HUTAN Takaguma Experimental Forest di kaki Pegunungan Takakuma, Pulau Kyushu, Jepang, menjadi tempat Yogo Setiawan menghabiskan banyak waktunya. Bukan untuk sekadar menikmati suasana hutan, melainkan memburu serangga berukuran hanya beberapa milimeter.
Selama setahun terakhir, dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) itu rutin memasang perangkap dan mengumpulkan sampel kumbang. Pengambilan sampel dilakukan setiap dua pekan.
Dari aktivitas tersebut, Yogo menemukan spesies baru kumbang ambrosia yang sebelumnya belum teridentifikasi. Temuan itu menjadi salah satu hasil penting dari penelitian doktoralnya di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University.
”Ini sudah tahun ketiga saya di Jepang. Insyaallah tahun depan segera pulang ke Indonesia,” kata Yogo saat diwawancarai Jawa Pos Radar Malang.
Pria 31 tahun asal Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, itu memang sudah lama berkutat dengan kumbang ambrosia atau kumbang kulit kayu. Ketertarikannya terhadap serangga tersebut bahkan bermula ketika masih menempuh pendidikan S1 di UB.
Saat itu, Yogo meneliti keanekaragaman jenis kumbang ambrosia di hutan jati Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang. Ketertarikan tersebut berlanjut ketika menempuh pendidikan S2 dengan fokus penelitian efektivitas perangkap untuk menangkap kumbang jenis tersebut.
Kini, penelitian itu membawanya jauh hingga Jepang. Di Takakuma Experimental Forest, Yogo meneliti kumbang ambrosia yang hidup di kawasan hutan dengan karakter geografis berbeda dibandingkan sejumlah wilayah Jepang lainnya.
Berada di kaki Pegunungan Takakuma, kawasan tersebut memiliki iklim yang relatif lebih hangat dibandingkan wilayah tengah dan utara Jepang. Kondisi itu membuat keragaman serangga di dalamnya menarik untuk diteliti.
Selama penelitian, Yogo melewati sejumlah musim. Mulai musim panas, gugur, hingga semi. Berbagai sampel kumbang dikumpulkan untuk kemudian diidentifikasi. Fokusnya tetap pada kumbang ambrosia.
Bagi Yogo, kumbang tersebut bukan sekadar serangga kecil yang hidup di dalam kayu. Keberadaannya memiliki peran dalam ekosistem hutan karena berkaitan dengan proses penguraian material kayu dan daur ulang unsur hara.
Namun, peran tersebut bisa berubah ketika kumbang masuk ke kawasan hutan produksi. Jenis tanaman seperti pinus, sengon, dan eucalyptus dapat menjadi sasaran.
”Tapi, kalau kumbang ini bermigrasi ke hutan produksi seperti pinus, sengon, dan eucalyptus, itu bisa menjadi hama. Di Indonesia bahkan kumbang ini sudah dilaporankan menyerang tanaman kopi,” papar Yogo.
Ukuran tubuh kumbang ambrosia yang hanya sekitar 1–6 milimeter menjadi tantangan tersendiri. Habitatnya yang berada di dalam kayu juga membuat proses pengambilan sampel tidak bisa dilakukan sembarangan.
”Tantangannya saat masuk ke dalam hutan dan membongkar kayu. Belum lagi kalau mau sampling pasif, harus memasang perangkap,” imbuhnya.
Dari proses tersebut, Yogo menemukan spesies yang kemudian diidentifikasi sebagai Hyorrhynchus takakumaensis. Oleh masyarakat setempat, spesies tersebut dikenal dengan nama Takakuma-Okikuimushi.
“Itu baru teridentifikasi oleh saya tahun ini. Saya menemukannya di hutan konifer Takaguma Experimental Forest,” ujarnya.
Temuan itu tidak langsung ditetapkan sebagai spesies baru. Yogo terlebih dahulu berkonsultasi dengan ahli taksonomi kumbang ambrosia dari Michigan State University. Spesimen tersebut juga dibandingkan dengan koleksi yang tersimpan di sejumlah museum, termasuk National Agriculture and Food Research Organization (NARO) di Tsukuba, Jepang.
Perbedaan spesies tersebut terlihat dari karakter morfologinya. Di antaranya bagian epistoma yang memiliki tanduk atau tuberkel berbentuk lebar. Selain itu, pola setae dan vestiture pada elitra juga berbeda dengan spesies lain dalam genus Hyorrhynchus.
Tak hanya spesies baru. Penelitian Yogo juga menghasilkan catatan baru mengenai persebaran dua spesies kumbang ambrosia lain, yakni Anisandrus auratipilus dan Debus shoreae.
”Untuk catatan baru (new record) merupakan spesies yang baru ditemukan diluar wilayah lain atau negara lain,” jelasnya.
Penelitian mengenai kumbang ambrosia juga pernah dilakukan Yogo bersama sejumlah peneliti dari BRIN, University of Florida, dan University of Michigan di UB Forest, Karangploso, pada 2024. Dari penelitian tersebut, ditemukan empat spesies yang baru teridentifikasi.
Sepulang dari Jepang nanti, Yogo memastikan penelitian kumbang ambrosia tidak berhenti. Masih banyak wilayah yang menurutnya berpotensi menyimpan spesies yang belum teridentifikasi.
“Kemungkinan masih ada banyak spesies kumbang ambrosia gang belim teridentifikasi atau dideskripsikan di Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, kemungkinan akan menggandeng kampus lain di Pulau Sulawesi, Kalimantan, atau bahkan di wilayah Malang Raya lagi untuk mengeksplorasi kumbang ini,,” tandas Yogo. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian