MALANG KOTA, RADAR MALANG - Dalam 1,5 bulan terakhir banyak pesan yang masuk ponsel Fadilatus Sholiha. Isi pesan yang diterimanya kurang lebih sama. Dimulai denga perkenalan diri, lalu menceritakan keadaan darurat yang dialami pengirim pesan. Setelah itu ada permintaan bantuan pada Fadila untuk dibelikan seporsi nasi.
Pengirim pesan berasal dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa yang kelaparan, ibu hamil, hingga lansia yang tak sanggup membeli makan. Semua dilayani lewat akun TikTok Nasi Darurat Malang. Rutinitas barunya itu dilakoni sembari bekerja dan mengurus anak.
Akun Nasi Darurat Malang dibuat Fadila karena rasa empatinya. Awalnya, dia melihat salah satu konten dari Nasi Darurat Surabaya yang membagikan cerita haru salah satu penerima bantuan. Dari cerita itu, Faradila teringat perjuangannya saat merantau ke Surabaya dan menjadi buruh pabrik pada 2017 lalu.
Setelah itu dia memutuskan untuk ikut membantu sesama. Saat mulai menjalankan aksi kemanusiaan melalui Nasi Darurat Malang, Fadila menggunakan uang pribadinya untuk membantu sesama. Dalam satu hari, bisa tiga sampai sembilan orang yang dia bantu.
Estimasi bantuan untuk seporsi makanan sekitar Rp 18 ribu. Seiring berjalannya waktu, tak hanya pesan yang bertambah, jumlah kontak dalam ponsel Fadila juga naik drastis. Dari jumlah awal hanya sekitar 1.500 nomor yang disimpannya, kini sudah bertambah menjadi 1.800 lebih nomor ponsel.
”Sejak konten saya viral di TikTok, saya mulai terbiasa menyimpan nomor penerima nasi darurat agar lebih mudah menandainya,” cerita Fadila. Kini jumlah pengikutnya di TikTok sudah mencapai 2,5 ribu orang. Dalam sehari, ibu berusia 27 tahun itu bisa menerima pesan dari 20 nomor baru.
Satu per satu dia balas dengan ramah. Dimulai dengan meminta identitas diri dan percakapan singkat untuk menguji kebenaran cerita dari pengirim pesan. Perlahan aksi kemanusiaannya mulai dilihat lebih banyak orang. Donasi dari masyarakat mulai berdatangan.
Fadila sampai membuka rekening baru khusus untuk menerima donasi dari netizen-netizennya di TikTok. Dia tak mematok minimal donasi yang diterimanya untuk menjalankan aksi Nasi Darurat Malang. Ada yang mengirim recehan Rp 20 ribu hingga nominal sebesar Rp 1 juta.
Karena makin banyak yang berdonasi, aksi bantuan yang digagasnya tak sebatas online saja. Sedekah yang bermula dari interaksi online itu kini meluas hingga rutin bagi-bagi nasi gratis saat Jumat berkah. Sasarannya lansia yang kerap tidur di pinggir jalan karena tak memiliki rumah.
Dalam sekali aksi, lebih dari 20 porsi dibagikan Fadila bersama saudara-saudaranya. Dari membuka akun nasi darurat itu, dia menjadi lebih dekat dengan potret kemanusiaan. Meski akunnya dibangun atas dasar empati, banyak juga oknum yang berusaha memanfaatkan kebaikannya.
Tak jarang Fadila mendapati orang yang dibantunya ternyata berbohong tentang keadaannya yang jauh dari kata darurat. ”Bahkan ada yang meminta dibayarkan kontrol behelnya seharga Rp 200 ribu,” cerita dia sembari tertawa. Padahal sudah sangat jelas akun yang dibangun Fadila untuk menyalurkan bantuan nasi darurat.
Namun masih saja ada orang salah alamat meminta bantuan yang jauh dari kata darurat. Suatu hari Fadila juga pernah dimintai seseorang untuk membayar token listrik.
Meski banyak dihubungi orang-orang yang tak sesuai tujuan kegiatannya, semangat berbagi dalam diri Fadila tak pernah padam.
Sebab dia masih memikirkan banyaknya orang yang benar-benar membutuhkan uluran tangan darinya. Salah satu yang paling diingat Fadila yakni setelah membantu seorang mahasiswa tingkat akhir yang kelaparan karena belum dikirimi uang oleh keluarganya di Tuban.
”Baru tadi pagi dia mengirim pesan mengucapkan terima kasih dan memberi kabar kalau pengajuan keringanan UKT-nya sudah diproses kampus,” kenang Fadila.
Rupanya mahasiswa tingkat akhir itu dalam kesehariannya berkuliah sambil bekerja menjadi driver ojek online. Uang hasil kerjanya ditabung untuk membayar UKT dan menambah biaya hidup sehari-hari di perantauan. Hanya saja, semester lalu kegiatan akademiknya terlalu padat sehingga akun ojek onlinenya dibekukan.
Karena tak memiliki pemasukan lagi dan uangnya sudah habis, dia menghubungi Nasi Darurat Malang. Mahasiswa yang jujur itu mengaku sudah mendapat nasi dari kegiatan Jumat berkah. Dengan halus dia meminta Fadila menyalurkan bantuan untuk orang yang lebih membutuhkan saja.
Percakapan melalui pesan WhatsApp (WA) itu dibagikan Fadila ke akun TikTok Nasi Darurat Malang. Tak disangka petinggi kampus mahasiswa itu menghubungi Fadila untuk meminta kontak mahasiswanya yang mengalami kesulitan itu.
Perasaan Fadila ikut senang setelah membaca pesan dari mahasiswa itu yang menyebutkan keringanan UKT sudah mulai diproses pihak kampus tempat mahasiswa itu belajar. (*/by)
Editor : Bayu Mulya Putra