Dua Mahasiswa asal Malang Penelitian di Prancis untuk Kembangkan Sinyal Telekomunikasi Anti-Cuaca Ekstrem

Nahdiatul Affandiah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:24 WIB

 

UNTUK PENELITIAN: Dua mahasiswa asal Kota Malang berdiskusi dengan profesor ahli bidang telekomunikasi asal Université Côte d
UNTUK PENELITIAN: Dua mahasiswa asal Kota Malang berdiskusi dengan profesor ahli bidang telekomunikasi asal Université Côte d'Azur, Prancis.

 

Saat bencana datang dan bantuan sangat dibutuhkan, justru sinyal komunikasi sering kali terputus sehingga dampaknya makin fatal. Kondisi tersebut menginspirasi dua mahasiswa asal Malang untuk melakukan penelitian di Prancis. Dialah Irfan Dzaki Fajarhari dan Syafiqa Aurelia Satisma.

 

NAHDIATUL AFFANDIAH

HAWA panas terasa menyengat kulit Irfan Dzaki Fajarhari dan Syafiqa Aurelia Satisma saat pertama menginjakkan kaki di Prancis. Udara yang kering membuat kulit dan bibir keduanya juga ikut terasa kering. Namun waktu sebulan yang mereka miliki terlalu singkat untuk sekadar mengeluh.

Mereka harus cepat beradaptasi. Sebab, perjalanan keduanya ke Prancis bukan untuk berlibur. Setiap hari mereka mendatangi Université Côte d'Azur untuk berdiskusi dengan profesor yang ahli di bidang telekomunikasi.

Suhu 37 derajat Celsius di Prancis terasa berbeda bagi keduanya. Di Indonesia, mereka terbiasa beraktivitas dalam suhu sekitar 28 hingga 29 derajat Celsius. Perbedaan itu menjadi pengalaman tersendiri pada awal kedatangan.

Jarak antara penginapan dengan kampus pun tidak dekat. Dua hari pertama, Irfan dan Syafiqa harus berjalan kaki sejauh 1,4 kilometer. Saat itu, Prancis sedang dilanda heat wave. Terik matahari menemani langkah mereka menuju kampus.

Setelah dua hari berjalan kaki, keduanya mulai menggunakan layanan bus lokal Envibus. Mereka berlangganan Pass Mensuel seharga 14 euro sekaligus membeli kartu fisiknya untuk menunjang aktivitas selama berada di Prancis.

Di balik perjalanan tersebut, ada misi yang jauh lebih besar. Irfan dan Syafiqa datang ke Prancis untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi yang mampu bertahan menghadapi cuaca ekstrem hingga bencana.

Gagasan itu berangkat dari kondisi di Papua yang rawan rentan diterjang bencana seperti tanah longsor, banjir, hingga kebakaran hutan.

”Kalau sudah tertimpa bencana, pasti sinyal terputus. Padahal sangat penting agar komunikasi dan penyaluran bantuan merata,” ujar Irfan kemarin (9/8).

Ide awal pembuatan cetak biru pemasangan sinyal anti-cuaca ekstrem muncul pada Oktober 2025. Saat itu, kedua mahasiswa Teknik Elektro Universitas Brawijaya tersebut berniat mendaftar program Universitas Brawijaya Students Academic Research Scheme (STARS). Mereka mulai mencari data wilayah rawan bencana dan cuaca ekstrem di Papua melalui open source dari kementerian terkait.

Setelah mematangkan ide, keduanya langsung mencari kampus mitra untuk mendalami penelitiannya. Lalu diputuskan berangkat ke Prancis selama bulan Juni. Di sana, mereka dibimbing langsung Associate Professor Ramon Aparicio-Pardo dari Université Côte d'Azur.

Dari ratusan kali diskusi tersebut, ditemukan masalah utama bahwa Papua memiliki medan yang sulit dan sering mengalami bencana. Mulai tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, hingga curah ekstrem. Masalahnya, kabel fiber optic atau alat pemancar sinyal yang biasa disebut microwave di sering rusak atau terganggu saat bencana ini terjadi.

Akibatnya, komunikasi saat bencana terjadi sering terputus. Untuk itu kedua mahasiswa semester 7 itu membuat sebuah sistem atau framework yang bisa menghitung risiko bencana. Mirip seperti navigasi pintar untuk memetakan titik rawan.

Lebih ringkas, sistem yang dibuat itu bakal memberi arahan sebelum membangun jaringan. Seperti tidak menyarankan menanam kabel di titik rawan longsor. Atau menyarankan memberi banyak cadangan alat pada titik rawan banjir.

Sistem yang diciptakan tidak hanya mencegah kabel jaringan cepat rusak. Mereka juga bisa membuat biaya pembangunan dan perawatan jaringan lebih murah.

“Kami usahakan sistem ini agar tetap efisien bagi perusahaan atau pemerintah,” lanjut Irfan.

Irfan dan Syafiqa menggunakan metode matematika tingkat tinggi untuk menciptakan sistem itu. Mereka bantuan software khusus untuk mencari titik-titik aman dan strategis. Untuk itu diperlukan diskusi panjang dengan profesor di Prancis agar terbuka sudut pandang lain dari peneliti yang biasa menangani jaringan dunia.

Kini dua mahasiswa semester 7 itu sedang menyiapkan laporan hasil lawatannya dari Prancis. Mereka menargetkan publikasi jurnal Scopus agar hasil riset bisa menjangkau lebih banyak orang. Irfan dan Syafiqa juga berharap ada mahasiswa juniornya yang meneruskan riset tersebut. Saat ini masih berupa panduan pemasangan. Diharapkan ke depan bisa sampai dipraktikkan langsung oleh pemerintah dan perusahaan. (*/dan)

Editor : Mahmudan
Penelitian Mahasiswa Mahasiswa UB Malang Jaringan telekomunikasi