Menginspirasi, Pemuda Asal Malang yang Meraih Beasiswa LPDP di London setelah 15 Kali Gagal

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 09:54 WIB
Agung Yunanto di Imperial College London
Agung Yunanto di Imperial College London

 

Sejak kecil Agung Yunanto melihat ibunya berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil berdagang yang tak menentu. Di tengah keterbatasan itu, ia justru menggantungkan mimpi setinggi langit. Menembus beasiswa ke Imperial College London setelah 15 kali gagal.

 

RAMIZARD RAFSANJANI

KEHILANGAN ayah sejak kecil membuat Agung bersama ibu dan adiknya hidup serba pas-pasan. Sebagai anak sulung, dia bertekad untuk memperbaiki kehidupan keluarga. Tentu, perekonomian keluarganya tidak sebagus ketika sang ayah masih hidup.

”Saya punya keinginan kuat untuk terus maju dan berkembang. Saya harus sukses dan membantu keluarga,” ujar Agung mengenang masa kecilnya.

Ia sadar, peluang sukses akan terbuka lebih lebar jika pendidikannya tinggi. Apalagi, sejak kecil ibunya selalu menanamkan pentingnya pendidikan. Setelah lulus SMA, pria kelahiran Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang itu lantas masuk Universitas Brawijaya (UB). Ia mengambil Jurusan Kimia. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2021, putra pasangan Hartoyo dan Sri Wahyuningsih itu lulus. S

Sebenarnya Agung muda ingin langsung kuliah. Tapi tidak mungkin dia terus meminta uang dari ibunya. Apalagi penghasilan ibu dari berdagang di pasar tidak menentu. Belum lagi ibunya juga harus membiayai pendidikan adiknya.

Oleh karena itu, pria kelahiran Malang, 4 Agustus 1999 itu memilih bekerja. Dua tahun menjalankan tugas sebagai quality control di salah satu perusahaan swasta di Pasuruan, kemudian pindah ke Sidoarjo. Pekerjaan di sidarjo dijalani sampai tiga tahun.

Selama bekerja itu ia tidak pernah melupakan mimpinya. Anak pertama dari dua bersaudara itu terus mencari beasiswa. Dia sadar betul bahwa biaya pendidikan jenjang magister tidak mudah, sehingga harus pakai beasiswa. Apalagi dia ingin melanjutkan pendidikan di mancanegara.

Agung punya alasan untuk menempuh jenjang master di luar negeri.

”Saya merasa impian saya memang kuliah di luar negeri. Makanya saya mencoba lagi dan terus kerja keras lagi, meski berkali-kali gagal,” tuturnya.

Ia mengingat sekitar 15 kali mendaftar sebagai calon penerima beasiswa, tapi belasan kali pula gagal. Semua yang dituju adalah kampus mancanegara. Mulai dari Jerman, Swiss, Italia, Prancis hingga Jepang.

”Ditolak semua. Yang diterima cuma LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan),” katanya.

LPDP merupakan lembaga pemberi beasiswa di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI. Ada cerita yang menginspirasi di balik keberhasilan Agung meraih beasiswa LPDP.

Dalam mengejar beasiswa, Agung tidak hanya modal gigih. Tapi juga kritis. Setiap kegagalan yang dia telan, selalu mempelajari. Ia selalu mencari di mana titik lemahnya, sehingga langkah berikutnya adalah menambal kelemahan itu.

Dari setiap menjalani ujian seleksi calon penerima beasiswa, ia selalu gagal mendapatkan nilai tinggi untuk IELTS (International English Language Testing System). Itu merupakan tes kemahiran berbahasa Inggris yang diakui secara global.

Oleh karena itu, persiapan yang dimatangkan untuk mengasah IELST. Di sela bekerja, ia berusaha meluangkan waktu untuk belajar IEST. Itu dilakukan setiap hari, selepas dan sebelum bekerja.

”Kadang pulang kerja jam tujuh atau delapan malam. Setelah itu masih harus belajar IELTS, menulis esai, dan menyiapkan dokumen hingga larut malam. Keesokan harinya kembali bekerja lagi. Itu bagian yang paling berat,” ungkapnya

Rupanya proses tidak mengkhianati hasil. Sekitar enam bulan menjalani rutinitas tersebut, Agung berhasil meraih skor IELTS 7. Ia kemudian memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari tiga kampus, yakni Imperial College London di Inggris, University of New South Wales di Australia, dan KTH Royal Institute of Technology di Swedia.

Agung memilih Imperial College London untuk program Advanced Material Science and Technology. Ia mendaftar LPDP pada Februari dan dinyatakan lolos pada 20 Mei.

Kabar tersebut membuatnya senang, termasuk sang ibu. Saking senangnya, sang ibu langsung membagikan kabar tersebut kepada keluarga besar mereka.

”Waktu pengumuman saya benar-benar speechless. Awalnya mencoba nothing to lose karena tidak terlalu yakin. Tapi akhirnya setelah perjuangan itu, bisa tembus sekali coba,” katanya.

Dalam proses seleksi LPDP, ada satu pertanyaan yang paling membekas dalam diri Agung. Seorang psikolog menanyakan cita-citanya ketika kecil. Agung menjawab ingin menjadi orang yang bermanfaat.

”Apa pun pekerjaan saya nanti, saya ingin bermanfaat untuk banyak orang,” katanya sembari mengenang semasa menjalani seleksi wawancara dengan psikolog tersebut.

Kini, mimpi yang tumbuh sejak masa kanak-kanak itu membawanya menuju London. Bagi Agung, keberhasilan tersebut bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari pendidikan, kerja keras, pengorbanan waktu, dan keberanian menghadapi kegagalan.

Ia pun berpesan kepada anak muda agar tidak takut mengejar mimpi. ”Jangan takut memulai. Mimpi besar kita pecah menjadi hal-hal kecil. Besok belajar ini, besoknya lagi belajar itu. Lama-lama kita tidak sadar sudah sampai sejauh mana,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Mahmudan
Imperial College London Beasiswa LPDP beasiswa malang