Dulu, Taman Walet identik dengan kumuh, warung liar, bahkan menjadi tempat mabuk. Kini menjelma menjadi ruang hangat yang menyatukan para pecatur dari berbagai daerah dan melahirkan bibit-bibit atlet.
NABILA AMELIA
SUARA tak... tak... tak... dari bidak yang beradu dengan papan catur menjadi irama yang tak pernah hilang di gazebo bambu Jalan Raya Walet, Sukun kemarin (26/7). Di sela denting itu, terdengar canda, tawa, hingga celetukan para pecatur. Mereka saling melontarkan komentar saat strategi dipatahkan lawan.
Sesekali, muncul seruan protes karena merasa langkahnya dijebak. Tapi semuanya segera mencair menjadi gelak tawa yang akrab. Bagi para atlet catur, bunyi bidak yang saling beradu bukan sekadar suara permainan, melainkan denyut persahabatan yang menghidupkan ruang berkumpul setiap hari.
Canda tawa dan gayeng para pecatur tak ditemukan sebelum 2022 lalu. Dulu, di sana lekat dengan image taman yang kumuh dan dipenuhi bedak-bedak warung. Juga kerap ditemukan pemuda mabuk.
Karena lekat dengan taman kumuh dan image negatif, Lurah Sukun Andin Yunistiyanto, Ketua LPMK Sukun Agus Sumariono, bersama sebagian warga, berinisiatif menyulap taman tersebut.
”Memang sempat ada warga lain yang meminta agar taman tersebut digunakan untuk perluasan bedak-bedak warung. Namun tidak semuanya setuju," ujar Heri Susanto, salah seorang warga yang ikut menggagas pemolesan taman di Jalan Raya Walet.
Gagasan itu kemudian ditindaklanjuti dalam rapat bersama warga. Dalam rapat tersebut, masih ada pihak-pihak yang tidak setuju jika taman dikelola sebagai ikon Kelurahan Sukun. Namun setelah diskusi, warga akhirnya melakukan perawatan taman.
Tujuannya tak sekadar mempercantik. Tapi juga mengurangi aktivitas negatif. Warga bahu membahu menyulap taman. Program makin cepat terealisasi setelah mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang melakukan pengabdian masyarakat d lokasi.
Taman dibersihkan, dibangun gazebo, dan ditanami beberapa bunga. Demi keberlanjutan, pengelolaan diserahkan warga. Ada satu yang ditunjuk sebagai penanggung jawab. Namanya Sutrisno.
Di lokasi, Sutrisno diizinkan membuka warung kopi.
"Warungnya awalnya sederhana. Sebelumnya tidak ada lampu dan hanya dua gazebo. Jadi kalau hujan, warga yang berkunjung berkumpul di 2 gazebo," ungkap Heri lantas terkekeh.
Selanjutnya gazebo-gazebo yang ada diperluas. Suasananya semakin asri. Kemudian sekitar 2024, ada beberapa komunitas catur di Sukun yang bertandang ke sana. Mereka melihat keasrian taman. Setelah bertandang, mereka ketagihan bermain catur di gazebo-gazebo yang tersedia.
Heri tidak tahu persis kenapa mereka betah.
"Tapi akhirnya para penghobi catur yang mampir tidak hanya dari Sukun. Ada juga yang dari Mergosono, Kota Batu, Tajinan, Karangploso, bahkan Kepanjen," sambung Heri.
Banyaknya penghobi catur yang mampir membuat pengelola akhirnya menyediakan papan catur. Ada sekitar 15 papan catur. Jadi masyarakat tinggal bermain. Tidak beli minum atau makanan pun diperbolehkan.
Karena banyak penghobi catur yang mampir, warga mendirikan Walet Chess Club. Aktivitas di sana pun semakin beragam. Tak hanya untuk bermain catur, tapi juga bersantai hingga mengerjakan tugas.
Kendati demikian, yang dominan terlihat tetap permainan catur. Permainan catur tersebut tidak hanya dinikmati penghobi catur. Warga yang piawai bermain catur juga mengajari para pemula yang ingin belajar.
"Ada yang usia muda sampai dewasa," terangnya.
Dari sana, para penghobi catur saling mengisi. Mereka bersama-sama bermain catur. Mulai mengenal pion hingga strategi bermain catur. Kebanyakan mengacu permainan catur dengan ketentuan Swiss Tournament. Untuk ketentuan itu, biasanya lama permainan 13 menit.
Di samping bermain catur, ada pula anak-anak yang akhirnya berpartisipasi dalam kompetisi catur. Salah satu anak yang gemar berlatih sampai menjadi atlet dan menembus Olimpiade catur bernama Opin.
Warga juga tidak hanya memberikan edukasi terkait catur kepada masyarakat. Mereka pernah menggelar kompetisi yang diikuti 150 pemain catur dari Kota Malang. Lalu pada Agustus nanti, mereka berencana menggelar kompetisi.
”Target kami bisa menggaet 300 pemain catur untuk kompetisi di tingkat kota,” pungkas Heri.(*/dan)
Editor : Mahmudan