Cerita Keluarga Penumpang KM Virgo Transport 8 Asal Malang yang Belum Ditemukan (2).

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:49 WIB

TUNGGU KEPASTIAN: Sunik Sri Wahyuni, 41, menunjukkan foto suaminya, M. Ali Imron yang terdaftar sebagai penumpang KM Virgo Transport 8 (foto BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)

TUNGGU KEPASTIAN: Sunik Sri Wahyuni, 41, menunjukkan foto suaminya, M. Ali Imron yang terdaftar sebagai penumpang KM Virgo Transport 8 (foto BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG)

 

Kepergian M. Ali Imron sebagai sopir truk biasanya hanya meninggalkan penantian singkat bagi keluarganya di Gondanglegi. Namun sejak KM Virgo Transport 8 yang ditumpanginya karam pada 13 September lalu, penantian itu berubah menjadi ketidakpastian antara hidup dan mati.

 

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

TATAPAN matanya kosong. Sesekali suara Sunik Sri Wahyuni, 41, bergetar ketika menyebut nama suaminya, M. Ali Imran. Di rumahnya Dusun Karangasem, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Sunik masih menunggu kabar suaminya, sejak KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di laut Jawa, 13 September lalu. Imron adalah sopir truk ekspedisi yang masuk daftar penumpang KM Virgo.

Di samping Sunik, tampak Jemi, 39, sepupu yang berusaha menguatkan. Juga ada Rohman, 30, keponakan juga larut dalam penantian yang sama. Tatapan mereka menyimpan kecemasan yang belum menemukan ujung. Hingga kini, keluarga dihadapkan pada dua kemungkinan, Imron masih hidup atau sudah tiada.

Bagi keluarga, bepergian jauh sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Imron sudah lama bekerja sebagai sopir truk. Ayah satu anak itu terbiasa membawa kendaraan melintasi berbagai daerah, termasuk menyeberang ke Pulau Kalimantan.

“Dulu pernah ambil ekspedisi ke Jakarta, Bali. Tiga tahun terakhir ini ikut ADR Cargo di Tanjung Perak, selalu jalan antar sembako ke Banjarmasin,” kata dia ketika ditemui di kediamannya pada Minggu (20/9).

Sesekali, ketika tidak ada muatan ke luar Jatim, Imron menyambi sebagai sopir ekspedisi Shopee. Ia mengantar paket-paket dari satu hub ke hub lainnya. Selama ini pekerjaannya berjalan lancar.

Setiap berangkat ke pelabuhan atau naik kapal, Imron selalu memberi kabar kepada keluarga. Setidaknya menaruh story di status WhatsApp. Oleh karena itu, keluarganya menunggu kabar darinya.

Yang masih diingat keluarga pada 8 September lalu. Saat itu Imron berangkat dari Banjarmasin, kemudian menyeberang ke Jawa pada keesokan harinya. Lalu tiba di Gondanglegi pada 10 September 2026.

Baru sehari di rumah, keesokan harinya Imron kembali berangkat ke Kalimantan. Untuk kali pertama mengambil muatan di Tanjung Perak. Sebelum kapal diberangkatkan pada 12 September malam, Imron merasakan sesuatu yang tak biasa.

”Saat hendak berangkat pada 11 September lalu, dia terlihat tergesa-gesa,” katanya.

Sesampainya di Tanjung Perak pada sore hari, Imron lebih banyak tidur selama proses pemuatan sembako ke truk Mitsubishi Fuso sasis panjang bernomor polisi S 9352 UZ berlangsung.

“Jadi, saat itu benar-benar tidur seharian. Sampai tiga orang yang membangunkan dia,” katanya. ”Biasanya kalau lagi isi muatan, tidurnya tidak lama,” tambahnya.

Muatan yang dibawa pun lebih banyak dari biasanya. Biasanya hanya membawa muatan sekitar 18 ton, tapi kali ini muatannya melebihi standar.  

”Pas itu sampai sekitar 40 ton. Ia pun kaget dan sempat khawatir akan bermasalah saat masuk kapal. Tapi sama orang sana (ekspedisi) sudah dikondisikan,” ungkap Sunik.

Setelah semuanya siap, Imron bersama kernetnya, Dodi, asal Kasembon, naik KM Virgo Transport 8 pada 12 September malam. Kapal tersebut bukan kapal yang biasanya ia tumpangi.

Malam itu, tiga truk dari ADR Cargo ikut berangkat. Ada empat kru sopir dan kernet yang semuanya berasal dari Kabupaten Malang.

Sebelum berangkat, Imron juga sempat berpamitan kepada Sunik. Istrinya kala itu hendak mengikuti rombongan ziarah Wali Songo ke Jawa Tengah. Ia berharap itu bukan pertemuan terakhir. Sunik masih mempunyai angan-angan bertemu suaminya.

Sudah berkali-kali keluarga mendatangi posko pencarian di Tanjung Perak. Namun belum ada kabar soal suaminya.

“Mau ketemu orang KM Virgo pun tidak bisa. Mereka tidak pernah turun ke sana dan kantor mereka di sana (Tanjung Perak) terlihat seperti tidak terurus. Orang ekspedisi juga belum ada pertanggungjawabannya,” ucap Rohman.

Di tengah pencarian itu, keluarga juga menghadapi pengalaman yang tidak mengenakkan.

Jemi melihat posko pencarian tidak menyediakan tempat beristirahat yang layak bagi keluarga korban. Sesekali, keluarga bahkan harus beristirahat dengan tiduran di hamparan rumput taman pelabuhan.

”Kami juga kena tarif parkir hingga Rp 75 ribu,” keluhnya.(*/dan)

 

Editor : Mahmudan
KM Virgo Malang kapal tenggelam kapal tenggelam