Tarot sudah menjadi bagian hidup Anton Triyono. Sejak muda, warga Jalan Juanda, Jodipan, tersebut telah menekuni pekerjaan sebagai pembaca tarot. Dia pernah merantau ke Jogja dan Bali untuk membacakan tanda-tanda hidup banyak orang. Satu yang ingin dia luruskan, bahwa membaca tarot bukan aktivitas supranatural.
DITEMUI di kediamannya, Anton Triyono tak keberatan untuk mempraktikkan cara membaca tarot. Dia meminta wartawan koran ini untuk mengambil tujuh kartu dengan tangan kiri. Jumlah tersebut diambil karena menandakan hari ada tujuh.
Kartu-kartu itu kemudian ditata dalam posisi tertutup. Satu per satu, dari kiri ke kanan, Anton membuka dan membacakan isi tujuh tarot tersebut. Misalnya, cara bertahan hidup dan beradaptasi, asmara, ambisi, teman dan keluarga, pengembangan diri, mindset, dan terakhir awareness. “Sebaran tujuh kartu itu mempermudah saya membacakan kartu dari penanya,” kata Anton.
Tujuh kartu yang keluar saat itu adalah ace of sword, hierophant, 6 of swords, 3 of wands, 6 of wands, 9 pentacles, dan 4 pentacles. Tiap kartu punya arti tersendiri bagi orang yang dibacakan. Menurutnya, hasil pembacaan tujuh kartu itu berlaku selama 12 bulan ke depan.
Anton mengaku sudah 22 tahun membacakan tarot bagi orang lain. Namun, dia benarbenar menjadi seorang profesional dan menggantungkan hidup pada pekerjaan itu sejak 2006. Tepatnya sehari sebelum gempa Jogjakarta terjadi.
Kebetulan pada tahun itu, Anton mengalami banyak persoalan. Beberapa tahun dia hidup di Jogjakarta sebagai perantau dan terdaftar sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI). Dia juga sempat menjalani pernikahan walau akhirnya kandas. Dalam kondisi hancur, Anton pulang ke Malang.
“Sehari sebelum gempa Jogja, saya pulang ke Malang. Saya sedang tidur ketika dibangunkan orang tua saya di rumah Jalan Juanda. Mereka memberitahukan ada gempa besar melanda Jogja,” ujarnya. Beruntung Anton sudah pulang ke Malang. Sejak saat itu, dia merasa arah hidupnya berubah 180 derajat. “Ada semacam penyadaran spiritual bahwa saya memang harus menjadi pembaca tarot,” imbuh pria yang sempat mendalami seni teater tersebut.
Di Malang, pekerjaan sebagai pembaca tarot bisa dibilang langka. Namun banyak orang yang tidak anti dengan ramalan tarot. Ketika acara Malang Tempoe Doeloe era Dwi Cahyono menghebohkan Indonesia, Anton juga membuka stan untuk membaca tarot. Sehari, dia bisa membaca tarot untuk 30 sampai 50 orang.
Dalam membaca tarot Anton selalu menegaskan posisinya sebagai orang biasa. Tidak sok supranatural. Sebaliknya, Anton tidak sungkan menanyakan dulu kondisi dan situasi dari orang yang menggunakan jasanya.
Bahkan pria 39 tahun itu ingin meluruskan citra pembaca tarot. “Tarot bukan supranatural. Tarot itu spiritualitas. Ini soal tanda dan peristiwa dalam hidup seseorang. Tugas saya seperti konsultan, menangkap tanda itu dan membacakannya. Harus ada common sense atau nalar,” jelas anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Selain membaca tarot di Jogja dan Malang, Anton juga mencoba peruntungan di Bali. Membacakan tarot di Ubud, Denpasar, Kuta, hingga Nusa Dua. Dia hidup di Bali mulai 2015, kemudian pulang ke Malang pertengahan 2022 lalu karena kangen rumah. Saat membaca tarot bagi orang di Bali, dia melayani tidak hanya orang Indonesia. Kebanyakan tamunya berasal dari Australia. “Saya juga baca tarot untuk orang Jerman, Polandia, Amerika Serikat, Belanda, China, India, Korea hingga Jepang. Kebetulan saya bisa pakai bahasa Inggris untuk menjelaskan kepada mereka tentang tarot,” tambahnya.
Selama pandemi Covid-19, Anton sempat membuka kelas online tentang baca tarot. Dia menerima peserta dari Jerman, Belanda, dan Amerika. Dia juga sudah pernah membaca tarot di berbagai event. Misalnya, Kick Fest dan Malang Tempoe Doeloe. Kemudian di Bali, dia membaca tarot di dua event spiritual terbesar. Yakni, Yoga International Day Bali dan Bali Spirit Fest. “Bali merupakan pusatnya para pembaca tarot di Indonesia,” terang Anton.
Di Malang, Anton melihat tarot belum sepopuler di Bali. Namun dia melihat ada perkembangan yang justru ke arah merusak citra tarot. “Terutama sejak munculnya TikTok. Banyak tarot reader instan yang gak jelas common sense dan reputasinya. Berani pakai nama tarot reader. Meresahkan karena mencampuradukkan tarot dan klenik,” tutupnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno