GESEKAN senar cello berpadu dengan suara paduan suara, dentingan piano, dan tiupan terompet. Lagu Bunga Seroja mengalun di Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus lalu. Di antara 182 talenta muda Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026, seorang pemuda berkacamata tampak fokus memainkan cello di barisan depan.
Dia adalah Gilang Larrivo Prayoga. Ivo, sapaan akrabnya, merupakan pemuda asal Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang kini duduk di semester lima Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Kesempatan tampil dalam upacara kenegaraan itu sekaligus menjadi momen membanggakan karena bisa membawa nama daerah asalnya ke panggung Istana.
Namun, perjalanan menuju GBN tidak mudah. Ivo harus bersaing dengan 301 pendaftar orkestra. Khusus posisi cello, terdapat 20 peserta yang memperebutkan tempat.
Seleksi tersebut juga menjadi kesempatan kedua bagi Ivo. Tahun sebelumnya, dia sempat mendaftar, tetapi gagal karena terlambat mengirimkan video tahap pertama.
”Tahun lalu saya daftar juga, tapi tidak lolos karena terlambat mengumpulkan video untuk seleksi tahap pertama,” cerita Ivo.
Pengalaman itu menjadi pelajaran. Pada 2026, dia mempersiapkan seleksi dengan lebih serius. Panitia meminta peserta mengirimkan video penampilan karya musik besar. Ivo memilih Cello Concerto in E minor.
”Karena menurut saya termasuk yang cukup sulit. Secara interpretasi juga harus sama,” jelas pemuda 21 tahun tersebut.
Video itu mengantarkannya lolos ke tahap berikutnya bersama 11 peserta lain. Seleksi dilanjutkan secara langsung pada Juli dan dinilai dewan juri, salah satunya Alvin Winarsa. Meski sempat gugup, Ivo berhasil melewati penilaian dan terpilih sebagai satu dari enam pemain cello GBN 2026.
Setelah dinyatakan lolos, tantangan berikutnya adalah latihan. Para talenta menjalani latihan daring pada 25–30 Juli sebelum diberangkatkan ke Kinasih Resort & Conference, Depok, untuk menjalani karantina mulai 1 Agustus.
Di sana, Ivo tidak hanya berlatih. Dia juga bertemu pemusik muda dari berbagai daerah. Perbedaan latar belakang justru membuat suasana semakin hidup. Mereka beberapa kali bermain musik bersama di sela agenda karantina.
”Kami juga beberapa kali membuat musik bersama di resort,” ujarnya.
Latihan berlangsung cukup ketat. Hampir sembilan jam dalam sehari mereka berlatih. Sesi khusus enam pemain cello berlangsung pukul 09.00 hingga 12.30. Sore hingga malam, latihan gabungan digelar pukul 17.00 sampai 22.00. Penggunaan ponsel pun dibatasi selama latihan.
”Selama latihan kami tidak boleh menggunakan ponsel. Jadi benar-benar dibatasi. Padahal kalau kita main musik terus kan capek. Kadang pelampiasannya main ponsel,” tutur Ivo.
Latihan panjang itu kemudian mengantarkan mereka ke Konser Kemerdekaan di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, 11 Agustus. Salah satu lagu yang dibawakan adalah Panggung Sandiwara milik Nike Ardilla.
Selepas konser, Ivo mendapat kejutan dari orang tuanya, Sri Agustini dan Roni. Keduanya menghubungi Ivo untuk memberikan ucapan selamat.
“Saya kira mereka tidak paham GBN, tapi ternyata mau memberi surprise dengan mengucapkan selamat setelah konser,” kenangnya.
Dukungan orang tua memang menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Ivo. Ketertarikannya bermula pada 2017 ketika masih duduk di MTs Hasyim Asy’ari Batu. Saat itu, dia tertarik memainkan keyboard milik sang ayah.
Ivo kemudian belajar piano secara otodidak melalui tutorial di internet dan terinspirasi permainan pianis Yiruma. Melihat keseriusannya, orang tua membelikannya Yamaha PSR-2100, keyboard arranger lawas yang menjadi instrumen awalnya.
Selepas MTs, Ivo sempat bersekolah di SMK Negeri 3 Kota Batu. Namun pada 2021 dia memilih masuk Sekolah Menengah Musik (SMM) Jogjakarta. Awalnya piano menjadi pilihan utama dan cello pilihan kedua. Namun, guru mengarahkannya menekuni cello karena postur tubuhnya dinilai sesuai.
“Semula saya sempat tidak diperbolehkan daftar oleh papa. Papa khawatir saya jadi tidak lanjut main piano,” ungkapnya.
Kekhawatiran itu tidak terbukti. Ivo tetap menekuni piano dengan genre jazz, sementara cello diarahkan ke musik klasik. Hingga akhirnya, dua instrumen tersebut membawanya ke panggung Istana Negara.
Persiapan terakhir bahkan berlangsung hingga dini hari. Sekitar pukul 03.00, para talenta sudah berada di Istana untuk check sound.
”Saya pun jadi tidak tidur seharian gara-gara persiapan massal,” tuturnya.
Semua lelah terbayar ketika GBN tampil pada 17 Agustus. Bagi Ivo, pengalaman itu bukan sekadar soal tampil di Istana, tetapi juga menyaksikan rangkaian perayaan kemerdekaan secara langsung.
”Saya takjub sekali. Tidak hanya karena bisa tampil di Istana Negara, tapi karena penampilan lain seperti atraksi pesawat hingga after dinner party,” katanya.
Selepas GBN, Ivo belum ingin berhenti. Setelah mengikuti sejumlah ajang seperti Synchronize, Konser Memetik Mimpi-Mimpi, hingga Melbourne Symphony Orchestra, dia kini menyiapkan target berikutnya.
“Target saya sebelum wisuda bisa membuat konser tunggal,” pungkasnya. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian