TANGAN Faiz Rahmatullah sesekali harus bergerak mengikuti bahasa isyarat. Bukan karena Faiz merupakan penyandang tuli. Melainkan karena dirinya menjadi satu-satunya peserta yang tidak tuli dalam sebuah retreat atau malam keakraban di vila.
Situasi itu menjadi salah satu pengalaman yang paling diingat mahasiswa asal Malang tersebut. Selama kegiatan, bahasa isyarat menjadi jembatan utama untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.
Pengalaman itu berawal pada 2023. Saat masih menjadi mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB), Faiz tertarik bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (Formapi). Organisasi tersebut berfokus pada advokasi, edukasi, dan pendampingan isu disabilitas.
Awalnya, Faiz hanya menjadi staf dan relawan dalam kegiatan pengenalan mahasiswa baru. Namun, intensitas interaksi membuat hubungan dengan teman-teman disabilitas berkembang. Bukan lagi sebatas rekan organisasi, tetapi menjadi teman bahkan sahabat.
”Pada saat SMA belum pernah mengikuti kegiatan inklusi seperti di Formapi. Ketertarikan lebih untuk membantu mereka muncul pada saat di perkuliahan,” tuturnya.
Pada 2025, Faiz dipercaya menjadi ketua Formapi. Sejak itu, semakin banyak cerita yang didengarnya. Mulai dari teman disabilitas yang mengalami diskriminasi hingga meminta bantuan mengerjakan tugas atau melengkapi persyaratan mengikuti perlombaan dan organisasi.
Ada pula pengalaman lain yang tak kalah membekas ketika mereka berkegiatan di Cangar. Faiz kembali menjadi satu-satunya peserta yang tidak tuli.
”Kami juga pernah ke Cangar dan seperti sebelumnya saya sendiri yang tidak tuli. Kegiatan itu tetap menyenangkan dan seperti orang normal lainnya,” ungkap mahasiswa S1 Sosiologi tersebut.
Di balik pengalaman menyenangkan itu, ada cerita yang membuatnya prihatin. Faiz masih menemukan anggapan bahwa penyandang disabilitas tidak seharusnya berkuliah atau bekerja. Padahal, mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan layak.
Menurutnya, masyarakat sebenarnya hanya perlu lebih memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas.
“Satu lagi mungkin belum dipahami banyak orang. Teman-teman disabilitas tidak suka disebut tuna rungu, mereka lebih senang disebut tuli,” tegasnya.
Kegelisahan tersebut kemudian dibawa Faiz ke Global Youth Innovation Summit (GYIS) ke-12 di Singapura dan Malaysia pada 30 November–3 Desember 2025. Ajang internasional itu memperlombakan gagasan dan inovasi yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Faiz memilih tema edukasi. Dari sana, muncul gagasan membuat aplikasi yang dapat membantu masyarakat memahami penyandang disabilitas sekaligus mendorong kesadaran tentang inklusivitas. Lahirlah Rangkul.
“Untuk ajang itu saya mengambil tema besar edukasi,” ungkapnya.
Rangkul kemudian dipresentasikan di International Islamic University Malaysia (IIUM) pada Desember 2025. Gagasan tersebut berbuah tiga penghargaan sekaligus, yakni 1st Place SDGs Project Presentation, 1st Place Best Delegate, dan 1st Place Best Team.
“Setelah fixed, aplikasi Rangkul kemudian saya presentasikan di depan juri pada Desember 2025. Itu di International Islamic University Malaysia,” kata mahasiswa berusia 21 tahun itu.
Namun, penghargaan tersebut bukan garis akhir. Pengembangan Rangkul kini telah mencapai sekitar 70 persen. Tiga fitur utama disiapkan dalam bentuk buklet. Isinya antara lain edukasi cara memahami dan berkomunikasi dengan anak ADHD dan autisme serta panduan bahasa isyarat.
Ada pula fitur video call dengan relawan. Fitur itu ditujukan membantu penyandang disabilitas ketika menghadapi kesulitan di ruang publik.
“Ketika teman-teman tuna netra bingung ketika membayar saat di kafe atau mal. Mereka bisa menggunakan video call dan menanyakan ke volunteer,” jelas Faiz, yang kini menempuh pendidikan S2 Ilmu Komunikasi.
Satu fitur tambahan juga disiapkan, yakni informasi lowongan kerja bagi penyandang disabilitas. Harapannya, Rangkul dapat mempertemukan mereka dengan dunia usaha dan membuka akses pekerjaan yang layak.
“Saat ini kami juga tengah menunggu pemodal untuk membiayai aplikasi agar bisa dimanfaatkan masyarakat luas,” ujar Faiz.
Selain pendanaan, pengembangan Rangkul masih membutuhkan tambahan sumber daya manusia, terutama di bidang teknologi informasi. Bagi Faiz, pengalaman tiga tahun bersama teman-teman disabilitas baru saja membuka langkah panjang untuk membuat ruang yang lebih inklusif. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian