Malang, Radar Malang – Tepat hari ini (26/8), lahir di dunia seorang pejuang yang berdedikasi di bidang kemanusiaan yang jasa-jasanya diakui oleh dunia.
Bunda Teresa, itulah panggilan yang disematkan untuknya. Sebenarnya, Teresa bukanlah nama aslinya. Nama tersebut diambil dari Santa Theresia dari Lisieux yang merupakan santo pelindung misionaris yang ia pilih saat kaul pertamanya pada 1931. Bunda Teresa lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu di Makedonia Utara pada tahun 1910.
Sejak kecil kehidupan yang dialami Bunda Teresa tidaklah berjalan dengan sempurna. Ayahnya meninggalkan dirinya pada usia delapan tahun. juga membuat keluarganya menghadapi kesulitan finansial.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu! Paus Leo XIV Pernah Mengabdi di Peru dan Menolak Hidup Mewah
Baca Juga: Ribuan Umat Katolik di Kota Malang Ikuti Perayaan Ekaristi
Ketika beranjak dewasa, Bunda Teresa yang saat itu berusia 18 tahun tergerak menjadi misionaris. Oleh karena itu, ia meninggalkan rumahnya untuk kemudian bergabung dengan Sisters of Loreto di Irlandia pada tahun 1948.
Bergabung dengan Biara Lorotto ini nantinya yang membuat Bunda Teresa dikirim untuk melakukan pelayanan di India dan di mana ia memulai kisahnya dalam pengabdian pada kemanusiaan.
Panggilan untuk menjadi pejuang kemanusiaan didapatkan Bunda Teresa pada tahun 1931 – 1948, saat ia mengajar di Sekolah Menegah St. Mary di Kalkuta.
Baca Juga: Ribuan Umat Kristen-Katolik Jalani Ibadah Natal di Kota Malang
Baca Juga: Rayakan 125 Tahun Yayasan Sekolah Katolik Cor Jesu, Suguhkan Drama Perjuangan Suster Ursulin
Saat itu, kondisi masyarakat di luar biara yang dilihat oleh Bunda Teresa menyentuh hati dalam dirinya, sehingga pada tahun 1948, segera setelah izin diberikan, Bunda Teresa kemudian melanjutkan pengabdian di luar biara untuk kaum miskin di daerah kumuh Kalkuta.
Mendirikan sekolah, belajar medis dasar untuk mengobati kaum miskin yang berkekurangan dilakukan sebagai bentuk pelayanannya. Pernah suatu hari ia menemukan seorang wanita yang berhasrat menggugurkan janinnya, namun oleh Bunda Teresa berhasil dicegah dan dirinya menawarkan biaya dan membesarkannya.
Lebih lanjut, cakupan pelayanan semakin meluas saat Bunda Teresa menerima izin dari Takhta Suci Vatikan pada Oktober 1950 untuk mendirikan ordonya sendiri yang dinamai Ordo Para Misionaris Cinta Kasih.
Baca Juga: Resmi Menjabat, Paus Leo XIV Serukan Persatuan dan Cinta Kasih dalam Misa Pelantikan di Vatikan
Selang dua tahun, sebuah kuil yang terbengkalai disulap olehnya menjadi rumah perawatan didirikan untuk menampung orang-orang miskin agar tidak meninggal di jalanan. Selain orang miskin, penderita kusta, anak-anak tunawisma dan yatim juga turut disediakan tempat untuk tinggal oleh Bunda Teresa.
Bunda Teresa bersama Palang Merah Internasional juga pernah terlibat dalam misi penyelamatan anak-anak yang terperangkap dalam konflik Israel dan Palestina.
Apa yang dilakukan Bunda Teresa hari menarik atensi dunia internasional dan mendapat banyak pujian di kemudian hari. Atas apa yang ia kerjakan, ia mendapatkan Hadiah Perdamaian Paus Yohanes XXIII (1971), Hadiah Balzan (1979) serta penghargaan Templeton dan Magsaysay, dan penghargaan prestisius Nobel Perdamaian 1979.
Bunda Teresa meninggal pada usia 87 tahun karena serangan jantung dan kesehatannya yang menurun akibat komplikasi medis yang dideritanya.
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Penghentian Perang di Gaza, Ukraina, dan Perbatasan India-Pakistan
Baca Juga: Paus Leo XIV Ternyata Pernah Menginjakkan Kaki di Tanah Papua pada 2003
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari beberapa sumber