AROMA minyak gosok menguar dari ruang tamu rumah sederhana di Jalan Hasanudin, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo. Di atas sofa hijau, seorang lelaki sepuh duduk tegak. Seragam cokelat veteran lengkap dengan topi masih melekat rapi di tubuhnya.
Dialah Supakim Hardijanto. Usianya genap satu abad. Namun, ketika berbicara tentang masa perjuangan, ingatannya seolah membawa kembali tubuhnya ke puluhan tahun silam. Tangannya mungkin tak lagi sekuat dulu. Langkahnya juga tak lagi panjang. Tetapi cerita tentang perang, gerilya, hingga merakit persenjataan masih mengalir cukup rinci.
Di dada kirinya tersemat Bintang Pejuang Angkatan 45 dan Bintang Veteran. Dua penghargaan itu menjadi penanda atas pengabdian panjangnya kepada republik.
”Usia saya ini masih muda sekali, buktinya masih bisa jalan-jalan,” kelakarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, Sabtu (15/8). Untuk membuktikan usianya, Supakim bahkan menyodorkan kartu tanda penduduk (KTP).
Kisah perjuangannya bermula pada 1945. Saat sebagian besar anak seusianya mungkin masih sibuk dengan kehidupan masing-masing, Supakim justru memilih masuk dalam barisan pejuang. Tidak ada pertimbangan soal gaji atau imbalan. Yang ada hanya keyakinan untuk ikut mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
Namun, Supakim bukan prajurit yang berdiri di garis depan dengan senapan. Ia ditempatkan di bagian perbengkelan persenjataan atau Teknik Material 4 Angkatan Laut (AL) Pangkalan 9. Tugasnya tak kalah penting. Ia harus memastikan kebutuhan persenjataan para pejuang tetap tersedia.
Dari tempat itu, Supakim belajar membongkar dan merawat senjata, meracik amunisi, hingga membuat persenjataan darurat. Bersama rekan-rekannya, ia juga merakit bahan peledak dan granat secara sederhana di kawasan Dinoyo, yang kini menjadi area Kampus Universitas Islam Malang (Unisma).
Medan perjuangan kemudian bergeser. Setelah pertahanan Surabaya digempur pasukan Belanda pada 1946, markas Angkatan Laut dipindahkan ke Batu. Kawasan Sidomulyo hingga Punten berubah menjadi salah satu basis pergerakan pejuang.
”Di sana semua prajurit TNI bermukim, termasuk saya,” kenangnya.
Setahun berselang, Agresi Militer Belanda kembali berkobar. Batu jatuh ke tangan pasukan Belanda. Supakim bersama ribuan pejuang terpaksa meninggalkan wilayah tersebut. Mereka menembus hutan Pujon, Ngantang, hingga menuju perbatasan Kandangan, Kediri.
Di tengah hutan, perang berubah menjadi perang urat saraf. Persenjataan terbatas. Logistik pun tidak selalu tersedia. Di bawah komando sejumlah tokoh gerilya, seperti Ismanu, Abdul Manan Wijaya, dan Abdul Ghani, para pejuang bertahan dari kepungan pasukan Belanda.
Markas Belanda berada di Jambe Dawe, yang kini menjadi kawasan Hotel Kartika Wijaya. Dari sana, pasukan musuh berusaha menembus pertahanan gerilyawan. Namun medan pegunungan dan hutan menjadi keuntungan tersendiri bagi para pejuang.
Untuk menghadang tank-tank Belanda di sepanjang Jalan Suropati hingga Coban Ketak, misalnya. Para pejuang menebang pohon-pohon besar dan menjatuhkannya ke badan jalan.
“Senjata kami hanya bambu runcing, namun diberi doa oleh para kiai,” ujar Supakim sembari tertawa.
Perlawanan juga dilakukan dengan cara yang tak biasa. Para pejuang pernah menyamar menggunakan seragam petugas listrik. Tujuannya mengambil kabel saluran udara tegangan tinggi (sutet) untuk membangun jaringan listrik sederhana di markas Pujon.
”Kalau sekarang mungkin sudah tidak ada,” katanya.
Baca Juga: Dari Terpuruk di Piala Sudirman, Kisah Alwi Farhan Bangkit Juara Australian Open 2026
Ancaman tak hanya datang dari senjata. Mata-mata juga menjadi bagian dari perang. Supakim mengenang pasukan Belanda yang dipimpin seorang komandan bernama Mison kerap memanfaatkan penduduk yang baru kembali dari pengungsian untuk mencari informasi.
Para pejuang pun memiliki cara sendiri untuk mendeteksi penyusup.
”Kami cek tumitnya. Tumit yang halus katanya dianggap tentara pejuang Indonesia, karena pakai sepatu,” tuturnya.
Perjuangan bersenjata itu akhirnya memasuki babak baru setelah kesepakatan gencatan senjata dan pengakuan kedaulatan pada 1949. Setelah masa revolusi berakhir, Supakim tetap aktif dalam organisasi perjuangan. Sekitar 1957, ia bergabung dengan organisasi pejuang.
Kini, hampir seluruh rekan seperjuangannya telah tiada. Supakim menjadi salah satu saksi yang masih tersisa dari generasi tersebut. Seabad usia membuat kisahnya bukan sekadar catatan pribadi, melainkan potongan ingatan tentang perjalanan republik.
Ia pun masih memegang tiga prinsip yang diyakininya sejak muda: jujur, bijaksana, dan dinamis.
Bagi Supakim, panjang umur bukan sesuatu yang perlu dikejar. Yang lebih penting adalah kesehatan agar tetap bisa melakukan kebaikan.
”Jangan minta panjang umur, minta sehat untuk melaksanakan tugas yang baik,” ucapnya. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian