Ada solusi bagi anak autis yang gampang marah, tantrum, hingga mengamuk. Tak harus ke terapis. Tapi cukup memakai rompi pendeteksi stress. Ini hasil temuan lima mahasiswa Universitas Brawijaya.
RAMIZARD RAFSANJANI
TANGISAN pecah. Suara teriakan menyusul, disertai gerakan tubuh tak terkendali sering dialami anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Umumnya hal itu terjadi karena mereka kewalahan menerima rangsangan berlebih dari lingkungan sekitar.
Hal yang bagi orang lain terasa biasa, bisa menjadi begitu berat bagi anak dengan ASD. Kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan sensory processing yang kemudian dapat memicu tantrum hingga meltdown.
Situasi itulah yang mengusik lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk menghasilkan karya monumental. Mereka mengembangkan ADAPT-V, alat untuk mendeteksi stress, sekaligus meredamnya.
Teknologi wearable tersebut dirancang bukan sekadar sebagai rompi. Sistemnya terintegrasi dengan jam tangan dan aplikasi smartphone untuk mendeteksi kondisi anak sekaligus memberikan respons ketika tanda-tanda tantrum mulai teridentifikasi.
”ADAPT-V menggunakan pendekatan Deep Pressure Therapy (DPT). Terapi tersebut memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman, menyerupai pelukan hangat,” ujar Muhammad Nafis Khilmi, anggota tim dari Prodi Psikologi UB.
Konsep itu kemudian diadaptasi ke dalam sebuah sistem otomatis. Ketika anak mulai tantrum atau meltdown, rompi memberikan tekanan menenangkan. Dengan demikian, si anak menjadi tentang tanpa bantuan orang tua, pengasuh, atau terapis.
Gagasan tersebut relevan karena jumlah anak dengan autisme terbilang besar. Berdasarkan data 2023, sekitar 3,2 juta anak Indonesia mengalami autisme. Angka tersebut menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk mencari inovasi yang dapat memberikan dukungan bagi anak dengan ASD.
”Riset ADAPT-V telah berlangsung sekitar satu tahun. Sementara pengembangan perangkatnya berjalan lebih dari empat bulan, mulai sistem rompi, jam tangan, hingga aplikasi pendukung,” timpal ketua tim Zakky Yahya yang berdiri di samping Nafis.
Cara kerja perangkat tersebut cukup kompleks. Rompi dilengkapi sensor MAX30102 sehingga dapat membaca denyut nadi. Kemudian MPU6050 berfungsi untuk memantau gerakan tubuh. Data dari kedua sensor tersebut lantas dianalisis menggunakan algoritma Machine Learning berbasis Support Vector Machine (SVM). Sistem ini digunakan untuk mendeteksi kondisi ketika anak mulai memasuki fase tantrum.
Begitu kondisi tersebut terdeteksi, mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan micro air pump DC. Pompa kemudian mengisi kantung udara yang berada di dalam rompi sehingga menghasilkan tekanan terkontrol pada tubuh anak.
”Tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Aspek keamanan harus diperhatikan,” terangnya. ”Besaran tekanan juga disesuaikan dengan usia anak,” tambah Sugih Rizkiawan, anggota tim dari teknik elektro UB.
Saat ini, ADAPT-V ditujukan untuk anak berusia 7 hingga 15 tahun. Meski demikian, perangkat tersebut belum diuji secara langsung kepada anak dengan autisme. Sejauh ini pengujian masih menggunakan dataset untuk menguji kemampuan sistem dalam membaca kondisi fisiologis dan gerakan anak. Berdasarkan pengujian berbasis data dan riset, sistem tekanan dirancang dengan mempertimbangkan batas aman sesuai usia.
Dengan sistem tersebut, para mahasiswa ini berharap dapat membantu orang tua yang mempunyai anak ASD.
”Dengan rompi ini, orang tua maupun terapis dapat memantau kondisi anak secara real-time,” bebernya.
Rompi, jam tangan, dan smartphone anti-stress ini dihasilkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Inovasi tersebut mendapat bimbingan Ir Nurussa’adah MT dari Teknik Elektro dan Dr dr Agung Riyanto Budi S SpOT dari Kedokteran UB.
Kini, perjalanan ADAPT-V masih belum selesai. Para mahasiswa ini berharap perangkat tersebut dapat disempurnakan, hingga kelak bisa diuji langsung dan benar-benar memberikan manfaat bagi anak dengan autisme maupun keluarga yang mendampingi mereka.(*/dan)
Editor : Mahmudan