Terinspirasi dari tren di luar negeri, Tendra Lucky Kurniawan menghasilkan karya seni dari lumut yang menjadi alternatif media tanam anggrek (moss art). Kini dia mampu memopulerkan hingga seluruh Indonesia.
INDAH MEI YUNITA
POTONGAN lumut hijau ditempelkan secara acak dalam bingkai. Bagian tengah terdapat kayu stigi dan dedaunan sebagai ornamen yang menambah variasi karya. Sekilas, hiasan dinding tersebut terlihat seperti baru saja disiram.
Namun ketika disentuh, karya seni yang disebut moss art itu benar-benar kering. Tanpa ada cipratan air atau aroma tanah lembap. Itu karena lumut hutan (moss) telah diawetkan menggunakan cairan khusus. Sehingga dapat diaplikasikan menjadi karya seni interior dengan estetika tinggi.
Inovasi tersebut lahir dari tangan kreatif Tendra Lucky Kurniawan, warga Desa Sidomulyo, Bumiaji. Memiliki latar belakang di bidang pembuatan taman dan aqua scape, Lucky terbiasa berkutat dengan vegetasi unik.
“Sejak tahun 2000-an, orang tua saya sudah berjualan anggrek. Hingga sekitar 2016, saya melanjutkan usaha tersebut dan berlangsung hingga sekarang,” ujar pria 38 tahun itu.
Beberapa tahun bergelut di dunia bisnis anggrek, penjualannya sempat menurun pada rentang 2020-2021. Itu imbas pandemi Covid-19.
Dia pun memutar otak supaya perekonomian tetap berjalan. Hingga akhirnya dapat inspirasi dari media sosial Pinterest untuk menyusun moss yang digunakan untuk media tanam anggrek alternatif menjadi hiasan dinding bertema lanskap alam.
Kala itu karya seni tersebut belum banyak dikenal masyarakat. Utamanya di Kota Batu. Padahal, di luar negeri, karya tersebut sudah populer. Dia memanfaatkan hal tersebut sebagai peluang.
Awal mula mencoba, dia mengunggah karyanya melalui WhatsApp. Ukurannya masih mini. Sesuai bingkai foto pada umumnya. Namun respons publik memuaskan dia.
“Setelah beberapa tahun hanya memasarkan melalui WhatsApp dengan lingkup kecil, baru satu tahun ini mulai pemasaran hingga luar kota,” kata Lucky.
Proses mewujudkan lumut yang tahan lama itu juga cukup kompleks. Lumut asli yang di-suplai dari kawasan hutan di Batu, Jember, hingga Banyuwangi harus melalui proses pengawetan kimiawi terlebih dahulu.
Kandungan air di dalam jaringan lumut dihilangkan sepenuhnya. Setelah kering, lumut diberi larutan khusus yang mengandung pewarna dan cairan menyerupai minyak. Tujuannya supaya tidak mudah menguap. Larutan tersebut yang bakal menjaga tekstur lumut tetap lembut dan warnanya tetap hijau segar selama bertahun-tahun meski tanpa disiram.
Terdapat dua jenis moss art yang ditawarkan. Yakni natural dan artificial. Untuk natural moss art yang khusus disimpan di dalam ruangan, penyiraman cukup disemprot dengan larutan khusus sebanyak dua kali dalam setahun. Sinar matahari dapat memudarkan warna moss menjadi kekuningan. Sementara air justru membuat cairan pengawet di dalamnya menguap dan memicu tumbuhnya jamur.
Selain natural, Lucky juga menyediakan artificial moss art yang terbuat dari bahan-bahan buatan. Misalnya dari styrofoam. Artificial moss art tersebut bisa dipajang di luar ruangan tanpa memerlukan perawatan khusus.
Karya seni tersebut dijual dengan harga beragam. Untuk natural moss art mulai Rp 3 juta per meter persegi. Sedangkan yang artificial moss art mulai Rp 2 juta per meter persegi. Pemasaran masif yang dijalankan lewat media sosial dan promosi dari mulut ke mulut membawa karya moss art tersebut menghiasi berbagai ruang eksklusif.
Mulai dari hunian pribadi, vila, kafe, pabrik, hingga klinik kecantikan di Malang dan Surabaya. Bahkan, pesanan karya custom-nya telah terbang jauh menembus pasar luar pulau. Seperti Bogor, Kalimantan, hingga menghiasi interior bangunan di kawasan wisata Labuan Bajo, Flores.
“Ke depan, kami berharap bisa menyediakan moss art dengan konsep Do-It-Yourself (DIY),” kata Lucky.
Konsep tersebut saat ini tengah digandrungi masyarakat sebagai sarana pelepasan stres melalui seni. Dia berencana menyediakan paket bahan terpisah agar konsumen dapat merangkai lanskap moss art sesuai imajinasi mereka sendiri. (*/dan)
Editor : Mahmudan