menghidupkan Kembali Rinding Malang

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 16:50 WIB

 

DZ Sandyarto atau Bejo Sandy memainkan Rinding Malang saat tampil dalam kegiatan UNESCO di Jakarta beberapa waktu lalu. (Dokumen Bejo Sandy)
DZ Sandyarto atau Bejo Sandy memainkan Rinding Malang saat tampil dalam kegiatan UNESCO di Jakarta beberapa waktu lalu. (Dokumen Bejo Sandy)

RADAR MALANG - PETA besar Indonesia memenuhi satu sisi dinding Gubuk Galejo, rumah sederhana di Jalan Ranakah, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Dari kejauhan, tampilannya tampak biasa saja. Namun ketika didekati, hampir setiap daerah pada peta itu menyimpan sebuah alat musik mungil yang menggantung.

Bentuknya beragam. Ada yang terbuat dari bambu, ada pula yang berbahan logam. Semuanya merupakan harpa mulut dari berbagai daerah di Indonesia. Di bawah setiap koleksi tertulis nama daerah asal, jenis alat musik, hingga cara memainkannya.

Di ruangan sederhana itulah DZ Sandyarto, yang lebih akrab disapa Bejo Sandy, menghabiskan sebagian besar waktunya. Bukan sekadar membuat alat musik, tetapi juga meneliti, mendokumentasikan, dan mengoleksi harpa mulut Nusantara.

Baca Juga: Dokter Jantung UB Prof Saifur Rohman Ciptakan de-Teko, Berawal dari Pasien yang Kembali Pasang Ring Jantung

"Setiap daerah punya bentuk dan nama yang berbeda. Tapi semuanya memiliki lidah getar di bagian tengah sebagai sumber bunyinya," ujarnya.

Siapa sangka, perjalanan panjang itu justru berawal dari panggung teater.

Sebelum dikenal sebagai perajin Rinding Malang, Bejo merupakan musisi band. Pria kelahiran Ambon itu sempat berpindah-pindah dari Karawang, Jakarta, hingga Yogyakarta sebelum akhirnya menetap di Malang untuk menempuh pendidikan di Universitas Merdeka Malang.

Di Kota Malang, ia aktif tampil bersama band-band komersial. Namun rutinitas yang sama dari panggung ke panggung membuatnya merasa jenuh. Pada 2012, ia memutuskan menghidupkan kembali Teater Celoteh yang telah dirintis sejak 1998.

Saat menyiapkan sebuah pementasan, Bejo membutuhkan instrumen sederhana untuk membangun atmosfer pertunjukan. Ingatannya kemudian melayang pada Karinding, alat musik bambu yang pernah dikenalnya semasa kecil di Karawang.

Rasa penasaran itu membawanya menelusuri berbagai jenis harpa mulut di Indonesia. Semakin banyak membaca literatur dan berdiskusi dengan pegiat budaya, semakin besar pula keterkejutannya.

Malang ternyata memiliki harpa mulut sendiri bernama Rinding. Ironisnya, alat musik tersebut justru nyaris tak dikenal oleh masyarakat Malang.

"Saya heran, daerah lain mengenal alat musiknya, sementara kita justru tidak tahu kalau Malang punya Rinding," katanya.

Sejak saat itu arah hidupnya berubah.

Bersama sang istri, Sehan, Bejo mulai memungut bambu bekas penyangga baliho politik yang berserakan selepas pemilu. Potongan bambu yang dianggap sampah itu dipilih, dikeringkan, lalu diolah menjadi Rinding.

Baca Juga: Dokter Jantung UB Prof Saifur Rohman Ciptakan de-Teko, Berawal dari Pasien yang Kembali Pasang Ring Jantung

"Sampah bambu itu kemudian saya olah menjadi sebuah Rinding alias harpa mulut," tuturnya.

Namun perjuangannya tidak berhenti pada proses membuat alat musik.

Alih-alih memajangnya di galeri, Bejo memilih membawa Rinding langsung ke tengah masyarakat. Ia memperkenalkannya melalui panggung teater, workshop di sekolah, seminar kebudayaan, hingga membuka ruang belajar gratis bagi siapa pun yang ingin mengenal instrumen tersebut.

Perlahan, nama Bejo mulai dikenal di kalangan pegiat seni. Ia pernah berkolaborasi dengan Ari Lasso, mendiang musisi reggae Imanez, hingga rapper Bone Rudsi. Rinding buatannya pun mulai dikoleksi pecinta musik tradisional dari Belanda, Prancis, Jepang, hingga Amerika Serikat. Bahkan beberapa di antaranya terjual dengan harga ratusan dolar Amerika.

Pengakuan juga datang dari pemerintah. Nama Bejo kini tercatat dalam Pokok-pokok Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota Malang sebagai perajin Rinding Malang, instrumen yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2020.

Kesempatan memperkenalkan Rinding ke dunia internasional pun datang tahun lalu. Dalam sebuah kegiatan UNESCO di Jakarta, Bejo tampil memainkan Rinding sekaligus menceritakan sejarah serta perjalanan alat musik khas Malang tersebut di hadapan peserta dari berbagai negara.

Aktivitasnya kini semakin padat. Berkat dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan, ia baru saja menuntaskan riset selama tiga bulan mengenai persebaran harpa mulut di Pulau Jawa dan Bali.

"Saya sudah tuntaskan riset sekitar tiga bulan terakhir di kawasan Jawa dan Bali. Sekarang tinggal proses penulisannya," katanya.

Hasil penelitian tersebut akan diterbitkan dalam buku berjudul Harpa Mulut Indonesia di Jawa-Bali.

Meski kini lebih sering diundang sebagai narasumber maupun pengisi forum kebudayaan nasional, Gubuk Galejo tetap menjadi tempatnya pulang. Dari rumah sederhana itu, Bejo terus membuat Rinding satu per satu, lalu membagikannya kepada pelajar, mahasiswa, dan para pegiat budaya.

Baginya, Rinding bukan sekadar bilah bambu yang menghasilkan bunyi. Instrumen sederhana itu menjadi penanda bahwa Malang memiliki warisan budaya yang layak dikenali, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editor : Aditya Novrian
RINDING malang