TIDAK ada rencana bagi Dimas Galang Anggoro untuk menggeluti bisnis tanaman hias. Apalagi sampai mengirim tanaman eksotik dari Kota Batu ke berbagai negara. Namun, hobi yang bermula dari rak kecil di halaman rumah pada 2017 itu perlahan berkembang menjadi usaha dengan pasar internasional.
Di tengah puluhan stan tanaman hias dalam Batu Shining Orchid Week di Balai Kota Among Tani, Sabtu (18/9), tanaman milik Dimas mencuri perhatian lewat bentuk dan jenisnya yang tidak biasa. Sebagian tanaman bahkan telah menjadi komoditas ekspor.
Berawal dari Hobi di Rumah
Pria asal Kelurahan Ngaglik, Kota Batu, itu mengaku tidak memiliki latar belakang keluarga petani maupun pendidikan botani. Ketertarikannya terhadap tanaman justru muncul secara tidak sengaja.
"Awalnya bahkan tidak kepikiran sama sekali pegang bunga," ujarnya.
Pada 2017, Dimas mulai menaruh sejumlah tanaman hias eksotik di rak kecil di halaman rumah. Saat itu, tanaman tersebut sekadar menjadi koleksi. Pengetahuan tentang cara merawatnya pun masih terbatas.
Namun, tanaman-tanaman itu justru menarik perhatian teman-temannya yang berkunjung. Bentuk dan jenis yang berbeda membuat mereka penasaran. Dari sana, ketertarikan Dimas tumbuh menjadi hobi.
Tanaman kemudian menjadi pilihan ketika beberapa usaha yang pernah dijalaninya menghadapi kendala. Dimas sebelumnya sempat membuka kafe di kawasan Alun-Alun Kota Batu. Usaha tersebut sempat ramai, tetapi akhirnya ditutup karena biaya sewa tempat meningkat.
Dia kemudian mencoba bisnis warung internet atau warnet. Namun, perkembangan telepon pintar membuat bisnis tersebut semakin sulit bertahan. Dimas kembali mencari peluang usaha lain.
Di tengah kondisi itu, hobi tanaman mulai dilihat sebagai peluang yang bisa dikembangkan secara serius.
Belajar Otodidak hingga Masuk Pasar Ekspor
Dimas tidak menempuh pendidikan khusus tanaman. Pengetahuannya dibangun secara otodidak. Dia belajar dengan bertanya kepada sesama penghobi dan pelaku usaha tanaman, sekaligus mempraktikkannya langsung.
"Daripada cuma teori tanpa praktik, lebih baik langsung pegang barangnya. Tanaman itu simpel, kunci utamanya hanya menjaga aerasi udara, intensitas cahaya, dan kelembapan agar menyerupai habitat aslinya," papar dia.
Keseriusan itu mulai membuka jalan ke pasar yang lebih luas. Pada 2019, Dimas mulai menyuplai tanaman kepada sesama rekan eksportir. Dari proses tersebut, dia mulai memahami karakter tanaman sekaligus kebutuhan konsumen luar negeri.
Dua tahun kemudian, pada 2021, Dimas mendirikan badan usaha sendiri. Dari yang awalnya hanya memiliki koleksi di rak rumah, bisnis tersebut berkembang menjadi usaha dengan pasar internasional.
Jenis tanaman yang dipasarkan antara lain aroid, Platycerium willinckii khas Indonesia, hingga Hoya. Dalam sebulan, Dimas bisa mengirim sekitar 20 hingga 25 paket tanaman ke luar negeri.
"Satu paket isinya beragam, mulai dari 10–14 bunga," beber dia.
Pasarnya tersebar di sejumlah negara, mulai Jerman, Prancis, Amerika Serikat, Jepang, hingga Thailand. Harga tanaman juga beragam. Pada masa kejayaannya, satu pot tanaman hias eksotik bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Tak Bergantung pada Tanaman Hidup
Pasar internasional bukan berarti bisnis Dimas selalu berjalan mulus. Ketika konflik Rusia-Ukraina terjadi, misalnya, jalur logistik ikut terdampak. Pengiriman tanaman hidup menjadi lebih berisiko karena perjalanan yang panjang dapat menyebabkan kerusakan.
Namun, permintaan dari pembeli tetap ada.
Tantangan lain muncul ketika kondisi ekonomi global menekan daya beli pasar. Volume ekspor tanaman Dimas ikut terdampak. Kondisi itu membuatnya mulai memikirkan cara agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan tanaman hidup ke luar negeri.
Dimas kemudian mengembangkan produk baru berupa rangkaian bunga dari tanaman eksotik. Langkah tersebut menjadi upaya memperluas pasar sekaligus mengikuti perubahan tren konsumen.
Responsnya cukup positif. Produk tersebut tidak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga mendapat respons dari konsumen luar negeri.
Bagi Dimas, pengalaman membangun usaha dari hobi membuatnya memahami bahwa mempertahankan bisnis tidak cukup hanya dengan mengandalkan produk yang sudah dikenal.
"Yang penting sekarang adalah inovasi agar tak kalah bersaing dengan perkembangan pasar," pungkas dia.
Editor : Aditya Novrian