Menyerupai Taj Mahal, Tiga Kali Berganti Nama dan Kepemilikan
Gedung Pusat Perbelanjaan Mitra I menyimpan sejarah memikat. Arsitektur bangunannya ikonik karena didesain menyerupai kemegahan Taj Mahal di India. Juga menjadi bioskop spesialis memutar film Hollywood.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
JAUH sebelum bioskop modern memenuhi pusat perbelanjaan, Kota Malang adalah rumah bagi riuk pikuk layar lebar. Hiburan warga merentang luas. Mulai bioskop Misbar (gerimis bubar) yang merakyat hingga gedung-gedung pertunjukan megah bergaya kolonial.
Di antara deretan gedung pertunjukan tempo dulu, Bioskop Alhambra di Jalan Agus Salim, Klojen, Kota Malang menyimpan riwayat paling memikat. Berdiri megah sejak era Pemerintah Hindia Belanda, bangunan legendaris ini sempat tiga kali berganti nama dan kepemilikan. Kini berubah menjadi Pusat Perbelanjaan Mitra I.
Cikal bakal bioskop di Kota Malang sebenarnya berawal dari Bioskop Flora pada 1923. Bekas gedung pertemuan Belanda itu disulap menjadi tempat pemutaran film, yang kini menjadi toko di sudut persimpangan Jalan Agus Salim dan Jalan Zainul Arifin. Sejak saat itu, geliat bioskop mulai menjamur di sudut-sudut kota.
Tak jauh dari Pendapa Agung Kabupaten Malang, Bioskop Alhambra kemudian lahir dan mencuri perhatian.
”Alhambra dibangun dan diresmikan pada 1927 oleh Hasan Soerati, seorang pengusaha muslim keturunan Pakistan," tutur penggiat sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang, Hannu Ayodya Mamola kemarin (26/8).
Secara arsitektur, Alhambra sangat ikonik karena dirancang menyerupai kemegahan Taj Mahal. Bangunan tersebut dirancang oleh biro arsitektur terkemuka masa itu. Yakni Smeets, Kooper & Hoogerbeets.
Peresmiannya berlangsung semarak dan dihadiri jajaran elite kota.
”Bupati Malang hadir bersama istri (Raden Ayu) dan putrinya. Mereka didampingi para patih,” katanya.
”Sedangkan dari kalangan Belanda hadir Mr Wins, Kepala Malang Stoomtram Maatschappij (MSM), beserta arsitek pembuatnya," ungkap Ayodya.
Suasana makin hangat dengan hadirnya anak-anak Muhammadiyah yang menjajakan buket bunga untuk penggalangan kas organisasi. Namun, kejayaan Alhambra perlahan memudar memasuki pertengahan 1930-an. Seiring berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda dan impitan krisis keuangan, nama Alhambra resmi ditanggalkan pasca-kemerdekaan dan berganti menjadi Bioskop Grand.
Sempat berembus kabar bahwa Bioskop Alhambra hangus dalam peristiwa Malang Bumi Hangus. Yaitu aksi pembumihangusan bangunan strategis oleh para pejuang kemerdekaan. Namun tidak ada keterangan resmi yang mengonfirmasi kabar burung tersebut.
"Dari dokumentasi masa Agresi Militer 1947–1948, gedung Bioskop Grand masih utuh dan persis seperti Alhambra, hanya namanya saja yang berubah," terang Ayodya.
Kepemilikan gedung juga bergeser dari keluarga Soerati ke tangan pengusaha keturunan Tionghoa, Njoo Tiong Gie. Njoo lebih dikenal sebagai Fred Young. Memasuki dekade 1960-an, Bioskop Grand bersolek lagi dengan nama baru, yakni Bioskop Agung.
Perjalanan panjang tempat hiburan ini akhirnya sampai di titik akhir pada era 1980-an. Kemegahan gedung bergaya arsitektur oriental-mogul itu dirobohkan total, memberi jalan bagi modernisasi dalam bentuk pusat perbelanjaan Mitra I.
Meski berganti nama dan pemilik dari zaman ke zaman, ada tradisi langka yang tak pernah luntur dari napas bioskop sejak lahir hingga tutup usia. Yaitu kesetiaannya memutar film-film Hollywood.
Rekam jejak tradisi Hollywood tersebut bahkan abadi dalam lembaran koran tua.
"Pada iklan pemutaran film di koran pada 1950, tercatat Bioskop Grand sedang memutar film-film populer masa itu, seperti Call Me Mister Marcopolo, Smugglers Island, dan When Willie Comes Marching Home," pungkas Ayodya.(*/dan)
Editor : Mahmudan