Dua Atlet Hapkido Kota Malang Mendulang Prestasi di Kejuaraan Asia: Butuh Waktu 1,5 Tahun Membangun Chemistry

M. Affan Fauzan • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:40 WIB
Widy Ulung (tiga dari kiri) dan Ngaisatun Solikah meraih medali emas di kategori Hosinsul berpasangan di ajang Asian Hapkido Championship 2026 di Hong Kong, 15 Agustus lalu. (Dokumen Ngaisatun Solikah dan Widy Ulung)
Widy Ulung (tiga dari kiri) dan Ngaisatun Solikah meraih medali emas di kategori Hosinsul berpasangan di ajang Asian Hapkido Championship 2026 di Hong Kong, 15 Agustus lalu. (Dokumen Ngaisatun Solikah dan Widy Ulung)

ADA waktu 90 detik untuk menunjukkan hasil latihan berbulan-bulan. Bagi Ngaisatun Solikah dan Widy Ulung, durasi tersebut menjadi penentu setelah persiapan panjang menuju Hong Kong.

Keduanya berdiri di atas matras Sham Shui Po Sport Centre pada 15 Agustus lalu. Setelah membungkuk di hadapan juri, pasangan tersebut langsung bersiap memperagakan Hosinsul berpasangan.

Urutan tampil ketiga membuat mereka harus lebih dulu menyaksikan sebagian kontestan lain. Ada perwakilan Hong Kong, Thailand, Kamboja, Korea Selatan, Vietnam, Tiongkok, Makau, Malaysia, hingga Brunei Darussalam.

Namun, giliran tampil bukan sesuatu yang membuat keduanya gentar. Begitu gerakan dimulai, Solikah dan Widy seperti kembali ke ruang latihan. Enam rangkaian gerakan mereka tuntaskan dengan tempo yang terjaga.

Gerakan tangan, perubahan posisi, hingga teknik kuncian dilakukan beriringan. Tidak tampak keraguan. Semua sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Mereka berlatih sekitar dua jam setiap hari dan masih berdiskusi setelah sesi latihan berakhir.

Tekanan itu sudah mereka rasakan bahkan sebelum pertandingan dimulai. Berangkat membawa nama Indonesia membuat keduanya sadar bahwa setiap gerakan akan menjadi perhatian juri. Karena itu, mereka memilih tidak memikirkan hasil selama berada di matras.

”Kami sudah dipasangkan selama 1,5 tahun sejak Porprov Jatim 2025 lalu,” ujar Solikah.

Pertemuan keduanya sebagai pasangan kompetisi langsung membawa hasil. Pada Porprov Jatim 2025, Solikah dan Widy meraih medali emas. Sejak itu, keduanya terus menjaga kekompakan, termasuk menyelesaikan persoalan yang terlihat sederhana tetapi penting dalam penampilan.

Widy memiliki postur lebih tinggi dibandingkan Solikah. Perbedaan tersebut harus disiasati agar gerakan tetap terlihat seimbang. Terutama ketika memasuki gerakan dengan posisi rendah seperti jongkok. Ritme harus disesuaikan agar perbedaan tinggi badan tidak membuat penampilan terlihat kontras.

Tantangan lain justru datang dari format pertandingan. Kategori Hosinsul menggunakan format battle. Solikah dan Widy harus berada dalam satu matras dengan kontestan Hong Kong.

Kehadiran lawan dalam jarak dekat berpotensi membuat konsentrasi terpecah. Tempo gerakan pasangan lain juga bisa memengaruhi ritme jika tidak diantisipasi. Karena itu, keduanya memilih mengatur posisi. Kadang lebih maju, kadang mundur. Pandangan terhadap lawan dibuat tidak terlalu terbuka agar fokus tetap tertuju pada rangkaian gerakan sendiri.

Strategi tersebut berjalan sesuai rencana. Solikah dan Widy mengumpulkan lebih dari 6.000 poin. Nilai itu berada di atas perolehan rata-rata kontestan lain yang berada di kisaran 5.000 poin.

Teknik, keahlian gerakan, efek kuncian, dan kerapian yang konsisten menjadi modal mereka meraih nilai tinggi. Medali emas pun akhirnya menjadi milik pasangan tersebut.

Namun, Hong Kong belum selesai. Solikah masih turun dalam kategori Hyung Individual Putri. Tanpa Widy di sampingnya, seluruh gerakan harus dikendalikan sendiri.

Hasilnya kembali positif. Solikah berhasil membawa pulang medali emas.

Widy mendapat tantangan berbeda. Dia turun pada kategori Ssanjolgon atau seni tunggal senjata. Nomor itu menjadi pengalaman pertamanya. Rasa gugup sempat muncul ketika melihat kontestan lain yang lebih berpengalaman.

Situasi semakin menegangkan ketika senjata yang dibawanya terlepas dari tangan karena licin di tengah penampilan. Momen itu bisa saja membuat konsentrasi buyar. Namun, Widy memilih melanjutkan penampilan.

”Tetapi saat itu saya tidak blank dan langsung melanjutkan sisa gerakan,” ungkap mahasiswi Universitas Negeri Malang itu.

Widy segera mengambil kembali senjatanya. Gerakan diteruskan hingga waktu 90 detik berakhir. Tidak ada kesempatan mengulang. Semua harus diselesaikan sampai gerakan terakhir.

Ketika hasil diumumkan, Widy justru mendapat medali perunggu. Hasil itu diakuinya di luar dugaan setelah sempat mengalami insiden di atas matras.

Sepulang dari Hong Kong, keduanya tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Agenda berikutnya sudah menunggu. Solikah dan Widy langsung kembali berlatih menghadapi Kejurnas Hapkido 2026 di Lampung yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini.

Tahun depan, tantangan mereka berubah. Dalam Porprov, keduanya akan turun di kategori individu Hyung. Tidak lagi berdiri berdampingan sebagai pasangan, tetapi berada di sisi berbeda sebagai lawan. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
Internasional hapkido Kota Malang prestasi