Kunci Rahayu LeatherKonsisten Menjual Sepatu Kulit sejak 1935: Enggan Tinggalkan Tradisi Tatap Muka dengan Pelanggan

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:38 WIB
Zulhilmi bersama ibunya sebagai penerus generasi keduaRahayu Leather ketika ditemui di toko kemarin. (Andika Satria Perdana/Radar Malang)
Zulhilmi bersama ibunya sebagai penerus generasi keduaRahayu Leather ketika ditemui di toko kemarin. (Andika Satria Perdana/Radar Malang)

DUA perempuan paro baya sibuk memilah sepatu di balik etalase cokelat Rahayu Leather. Helm masih terpasang, masker belum dilepas. Dari percakapan singkat dengan penjaga toko, salah seorang di antaranya diketahui datang dari Lumajang.

"Kalau saya pesan sekarang kapan kira-kira bisa diambil? Rumah saya di Lumajang," ujarnya.

Sekitar 30 menit mereka memilih dan memesan sepatu. Setelahnya, kantong kresek berisi kardus dibawa keluar toko. Pemandangan semacam itu masih mudah ditemui di Rahayu Leather. Pelanggan datang bukan hanya dari Malang, tetapi juga berbagai daerah.

Toko di Jalan KH Zainul Arifin Nomor 101 tersebut telah berdiri sejak 1935. Kini, usaha yang lebih dikenal sebagai Toko Sepatu Kudusan itu diteruskan Zulhilmi Surya Malais alias Jimmy, generasi ketiga keluarga.

"Dulu yang mengawali usaha toko sepatu kulit kakek saya. Sekarang saya menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha ini," ujar Jimmy.

Sejak awal, keluarga Jimmy memilih bertahan pada produk sepatu dan sandal berbahan kulit asli. Hingga kini, produk yang dijual tetap menggunakan kulit tanpa campuran bahan sintetis. Ketahanan produk menjadi salah satu alasan pelanggan tetap datang.

Jimmy bahkan memberikan jaminan perbaikan gratis apabila produk rusak sebelum tiga bulan pemakaian.

"Kalau ada produk kami rusak sebelum tiga bulan, kami pastikan diperbaiki secara gratis. Namun sampai sekarang belum ada," ucap pria yang akrab disapa Jimmy itu.

Umur panjang Rahayu Leather tidak berarti perjalanan usahanya tanpa hambatan. Dari cerita sang kakek, Jimmy mengetahui toko tersebut pernah ditinggalkan selama beberapa tahun. Sang kakek harus pergi ke Jogjakarta karena dianggap sebagai aktivis dan dicari penjajah.

"Kalau dari cerita Mbah saya dulu pernah toko ditinggal selama beberapa tahun ke Jogja. Karena beliau dianggap aktivis dan dicari penjajah," ungkapnya.

Kakeknya baru kembali setelah Indonesia merdeka. Selama ditinggalkan, toko tetap dijaga orang kepercayaan. Usaha pun selamat dan kembali berjalan setelah sang pemilik pulang.

Pascakemerdekaan, Rahayu Leather berkembang. Saat toko yang menyediakan sepatu dan sandal kulit belum banyak, Kudusan menjadi salah satu tujuan pelanggan, termasuk dari luar Kota Malang.

"Kalau orang asli Malang dan pelanggan itu lebih taunya nama kami Toko Sepatu Kudusan," imbuh Jimmy.

Tantangan kembali datang sekitar 1970-an ketika jalan di kawasan Kudusan diperlebar. Bangunan toko harus menyusut sekitar tiga meter tanpa mendapat ganti rugi.

Penyempitan tersebut membuat proses produksi berubah. Jika dulu sepatu dibuat di dalam toko, kini pengerjaannya dilakukan di rumah masing-masing pengrajin. Ada 12 pengrajin yang hingga kini bekerja sama dengan Jimmy.

Menariknya, hubungan tersebut juga diwariskan. Para pengrajin merupakan penerus keluarga yang sejak generasi kakek Jimmy sudah bekerja sama dengan Rahayu Leather.

"Bukan hanya pengrajin, pelanggan kami juga seperti warisan. Jadi mbahnya dulu pernah beli di sini, sekarang merekomendasikan toko kami ke anaknya," kata Jimmy sambil tersenyum.

Dalam sebulan, sekitar 150 hingga 200 pasang sepatu terjual langsung di toko. Jumlah itu belum termasuk pesanan melalui media sosial. Pembeli datang dari Lumajang, Tangerang, hingga Kalimantan. Pesanan juga pernah dikirim ke Belanda, Jepang, dan Malaysia.

"Kalau orang Indonesia lebih melihat awetnya dan terkadang ada mencari model sesuai keinginan. Kalau orang luar melihat ini unik," ucap alumnus Politeknik Negeri Malang tersebut.

Pesanan biasanya melonjak pada momen tertentu. Bulan kemerdekaan menjadi salah satunya karena sepatu digunakan untuk kebutuhan karnaval. Masa orientasi mahasiswa baru juga ikut mendongkrak permintaan. Jika biasanya pesanan selesai satu hingga dua hari, antrean bisa mencapai 10 hari ketika permintaan menumpuk.

Ketika banyak toko konvensional mulai masuk marketplace, Jimmy memilih bertahan dengan cara lama. Baginya, sepatu handmade membutuhkan interaksi langsung.

Pembeli bisa mencoba produk, menjelaskan kebutuhannya, sekaligus mendapat petunjuk perawatan. Jika ada persoalan, komunikasi juga lebih mudah dilakukan.

"Karena produk kami merupakan handmade, jadi pelayanan ke konsumen berbeda. Lebih baik bertemu tatap muka," tandas Jimmy.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas Rahayu Leather. Selama 91 tahun, bukan hanya bahan dan cara pembuatan yang dipertahankan, tetapi juga hubungan dengan pelanggan.

"Sampai sekarang saya belum berniat memasang sepatu di marketplace. Lebih baik bertemu langsung dengan pembeli, yang membedakan toko kami dengan yang lain," pungkas dia.(*/adn)

 

Editor : Aditya Novrian
rahayu leather spatu kulit Fashion malang