Nasib baik masih memihak Wari, penjual es krim keliling asal Desa Torongrejo, Kota Batu. Ia sempat menjadi korban penipuan hingga motor dibawa kabur penjahat. Kini motornya kembali, setelah pelaku dibekuk polisi.
RORI DINANDA BESTARI
GURAT kebahagiaan terlihat di wajah Wari, saat ditemui di Mapolres Batu 1 Oktober lalu. Garis-garis keriput di dahinya, yang beberapa hari lalu tampak tegang penuh kecemasan mulai mengendur. Kakek 73 tahun itu senang setelah sepeda motor matik beserta rombong es krim kesayangannya sudah kembali.
Alat penopang hidup yang sempat melayang akibat ulah penipu beberapa hari lalu, kini parkir manis di hadapannya. Lansia asal Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tersebut seolah mendapatkan kembali napas kehidupannya.
”Rasanya masih tidak percaya, saya pikir (kendaraan) tidak akan kembali,” kata Wari. ”Saya sampai susah tidur,” tambahnya.
Sebelum musibah menghampirinya, Wari adalah sosok pekerja keras yang tak kenal menyerah. Sebelum berjualan es krim, ia sempat menjajakan bawang di pasar selama puluhan tahun. Namun usaha itu belum berbuah manis, sehingga ia banting stir menjadi penjual es krim keliling.
Selama tiga tahun terakhir, ia menggantungkan hidup dengan menjajakan es krim. Setiap pagi, Wari sudah bersiap menunggangi sepeda motor Honda Beat rakitan tahun 2014 miliknya. Ia menyusuri jalanan Kota Batu. Mendatangi sekolah-sekolah untuk menjajakan es krim kepada anak-anak.
Harga es krim yang dijajakannya sangat terjangkau. Untuk porsi kecil dibanderol Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu, sementara porsi besar Rp 5 ribu. Jika ada pesanan khusus acara ramai, ia bisa melayani porsi Rp10 ribu sampai Rp 15 ribu per cup.
Satu kotak es krim beserta kerupuk ia beli dari juragan seharga Rp 270 ribu. Dari satu kotak tersebut, Wari bisa mengais omzet Rp 300 ribu jika habis terjual.
“Biasanya baru dua hari habis, pendapatan sekitar Rp 300 ribu. Itu juga belum bensinnya,” ungkap dia.
Keuntungan bersih yang tak seberapa itu harus ia bagi secara ketat untuk kebutuhan dapur dan memenuhi kewajiban bulanan. Pasalnya, sepeda motor Beat bekas keluaran 2014 yang digunakannya dibeli melalui pinjaman koperasi.
Selain untuk kebutuhan hidup, Mbah Wari juga harus menyisihkan uang Rp 200 ribu per bulan di angsuran koperasi. Dari total masa angsuran, kredit motornya masih menyisakan enam kali pembayaran lagi sebelum benar-benar lunas.
Di balik perjuangannya dalam melunasi cicilan, nasib apes menghampirinya. Petaka bermula dari sebuah skenario yang dilancarkan oleh seorang pria berinisial AH. Pelaku mendatangi Wari di kawasan sekolah TK Desa Beji. Penjahat itu memanfaatkan keluguan sang kakek yang sedang mencari nafkah.
AH berpura-pura hendak memesan es krim dalam jumlah besar untuk sebuah acara ulang tahun. Agar Mbah Wari percaya, AH menitipkan uang Rp 100 ribu. Total es krim yang dipesannya sekitar 60 cup setara Rp 300 ribu.
“Awalnya sempat ragu, karena baru pertama kali dipesan. Tapi ya namanya rezeki tidak baik kalau ditolak,” cerita dia.
Pada 22 September sekitar pukul 10.00, Wari mengantarkan pesanan tersebut ke lokasi yang disepakati. Namun setiba di lokasi, AH meminjam sepeda motornya dengan dalih ingin membantu memarkir kendaraan.
Tanpa curiga, Wari menyerahkan kendaraannya. Bukannya diparkir, pelaku justru membawa kabur motor beserta kotak es krim yang terpasang di bagian belakang. Wari panik dan sempat berteriak. Namun usahanya seolah sia-sia lantaran lokasi itu cukup sepi.
“Sempat menyesal, kenapa saya kok percaya,” tutur dia.
Tak lama setelah kejadian, polisi yang melintas merespons dan mengajak Mbah Wari melapor ke Mapolres Batu. Hari-hari setelah kejadian pencurian kendaraan bermotor (curanmor) tetap menjadi masa yang penuh beban pikiran bagi sang kakek.
Selama 10 hari lebih, Wari hanya berdiam diri di rumah. Ia tidak bisa bekerja mencari nafkah. Pikirannya berkecamuk. Apalagi angsuran motor belum lunas.
"Gak iso turu sewengi-wengi. Bayang-bayang saiki mangan opo. Sepeda hilang kan arang ketemu. (Tidak bisa tidur setiap malam. Terbayang sekarang makan apa. Sepeda motor hilang jarang bisa ketemu),” katanya.
Namun keajaiban datang. Pelaku AH diringkus polisi di Singosari, Kabupaten Malang, bersama barang bukti sepeda motor milik Mbah Wari. Rombong es krim yang sempat dibuang di Dau pun berhasil ditemukan kembali.
Meskipun kondisi motornya sempat diubah oleh pelaku, Wari tetap mengucap syukur luar biasa karena motor penopang hidupnya telah kembali.
“Habis saya servis, lumayan biayanya. Yang penting bisa kembali,” ujarnya.
Musibah pahit dan trauma ditipu orang ternyata tak lantas melumpuhkan keberanian kakek dengan lima orang cucu itu. Ia tak trauma meski pernah menjadi korban pembegalan motor.
“Mboten (tidak) trauma, asal di jalan yang ramai pasti aman saja,” lanjutnya.
Baginya, rasa takut tak boleh mengalahkan semangat bertahan hidup. Pengalaman pahit itu justru dijadikan pelajaran untuk lebih waspada dan berhati-hati, terutama saat membawa kunci kendaraan.
Kini, mesin sepeda motor itu telah kembali dengan setelan yang disempurnakan. Dukungan dari juragan es krim yang berpesan agar ia terus berdagang semakin menebalkan daya juangnya.
Dengan raut wajah yang kembali segar dan semangat yang melampaui usianya, Wari bersiap menyusuri kembali lekuk-lekuk jalanan Kota Batu. Menjemput rezeki demi menuntaskan lembar cicilan tersisa, sembari mengukir kembali senyum anak-anak lewat es krim jualan.(*/dan)
Editor : Mahmudan