SUARA countdown terdengar dari balik start gate. Tujuh pembalap bersiap melesat di Sirkuit Arena BMX Nasional, Malaysia. Ketika gate terbuka, sepeda putih Maulidya Ruby Azzahra justru masih tertinggal dari pembalap lainnya.
Ruby salah menangkap suara bip sebagai tanda untuk memulai start. Saat pembalap lain sudah melaju, dia baru menekan pedal dan memacu sepedanya. Kesalahan itu membuat Ruby harus mengejar ketertinggalan sejak awal.
“Seharusnya saat bip pertama semua pembalap sudah turun. Tetapi saya malah mendengar bip kedua. Saat semua pembalap sudah turun, saya baru memulai start,” kata siswi kelas IX SMP Ibnu Sina Kota Malang tersebut.
Bangkit di Tikungan Pertama
Ruby mulai memangkas jarak ketika memasuki tikungan pertama. Dalam satu rangkaian manuver, dia berhasil melewati tiga pembalap sekaligus. Kecepatannya kemudian terus meningkat saat memasuki berm kedua atau tikungan miring.
Performa tersebut cukup kontras dengan babak kualifikasi. Pada moto 1 hingga moto 3, Ruby selalu finis di posisi pertama atau kedua. Dia bahkan mampu bersaing dengan pembalap unggulan asal Tiongkok.
Di final, keraguan sempat muncul ketika Ruby melihat jaraknya dengan pembalap lain. Namun, pesan ayah dan kakaknya kembali teringat. Dia diminta tidak berhenti berusaha sebelum melewati garis finis.
Dorongan itu membuat kayuhan Ruby semakin kuat. Perlahan, posisinya naik hingga urutan ketiga. Di depannya masih terdapat pembalap Thailand di posisi kedua dan wakil Tiongkok yang memimpin lomba.
Enggan Ambil Risiko di Berm Terakhir
Peluang Ruby untuk merebut posisi runner-up sebenarnya kembali terbuka ketika memasuki berm terakhir. Namun, dia memilih tidak memaksakan manuver karena kondisi lintasan yang sempit.
“Apabila mengambil bawah takut lawan saya jatuh. Begitu juga saat mengambil bagian atas saya juga ada potensi jatuh dan mengakibatkan lawan saya juga jatuh,” kenangnya.
Ruby akhirnya melewati garis finis di posisi ketiga. Medali perunggu kategori Challenge Girls 14 Years Old pun menjadi miliknya.
Hasil itu sempat membuatnya kecewa. Namun, kekecewaan tersebut perlahan berubah menjadi kepuasan setelah mengingat perjuangannya memperbaiki kesalahan start.
Modal dari Sejumlah Podium
Pencapaian di Malaysia tidak datang tanpa persiapan. Sebelum mengikuti Asian BMX Championship 2026, Ruby sudah mengantongi sejumlah hasil positif.
Pada BMX Supercross C1 2026, dia meraih satu medali emas dan satu perak. Sementara dalam Kejurnas BMX Racing 2026 pada Juli lalu, Ruby kembali merebut medali emas.
Modal tersebut membuat pembalap 14 tahun itu percaya diri mengikuti Asian BMX Championship dan Malaysia BMX International C1 Class yang berlangsung 8–9 Agustus. Dia bahkan tiba bersama kontingen Indonesia sekitar sepekan sebelum perlombaan.
Waktu tersebut dimanfaatkan untuk mengenali karakter Sirkuit Arena BMX Nasional. Ruby menjajal lintasan hingga empat kali, termasuk saat official practice.
Menurut Ruby, karakter trek di Malaysia berbeda dengan lintasan yang biasa dia temui. Permukaannya cenderung berpasir dengan kontur yang tebal dan gembur. Kondisi tersebut membuat sepeda lebih mudah bergeser ketika melakukan manuver.
Dia pun menyesuaikan teknik sprint dan pumping. Pumping merupakan gerakan mengikuti kontur lintasan dengan memanfaatkan gerakan tubuh tanpa terus-menerus mengayuh pedal.
Engkel Keseleo, Finis Keempat di C1 Class
Belum sempat beristirahat setelah merebut medali perunggu, Ruby kembali turun ke lintasan keesokan harinya. Kali ini, dia mengikuti Malaysia BMX International C1 Class.
Namun, kondisi fisiknya tidak sebaik sehari sebelumnya. Engkel kanannya mengalami keseleo.
Cedera tersebut belum terlalu terasa saat moto 1 hingga moto 3. Ruby masih mampu mencatat hasil bagus dengan menempati posisi pertama dan kedua. Masalah baru terasa ketika memasuki final.
Start kali ini berjalan lebih baik. Ruby langsung berada di kelompok empat besar dan sempat memiliki peluang merebut posisi ketiga yang ditempati pembalap Indonesia.
Namun, rasa nyeri membuatnya memilih tidak memaksakan diri. Ruby akhirnya menyelesaikan lomba di posisi keempat.
Dua perlombaan di Malaysia memberikan pengalaman baru bagi Ruby. Bukan hanya tentang podium, tetapi juga bagaimana membaca karakter lawan dan lintasan dalam persaingan internasional.
“Saya juga mulai mengetahui cara bertanding melawan anak-anak luar (negeri),” tutur Ruby.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Ruby untuk menghadapi target berikutnya. Tahun depan, dia berencana kembali mengikuti kejuaraan internasional di Thailand.
Sebelum itu, Ruby tetap menjalani latihan dan mengikuti berbagai kejuaraan downhill. Disiplin tersebut sudah ditekuninya selama dua tahun terakhir sebagai bagian dari pengembangan kemampuan balapnya.
Editor : Aditya Novrian