Cerita Keluarga Penumpang KM Virgo Transport 8 Asal Pakisaji Malang yang Belum Ditemukan

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 10:51 WIB
Keluarga penumpang Kapal KM Virgo yang tenggelam
Keluarga penumpang Kapal KM Virgo yang tenggelam

 

Rencana sederhana membeli anakan sapi kini menjadi penantian bagi Anitha Margi Utami. Sejak suaminya, Agus Ribut Setyabudi, belum ditemukan setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam, rumah mereka di Kebonagung, Pakisaji terasa lebih hening.

 

RAMIZARD RAFSANJANI

MATANYA memerah. Suaranya bergetar ketika menyebut nama suaminya, Agus Ribut Setyabudi. Beberapa kali terhenti oleh tangis, seolah setiap kali nama itu terucap, kerinduan sekaligus kecemasan kembali memenuhi dadanya.

Di rumahnya di Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Anitha Margi Utami alias Uut kini hanya bisa menunggu. Sejak Agus belum ditemukan setelah kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, kabar tentang suaminya menjadi informasi yang paling dinanti.

Namun yang ditunggu Uut bukan sekadar kabar. Dia ingin Agus pulang dengan selamat. Lalu seperti rencana sederhana yang pernah disampaikan sebelum berangkat, yakni membeli seekor anakan sapi untuk anaknya.

”Anake (anaknya) sapi. Dia (Agus) memang kepingin itu,” kata Uut sembari menyeka matanya.

Kalimat pendek itu kini memiliki arti berbeda. Embeng alias sapi anakan, yang semula hanya menjadi rencana kecil setelah Agus pulang dari Banjarmasin, kini berubah menjadi kenangan yang terus melekat di benak Uut.

Agus, 48, berangkat dari rumahnya di Desa Kebonagung pada Kamis (10/9). Dia bekerja sebagai sopir truk ekspedisi ADR. Pekerjaan baru itu baru dijalani sekitar sebulan. Sebelum berangkat, truk yang dikemudikan Agus sempat dibawa ke tempat pencucian mobil sekitar rumahnya. Setelah itu, dia membawa kendaraan tersebut mengangkut barang ekspedisi Shopee menuju Surabaya.

Dari Surabaya, perjalanan dilanjutkan menggunakan KM Virgo Transport 8 menuju Banjarmasin. Agus tercatat sebagai salah satu penumpang kapal yang membawa 243 orang, terdiri atas penumpang dan awak.

Sabtu malam (12/9), Agus masih sempat menghubungi Uut. Dia mengirim video dari atas kapal. Tidak ada yang menyangka, video itu menjadi komunikasi terakhir Uut dengan suaminya.

Minggu (13/9), kabar kecelakaan datang ketika Uut sedang bekerja di pabrik rokok. Sekitar pukul 08.00, keponakannya datang dan memintanya pulang. Saat itulah Uut mendapat kabar bahwa kapal yang dinaiki Agus mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa.

Hatinya kacau. Bingung. Ia terdiam seketika. Dunia yang semula berjalan seperti biasa mendadak berubah.

“Setelah mendapat kabar itu, saya berangkat ke posko Tanjung Perak bersama keluarga dan saudara. Di sana belum ditemukan bapak, tetapi namanya dipastikan masuk dalam daftar penumpang,” jelas Uut.

Selama tiga hari, Uut bertahan di posko Tanjung Perak. Dia menunggu setiap informasi dari proses pencarian. Setelah itu, Uut diminta kembali ke rumah oleh petugas sembari menunggu perkembangan.

Rabu malam sekitar pukul 23.00, Uut tiba di Malang. Namun kepulangannya tidak berarti penantian selesai. Rumah justru menjadi tempat Uut menunggu kabar berikutnya. Suasananya lebih hening dari biasanya. Tetangga dan keluarga datang silih berganti, menanyakan kabar Agus sekaligus berusaha menenangkan hati Uut.

Biasanya, Agus tidak pernah pergi begitu lama. Dia pulang sekitar sepekan sekali. Paling lama dua pekan. Sebelum berangkat ke Banjarmasin, Agus sempat mengatakan bahwa perjalanan kali ini mungkin berbeda. Dia memperkirakan baru bisa pulang dua bulan.

Kini dia baru menyadari bahwa perkataan suaminya itu merupakan firasat.

“Yang biasanya tidak pernah pamitan pergi agak lama seperti itu, tiba-tiba pamitan,” tutur Uut.

Ucapan itu kini terus teringat. Begitu pula rencana membeli anakan sapi sebagai surprise untuk anak keduanya yang baru menikah. Ketika mendengar keinginan tersebut, anaknya hanya terdiam.

Uut dan Agus memiliki empat anak. Anakan sapi itu rencananya diberikan untuk salah satu anak mereka dan dipelihara di rumah anaknya di Talangagung, Kepanjen. Nantinya, ternak tersebut diharapkan menjadi tabungan yang bisa dijual untuk modal usaha.

Rencana itu terdengar sederhana ketika Agus menyampaikannya. Tetapi kini bagi Uut, embeng tersebut menjadi gambaran tentang kehidupan yang masih ingin dibangun bersama suaminya.

Agus dikenal sebagai sosok pekerja keras dan bertanggung jawab. Bahkan, suaminya pernah melarang Uut bekerja karena kasihan. Ia tidak ingin membebani istrinya untuk ikut mencari nafkah.

Wis ta lah Ma, aku wae sing kerjo. Sampeyan ndek omah (sudahlah Bu, saya saja yang kerja. Kamu di rumah),” kata Uut menirukan perkataan Agus, sembari menyeka matanya yang masih merah.

Kini, kalimat itu kembali terdengar di setiap sudut rumah. Hingga kemarin (Minggu, 20/9), dari 243 orang yang berada di dalam kapal, enam di antaranya ditemukan meninggal dunia. Kemudian 108 orang selamat, sedangkan 129 lainnya masih dalam pencarian.

Di antara ratusan nama tersebut, Uut hanya menunggu satu nama, Agus Ribut Setyabudi.

Harapannya belum berubah. Ia masih ingin suaminya ditemukan dalam keadaan selamat.

“Saya tetap positive thinking. Ditemukan dalam keadaan selamat. Terus berdoa yang terbaik. Semoga selamat,” harap Uut.

Di rumah yang hening itu, foto Agus dan tiket perjalanannya masih tersimpan.

Rencana membeli anakan sapi pun diharapkan menjadi kenyataan. Uut masih menunggu pintu rumahnya terbuka. Menunggu Agus pulang seperti biasanya. Membawa kembali suara dan kehadiran yang dirindukan. Sembari menunggu, doa dan harapan akan keajaiban Tuhan terus dinanti.(*/dan)

Editor : Mahmudan
KM Virgo Transport 8 Korban kapal tenggelam kapal tenggelam