JARAK usia yang hanya setahun membuat Zebe Kaffa dan Danae Almer tumbuh dalam dunia yang sama. Sepeda BMX menjadi keseharian mereka. Begitu pula persaingan di lintasan. Namun, ada kalanya hubungan sebagai kakak adik jauh lebih penting daripada menjadi pesaing.
Momen itu terjadi ketika keduanya tampil pada Asian BMX Championships 2026 dan Malaysia BMX International 2026. Berstatus sebagai atlet yang sama-sama membela Indonesia, Zebe dan Danae saling menyemangati di sela perlombaan.
Zebe yang masih berusia 15 tahun, menjadi salah satu pembalap kategori Men Youth. Siswa SMAN 6 Malang tersebut datang dengan persiapan tiga bulan. Latihan fisik dan strategi dilakukan di Malang mengikuti program dari pelatih. Sebelum lomba, dia juga menjajal lintasan Arena BMX Nasional, Malaysia.
Pengalaman tampil di luar negeri sebenarnya bukan hal baru bagi Zebe. Pada 2023, dia pernah mengikuti kejuaraan di Thailand. Namun, saat itu podium belum berhasil diraih.
Karena itu, perlombaan di Malaysia menjadi kesempatan untuk memperbaiki hasil. Dukungan orang terdekat juga ikut menguatkan. Biasanya ditemani orang tua, kali ini Zebe hanya bersama pelatih, paman, dan Danae.
”Kakak saya juga ikut di kejuaraan tersebut sekaligus memberikan semangat agar memberikan hasil terbaik,” ujar Zebe.
Performa Zebe sejak babak penyisihan cukup menjanjikan. Dia selalu berada di tiga besar pada moto 1 hingga moto 3. Saat final Asian BMX Championships, persaingan berlangsung ketat dengan pembalap Jepang dan Thailand.
Zebe akhirnya finis di posisi ketiga. Medali perunggu kategori Men Youth usia 15 tahun menjadi podium internasional pertamanya.
Hasil tersebut belum membuat Zebe berpuas diri. Pada Malaysia BMX International, dia kembali tampil agresif. Persaingan sengit terjadi hingga lap terakhir, terutama dengan pembalap Jepang. Kali ini, Zebe finis di posisi kedua dan meraih medali perak.
”Saya masih penasaran dengan kejuaraan-kejuaraan internasional lain yang mungkin akan saya datangi,” katanya.
Di sisi lain, Danae datang dengan pengalaman lebih panjang. Atlet yang kini bersekolah di SMA Ragunan Jakarta tersebut telah dua kali berlaga di Thailand dan pernah menjalani training camp di Australia.
Sejak SD, Danae memang pindah ke Jakarta untuk mengikuti program pembinaan Kemenpora. Latihan dilakukan terpisah dari Zebe. Namun, status sebagai atlet asal Malang tetap dibawanya.
Pengalaman itu membuat Danae menjadi salah satu tumpuan Indonesia. Pada Asian BMX Championships, dia bahkan tampil dominan sejak moto 1 hingga moto 3. Sayangnya, peluang meraih emas kandas ketika kram menyerang di babak final.
Raut kecewa tak bisa disembunyikan. Namun, dukungan dari orang-orang terdekat membuat Danae segera bangkit. Termasuk dari Zebe yang berada di lokasi perlombaan.
”Saya tentu saja sangat sedih. Namun saat sedang down, saya dapat dukungan dari pelatih, paman, dan adik saya serta orang tua yang memberi kabar dari Indonesia,” tutur Danae.
Kegagalan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk perlombaan berikutnya. Pada Malaysia BMX International, Danae kembali turun dengan tekad memperbaiki hasil.
Persaingan berlangsung ketat. Pembalap asal Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Thailand, dan Malaysia terus menguntit. Danae harus menjaga ritme sekaligus mempertahankan posisi hingga garis finis.
Kali ini, dia berhasil melewati seluruh tantangan. Danae keluar sebagai juara dan membawa pulang medali emas.
Kemenangan itu terasa semakin lengkap karena Zebe juga berhasil naik podium. Kakak adik tersebut akhirnya sama-sama membawa medali dari Malaysia.
Di luar lintasan, keduanya mungkin kembali menjadi saudara yang saling bersaing. Namun, pengalaman di Malaysia memberi cerita berbeda. Mereka bisa saling menguatkan ketika salah satu mengalami kegagalan dan merayakan ketika yang lain berhasil.
Danae berharap momen tersebut bukan menjadi yang terakhir. Dia ingin kembali tampil bersama Zebe dalam kejuaraan internasional berikutnya. Bukan hanya untuk mengejar podium, tetapi juga membawa nama Indonesia dan Kota Malang lewat lintasan BMX. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian