Guru SMAN 2 Kota Malang Taufik Hidayat Ciptakan Sistem Lomba Sepatu Roda Otomatis, Hasil Balapan Muncul Hitungan Detik

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:54 WIB
Taufik Hidayat (kiiri) mendampingi juri Jatim Open 2026 menggunakan platform buatannya.(Dokumen Taufik Hidayat)
Taufik Hidayat (kiiri) mendampingi juri Jatim Open 2026 menggunakan platform buatannya.(Dokumen Taufik Hidayat)

MALANG, RADAR MALANG – Sorak penonton memecah suasana Lintasan Sepatu Roda Stadion Kanjuruhan, Jumat (10/7) sore. Puluhan atlet saling berpacu menuju garis finis. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya persaingan di lintasan, melainkan kecepatan sistem dalam menampilkan hasil pertandingan. Hanya dalam hitungan detik, nama atlet beserta catatan waktunya langsung muncul di layar siaran langsung.

Teknologi tersebut menjadi terobosan baru di dunia sepatu roda Indonesia. Jika selama ini pencatatan hasil lomba masih banyak bergantung pada operator yang memasukkan data secara manual, kini seluruh proses berlangsung otomatis. Mulai dari registrasi atlet, penyusunan race book, hingga penentuan hasil akhir dilakukan dalam satu sistem yang saling terintegrasi.

Di balik inovasi itu ada sosok Taufik Hidayat, Guru Informatika SMAN 2 Kota Malang sekaligus pengurus Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Kabupaten Malang. Selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia sepatu roda, ia melihat masih banyak proses pertandingan yang berjalan secara konvensional.

"Setiap pertandingan sepatu roda, baik di Jawa Timur maupun luar Jawa, semuanya masih konvensional. Saat live scoring juga ada campur tangan manusia sehingga rawan kecurangan. Berangkat dari keresahan tersebut, kami melakukan otomatisasi," ujarnya.

Berawal dari Keresahan, Berujung Inovasi Nasional

Sekitar dua hingga tiga bulan sebelum Jatim Open 2026 digelar, Taufik mulai merancang sistem tersebut. Awalnya, aplikasi itu hanya diproyeksikan untuk mendukung penyelenggaraan kejuaraan internal. Namun, setelah melalui berbagai penyempurnaan, sistem itu justru mendapat respons positif dari penyelenggara dan insan sepatu roda.

Berbagai simulasi dilakukan sebelum digunakan pada kejuaraan. Setiap potensi kesalahan diuji agar seluruh tahapan perlombaan dapat berjalan tanpa kendala.

Baca Juga: Dari Gubuk Galejo, DZ Sandyarto Menghidupkan Kembali Rinding Malang

Bagian pertama yang dibenahi adalah proses registrasi atlet. Seluruh data peserta dan klub kini tersimpan dalam satu basis data. Setelah masa pendaftaran ditutup, sistem secara otomatis mengunci data sehingga tidak ada lagi peserta yang dapat ditambahkan.

Langkah tersebut juga mengatasi persoalan klasik yang selama ini sering muncul, seperti atlet yang belum melunasi biaya pendaftaran tetapi tetap bisa mengikuti perlombaan.

Race Book Kini Disusun Otomatis

Setelah registrasi selesai, sistem langsung mengolah seluruh data menjadi race management. Dari proses tersebut, race book dapat disusun secara otomatis tanpa harus dilakukan secara manual.

"Setelah proses pendaftaran, masuk ke race management. Data atlet yang masuk akan dimasukkan dalam race manager untuk ditata menjadi race book. Kalau dulu bisa sampai berhari-hari, itu pun masih ditemukan error," jelas Taufik yang juga merupakan pengurus Perserosi Jawa Timur.

Melalui sistem komputasi, potensi benturan jadwal maupun penempatan atlet pada race yang sama dapat diminimalkan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat.

Live Scoring Terhubung Langsung dengan Garis Finis

Keunggulan utama sistem tersebut berada pada fitur live scoring. Teknologi ini terhubung langsung dengan timing system yang dipasang di garis finis.

Kamera video finish dilengkapi sensor khusus yang mampu membaca roda pertama saat melewati garis akhir. Data tersebut kemudian langsung diproses perangkat lunak dan ditampilkan secara real time.

"Begitu atlet datang, sudah terekam oleh software yang memunculkan garis lurus dan ada perhitungan waktunya," imbuh alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Baca Juga: Dari Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Dorong UMKM Naik Kelas

Dengan sistem tersebut, selisih waktu sekecil apa pun dapat terbaca secara akurat tanpa intervensi operator. Hal ini membuat proses penentuan pemenang menjadi lebih cepat, objektif, dan transparan.

Keberhasilan implementasi teknologi itu pada Jatim Open 2026 bahkan mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Taufik berharap sistem tersebut dapat diterapkan pada Kejuaraan Provinsi hingga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.

Open Source agar Bisa Dimanfaatkan Lebih Luas

Bagi Taufik, mengembangkan perangkat lunak bukan hal baru. Selain sistem manajemen pertandingan sepatu roda, ia juga menciptakan Sistem Informasi Tata Krama (Simtrama) untuk sekolah serta aplikasi pos digital yang membantu pelaku UMKM.

Menariknya, seluruh inovasi tersebut ia bagikan secara terbuka. Menurutnya, teknologi akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan oleh banyak orang.

"Sistem yang saya buat biasanya bersifat open source, jadi siapa saja yang berminat bisa memakai. Termasuk sistem manajemen pertandingan sepatu roda juga tidak berbayar. Karena itu sudah menjadi hobi saja," pungkasnya.

Editor : Aditya Novrian
malang hari ini Sosok SMAN 2 Kota Malang sepatu roda