Sejak era 1960-an, lokasi yang kini menjadi tempat Masjid Agung Jami’ Malang sudah jadi jujukan para ulama. Umumnya berkumpul di langgar, yang saat ini berubah menjadi gedung TK. Proses pembangunan masjid dilakukan dua tahap.
DUROTUL KARIMAH
MASJID Agung Jami’ Kota Malang jadi satu dari tiga masjid di Jawa Timur yang memiliki karisma dan daya tarik khusus.
Dua lainnya yakni di Masjid Sunan Ampel Surabaya dan Masjid Jami’ Pasuruan.
Masjid yang berada di Jalan Merdeka Barat, Kota Malang tersebut pertama kali dibangun pada era Pemerintahan Hindia Belanda.
Tepatnya pada era Bupati Malang ketiga, yakni Raden Ario Adipati Notodiningrat II.
”Ada dua prasasti yang menunjukkan kapan masjid ini dibangun,” tutur Ketua Yayasan Masjid Agung Jami’ Kota Malang KH Abdul Aziz.
Prasasti tersebut ditulis menggunakan aksara Arab namun, dengan bahasa Melayu.
Prasasti pertama menunjukkan pembangunan masjid dilakukan pada tahun 1870.
Sementara prasasti yang kedua menunjukkan pembangunan pada tahun 1890.
Kedua prasasti itu menjelaskan bahwa pembangunan masjid dilakukan dalam dua tahap.
Pada pembangunan pertama, yang didirikan yakni bangunan utama.
Di dalamnya ada tempat imam atau mihrab.
Sementara pembangunan kedua dilakukan untuk bangunan kedua, yang merupakan tambahan area untuk tempat jamaah.
Masjid tersebut dibangun seperti Masjid Jami di kota-kota lain di Indonesia.
Yakni berdekatan dengan alun-alun dan kantor pemerintahan.
”Jadi yang membangun adalah pemerintah, namun untuk pera watan dan kegiatan sete lahnya, dilakukan oleh pengurus dan takmir,” terangnya.
Tepat di samping masjid ada gereja yang diperkirakan di bangun pada waktu yang sama.
Dilihat dari luar, bangunan Masjid Agung Jami’ memiliki gaya arsitektur Arab dengan konstruksi melengkung pada bukaan pintu dan jendela.
Serta bentuk kubah di bagian menariknya.
Warna yang di pilih yakni warna cerah.
Begitu memasuki area utama masjid, akan terasa kental dengan arsitektur Jawa.
Dapat di lihat dari atap bangunan yang berbentuk piramida atau limas bujur sangkar dengan dipenuhi bahan kayu dan baja.
Ada empat tiang besar dari kayu jati sebagai penyangga pada bangunan utama.
Serta, 20 tiang lainnya di bangunan kedua.
Kayu dan warna cokelat yang mendominasi memperkuat kesan bangunan tradisional Jawa.
”Semua masih orisinal, karena kalau bagian dalam tidak boleh diubah,” tutur Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Agung Jami tersebut.
Bangunan tersebut sudah banyak mengalami renovasi.
Seperti penambahan bangunan baru di sebelah utara masjid.
Pembangunan tersebut dilakukan pada 2010 dengan dana awal sumbangan dari Presiden Indonesia keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Masjid Agung Jami’ sejak dulu menjadi tempat berkumpul tokoh-tokoh agama Islam di Malang.
Penasihat Yayasan Masjid Agung Jami’ Kota Malang Dr KH Dahlan Tamrin menyebut, ada beberapa tokoh yang dia ingat turut mengelola masjid tersebut.
Seperti KH Badrussalam, KH Abdul Hadi, dan KH Ahmad Muhammad.
”Itu yang saya tahu, yang sebelum kemerdekaan tidak ada catatannya,” tuturnya.
Sebelum era 1960-an, salat para jamaah dilakukan di langgar.
Lokasinya berada di belakang Masjid Agung Jami’.
Saat ini bangunan langgar itu sudah berubah menjadi gedung Taman Kanak-Kanak (TK).
Masjid Agung Jami’ terus mempertahankan tradisi ahlu sunnah wal jamaah.
Seperti salat tarawih 20 rakaat, 3 rakaat witir, dan amalan seperti membaca doa qunut saat salat subuh.
Seiring banyaknya jamaah yang datang, itu turut mendorong perluasan bangunan masjid.
Saat ini, kapasitas Masjid Agung Jami’ Kota Malang dapat menampung 6.000 sampai 10.000 jamaah.
KH Dahlan menyebut, dalam satu bulan biaya operasional dan perawatan masjid tersebut mencapai Rp 150 juta.
Namun, saat ini Masjid Agung Jami’ tidak hanya bergantung dari donasi jamaah.
Namun juga memiliki beberapa badan usaha.
Seperti produksi air minum yang dapat memberikan laba sekitar Rp 30 juta per bulan.
TK yang berada di belakang bangunan juga dikelola pihak masjid.
Kemudian juga ada Madrasah Diniyah Awaliyah dan pesantren putra yang terletak di belakang masjid.
Harapannya, ke depan bakal lebih banyak lagi unit bisnis untuk kemandirian masjid. (*/by)
Editor : Aditya Novrian