JARI-JARI kecil mereka bekerja menyusun potongan demi potongan. Perlahan, bahan sederhana seperti daun, koran, dan kertas itu berubah menjadi tokoh wayang. Bocah yang umumnya masih TK sampai SD itu merupakan anak migran Indonesia di Penang, Malaysia.
Aktivitas tersebut tidak berhenti pada keterampilan membuat kerajinan. Anak-anak juga diperkenalkan pada asal-usul wayang. Tokoh-tokohnya. Serta nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Wayang kecil yang mereka buat kemudian ditampilkan dalam rangkaian acara perpisahan. Sebuah karya sederhana menjadi pengalaman yang bisa disentuh, dimainkan, sekaligus dikenang.
Melalui kerajinan wayang pula mereka mengenal negara asalnya, Indonesia. Maklum, tubuh jauh dari Indonesia membuat sebagian dari mereka hanya mengenal negara asalnya lewat cerita orang tuanya.
Kondisi itulah yang menjadi perhatian 24 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Sanggar Bimbingan (SB) Permai, Penang. Selama 25 hari, mereka mendampingi 69 anak migran. Bukan hanya mendekatkan anak-anak dengan budaya dan identitas Indonesia, tapi juga proses belajar mengajar.
“Latar belakang orang tua anak-anak tersebut heterogen. Berbeda-beda kewarganegaraan,” ujar Hanif Roihan Putra Afrianto, Ketua KKN Internasional UMM yang membina anak-anak migran tersebut.
Bagi Hanif, pengenalan budaya Indonesia penting dilakukan karena anak-anak tersebut merupakan warga Indonesia. Namun tidak sedikit dari mereka yang belum memahami kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas mereka.
”Mereka harus mengenal dan mengingat identitas asli salah satu orang tuanya, yaitu Indonesia. Juga perlu dikenalkan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika,” tambahnya di sela mengajari anak-anak migran tersebut.
Kehadiran Hanif dan kawan-kawan (dkk) bukan sekadar menjadi teman belajar sekaligus berkembang bagi anak-anak. Lebih dari itu, juga menjadi salah satu cara menjaga identitas bangsa Indonesia.
Bagi sebagian orang, membuat wayang dari daun, kulit bawang, dan kertas bekas mungkin hanya terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun, bagi anak-anak yang tumbuh jauh dari Indonesia, pengalaman itu dapat menjadi pintu kecil untuk mengenal kebudayaan yang selama ini mungkin hanya mereka dengar dari cerita.
Pendampingan mahasiswa juga tidak berhenti pada kegiatan budaya. Mereka turut membantu proses pembelajaran menggunakan modul yang disediakan sanggar. Materi yang diberikan tidak hanya menyentuh kemampuan membaca dan memahami pelajaran, tetapi juga pengetahuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terutama kesehatan dan pemenuhan gizi.
Keterbatasan ekonomi yang dialami sebagian keluarga migran membuat pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi tersebut, pemahaman mengenai gizi seimbang belum tentu diperoleh anak sejak dini.
Mahasiswa kemudian mengenalkan konsep Isi Piringku. Anak-anak diajak memahami bahwa makanan bukan sekadar untuk menghilangkan rasa lapar. Tubuh membutuhkan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah dengan komposisi yang seimbang.
Pengenalan kesehatan dan gizi menjadi bagian penting dari proses pendampingan. Sebab, belajar tidak semata-mata tentang memahami isi buku. Anak-anak juga perlu mengenali kebutuhan tubuh dan menjaga kesehatan agar dapat tumbuh dengan baik.
Bagi anak-anak itu, Indonesia mungkin bukan tempat yang bisa dikunjungi kapan saja. Negeri tersebut justru bisa hadir melalui hal-hal sederhana. Misalnya melalui selembar kertas bekas yang berubah menjadi wayang. Cerita tentang tokoh budaya, tarian, atau pengalaman belajar bersama mahasiswa dari tanah leluhur.
Di tengah keterbatasan yang belum sepenuhnya teratasi, pengalaman tersebut setidaknya memberi mereka anak-anak migran itu untuk mengenal akar sendiri. Dari sebuah wayang kecil, mereka belajar bahwa identitas tidak hanya diwariskan melalui nama atau kewarganegaraan, tetapi juga melalui budaya yang dikenali, dipelajari, dan diingat.
Editor : Andika Satria Perdana