Perjuangan Galuh Prasetyo Mendirikan Wisata Air yang Menyedot Ribuan Wisatawan

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:00 WIB

 

PENGGAGAS WISATA: Galuh Prasetyo berdiri di depan Gapura Banyumaro, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo kemarin.
PENGGAGAS WISATA: Galuh Prasetyo berdiri di depan Gapura Banyumaro, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo kemarin.

 

 

Perjalanan membesarkan Banyumaro Tubing tak pernah benar-benar mulus. Ada masa ketika ide itu dipandang sebelah mata, bahkan nyaris kandas dihantam pandemi Covid-19. Namun berkat kegigihan, wisata arung ban di Sungai Amprong itu menyedot sekitar 20 ribu pengunjung sepanjang 2025.

 

ANDIKA SATRIA PERDANA

PAPAN bertuliskan Banyumaro Adventure berdiri di depan gapura kecil berwarna merah bata. Dari titik itu, gemericik Sungai Amprong sudah lebih dulu menyambut setiap pengunjung yang datang. Hanya sekitar 50 langkah berjalan, hamparan sungai yang jernih langsung tersaji di depan mata.

Airnya jernih, hingga ikan-ikan kecil tampak bebas berenang di dasar sungai. Arus deras berpadu dengan bebatuan putih berukuran besar menciptakan lintasan alami yang seolah memang disiapkan untuk wisata tubing.

Basecamp Banyumaro di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo bukanlah titik awal pengarungan. Pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 10 menit menuju lokasi start. Setelah itu, petualangan menyusuri Sungai Amprong selama satu hingga satu setengah jam baru benar-benar dimulai.

Di balik ramainya wisata itu sekarang, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak 2010. Galuh Prasetyo bersama empat rekannya menjadi penggagas Banyumaro Tubing. Gagasannya lahir bukan dari ruang rapat atau proposal tebal. Melainkan dari obrolan santai di warung kopi. Mereka ingin menghidupkan potensi desa sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi para pemuda.

Obrolan sederhana itu kemudian berubah menjadi langkah nyata. Hampir setiap hari, lima pemuda tersebut berjalan sekitar dua kilometer dari rumah menuju Sungai Amprong sambil memikul ban-ban besar.

"Dulu waktu kecil kami sering bermain di sungai. Setelah dipikir-pikir lagi, aliran sungainya ternyata cocok untuk tubing," kenang Galuh.

Namun perjalanan tidak selalu disambut dukungan. Ban-ban besar yang mereka bawa justru mengundang cibiran. Banyak yang menganggap mereka hanya bermain-main, bukan bekerja. Bahkan, keluarga sendiri sempat menyarankan Galuh mencari pekerjaan yang dianggap lebih pasti.

Meski begitu, omelan dan keraguan orang-orang terdekat tak pernah membuat semangatnya surut. Hari demi hari mereka habiskan untuk membersihkan jalur sungai dari batu-batu besar, menata lintasan, sekaligus berlatih menjadi pemandu wisata.

Perjuangan itu berlangsung hampir dua tahun. Hingga akhirnya pada 2012 lalu, Banyumaro menerima tamu pertamanya. Galuh masih mengingat betul momen itu. Hanya empat wisatawan yang baru selesai menikmati Gunung Bromo, lalu diajak sopir jip untuk mencoba sensasi menyusuri Sungai Amprong.

Jumlah tamunya memang sedikit, tetapi semangat mereka berlipat ganda.

"Meski tamunya cuma empat orang, guide yang mendampingi sampai 15 orang. Kami benar-benar antusias karena akhirnya ada tamu pertama," ujar Galuh sambil tersenyum.

Momentum kecil itu menjadi titik balik. Banyumaro mulai dikenal. Sepanjang 2013 hingga 2019, hampir setiap akhir pekan selalu ada rombongan yang datang. Harapan yang mulai tumbuh kembali runtuh ketika pandemi Covid-19 datang pada 2020. Bagi Galuh, masa itu jauh lebih berat dibandingkan saat merintis Banyumaro dari nol.

"Selama hampir satu setengah tahun tidak ada aktivitas dan tidak ada tamu. Saya sempat berpikir menyerah karena rasanya sudah tidak ada jalan lagi. Akhirnya sementara berjualan ayam," ungkap pria asli Wringinanom itu.

Basecamp yang biasanya ramai mendadak sunyi. Semak belukar tumbuh liar. Rumput menjulang hingga setinggi perut orang dewasa, seolah ikut menandai berhentinya denyut wisata yang telah mereka bangun bertahun-tahun.

Harapan baru datang pada akhir 2022 ketika pembatasan mulai dilonggarkan. Galuh bersama tim kembali menyusuri jalur tubing, membersihkan semak, merapikan basecamp, dan menyiapkan semuanya dari awal.

Usaha itu membuahkan hasil. Jika meminjam judul lagu Sheila On 7, Banyumaro benar-benar berhasil melompat lebih tinggi setelah pandemi. Sejak 2023, hampir setiap hari selalu ada tamu yang datang. Saat musim kemarau, Banyumaro melayani empat hingga lima rombongan dalam sehari. Ketika musim hujan, jumlahnya berkisar dua hingga tiga rombongan.

"Setelah pandemi kami lebih gencar promosi di media sosial. Waktu itu lebih mudah karena orang-orang sudah bosan di rumah," terang Galuh yang juga menjabat Ketua Kelompok Sadar Wisata Wringinanom.

Perkembangan Banyumaro bersama sejumlah destinasi lain di Wringinanom akhirnya menarik perhatian pemerintah pusat. Desa itu menjadi salah satu lokasi penilaian Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang dihadiri langsung Menteri Pariwisata saat itu, Sandiaga Uno.

Hasilnya, Desa Wringinanom dinobatkan sebagai juara kedua ADWI kategori desa wisata maju. Penghargaan tersebut menjadi promosi yang tak ternilai. Nama Banyumaro dan destinasi wisata lain di desa itu semakin dikenal luas setelah dipromosikan Kementerian Pariwisata.

Kini, setiap pekan Banyumaro menerima sekitar 150 hingga 200 pengunjung. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan yang datang mencapai sekitar 20 ribu orang.

Selain menawarkan lintasan tubing terpanjang dengan pilihan durasi satu jam hingga satu setengah jam, Banyumaro juga menyediakan paket outbound dan makan bersama. Paket-paket itu kini banyak dipilih perusahaan untuk kegiatan outing, bahkan sesekali wisatawan mancanegara turut merasakan sensasi mengarungi derasnya Sungai Amprong.(*/dan)

Editor : Mahmudan
Wisata Poncokusumo Malang Banyumaro Tubing wisata malang