Damkar Kabupaten Malang Punya Mobil Langka yang Canggih, Begini Kondisinya

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:03 WIB
Mobil stir kiri milik Damkar Kabupaten Malang (foto BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)
Mobil stir kiri milik Damkar Kabupaten Malang (foto BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)

 

Damkar Kabupaten Malang memiliki armada termuda, canggih, dan langka. Namun mobil hibah Korsel itu tidak pernah dioperasionalkan lantaran setir kiri.

 

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

MOBIL Damkar merek Hyundai Mega Truck paling mencolok di antara armada lain yang parkir di Mako Kepanjen, kemarin (13/9). Truk merah itu hanya memiliki body lebih besar dibandingkan dua mobil lain. Bagian depan bahkan ditutup kardus agar tidak terlalu terpapar panas matahari.

Perbedaan lebih mencolok lagi di bagian kabin. Begitu membuka pintu mobil, pandangan langsung tertuju pada setir atau kemudi dan dashboard. Panel lampu, stiker instruksi penggunaan, hingga imbauan bagi pengemudi, semuanya berbahasa Korea. Tak ditemukan petunjuk berbahasa Inggris atau Indonesia.

Begitu pula tombol-tombol pada pusat kendali mekanik pemadam api. Semuanya menggunakan tulisan Korea. Mulai tombol untuk menghidupkan lampu, pompa, sirene, hingga saklar utama.

Dari dalam kabin itu pula terungkap jejak atau asal-usul armada tersebut. Truk pemadam kebakaran itu diproduksi di Kota Namyangju, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan (Korsel). Wilayah itu berada di bagian utara dan berbatasan langsung dengan Korea Utara.

Petunjuk terpampang di balik sunvisor sebelah kanan, bagian penumpang. Di sana terdapat daftar nomor telepon departemen daerah yang menangani berbagai keperluan. Mulai penanganan hewan liar, banjir, kerusakan jalan, hingga rumah sakit.

Sekilas, tampilan luar dan interior memang memberi kesan canggih. Berbagai perangkat di dalamnya terlihat serba otomatis. Namun, di balik kesan modern itu, tersimpan persoalan yang membuat armada tersebut mangkrak. Menganggur bertahun-tahun di markas. Tak pernah ikut memadamkan kobaran api.

”Hyundai Mega Truck itu merupakan keluaran tahun 2008. Armada tersebut kemudian dihibahkan kepada Pemkab Malang melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2022,” ujar Danton Damkar Satpol PP Kabupaten Malang Andik Minarko sembari menunjukkan beberapa keunikan armada tersebut.

Dibanding mobil lain milik damkar, Hyundai Mega Truk tersebut paling canggih. Juga paling muda, dan paling besar.

“Memang itu paling muda, tapi karena itu setir kiri jadi sampai sekarang belum bisa dipakai secara optimal,” tambahnya.

Dari total 10 armada damkar, Hyundai tersebut memang menjadi unit paling muda. Armada lainnya sudah tergolong tua. Bahkan, yang paling lawas adalah Toyota Dyna keluaran tahun 1996. Sementara Mitsubishi Ragasa dan Colt Diesel diproduksi pada 2000-an.

Amrada tersebut tidak beroperasi lantaran setir kiri. Tidak semua anggota damkar mampu mengoperasikan truk tersebut. Di antara semua personel, hanya satu yang bisa mengemudikan mobil dengan kemudi di sisi kiri.

“Namun anggota yang bisa mengemudikan pensiun pada 2025 lalu, untuk anggota sekarang belum ada yang bisa membawanya,” imbuh Andik.

Posisi setir di sebelah kiri membuat anggota harus kembali beradaptasi ketika hendak mengoperasikan armada tersebut. Sebenarnya, persoalan itu masih bisa diakali dengan menempatkan kernet di sisi kanan.

Namun, tetap dibutuhkan pembiasaan ulang. Terutama ketika menentukan haluan kendaraan. Sebab, ukuran truk yang besar membuat kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Bangunan di tepi jalan bisa menjadi sasaran.

Ukuran kendaraan juga menjadi keluhan tersendiri bagi sejumlah anggota damkar. Bodinya yang besar disebut setara dengan truk Mitsubishi Fuso. Kondisi itu membuat ruang geraknya terbatas. Terutama ketika harus masuk gang sempit menuju lokasi kebakaran.

Tantangannya semakin besar ketika kendaraan harus melintasi kontur jalan Kabupaten Malang yang naik turun.

“Kalau unit lain masih bisa masuk-masuk ke jalan sempit. Belum lagi kalau melewati jalanan Kabupaten Malang yang naik turun,” keluh Andik.

Sejak tiba di Bumi Kanjuruhan pada 2022, armada termuda Damkar Kabupaten Malang itu belum pernah menjinakkan si jago merah. Alih-alih menerobos kepulan asap dan mengejar titik api, truk tersebut lebih banyak menjalankan tugas yang jauh lebih tenang.

“Lebih banyak dipakai untuk sosialisasi dan penyuluhan kebakaran. Keadaan terkini malah tidak bisa berfungsi karena harus ganti aki, belum lagi kalau ada komponen yang rusak harus diperbaiki,” ujar dia.

Sebenarnya mobil tersebut bisa diperbaiki, namun biayanya tidak murah. Kendaraan tersebut merupakan Korea Domestic Market (KDM), yakni kendaraan yang dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri Korsel.

Konsekuensinya, ketika membutuhkan komponen tertentu, suku cadangnya harus didatangkan dari Negeri Ginseng tersebut.

Biaya perawatan pun ikut membengkak. Belum lagi jika posisi setir hendak dipindahkan ke kanan agar lebih sesuai dengan kondisi kendaraan di Indonesia. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan tersebut juga tidak sedikit.

Pada akhirnya, armada yang semestinya menjadi salah satu andalan pemadam kebakaran itu lebih sering menjadi penghuni parkiran. Tubuhnya besar, perangkatnya terlihat canggih, tetapi hingga kini belum juga benar-benar turun gelanggang melawan api.(*/dan)

 

Editor : Mahmudan
Armada Damkar mobil langka damkar kabupaten malang