Tim Jawa Pos Radar Malang yang menjejalahi makam dikenal angker itu mendapatkan banyak cerita dari Hariyani, tour guide TPU Sukun. Selama sekitar 1,5 jam, Jawa Pos Radar Malang diajak berkeliling sekaligus mengulas sejarahnya.
”Jangan pikirkan mistismenya. Semuanya di sini (makam), niatnya mempelajari sejarahnya,” kata Hariyani, pegawai TPU yang juga anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sukun itu.
Sebetulnya ada banyak makam orang Belanda di TPU Sukun. Tapi hanya ada 12 tokoh Belanda yang teridentifikasi berdasarkan arsip TPU. Makam pertama yang dikenalkan kepada kami adalah Dr. P. A. A. F. Eyken beserta istrinya. Kedua sejoli ini dimakamkan berdampingan. Keduanya masuk dalam kelompok Freemason (kaum pemikir yang dikesankan sesat).
Cara untuk mengetahui mereka elite cukup mudah. Yakni terpampang simbol mistar dan jangka di batu nisan makam mereka. ”Ada yang bilang, pasangan ini sesat, kelompok penyembah setan. Tetapi sebetulnya kelompok ini elite dan pemikir semua,” tutur Hariyani.
Selain pasutri ini, ada juga makam Pieter A. Allaris, tokoh Freemason lainnya yang meninggal pada 1941 silam. Juga ada makam G. Chr. Renardel De Lavalette, pendiri rumah sakit (RS) RS Lavalette. Selain itu, juga ada makam Pastor Joseph Wang CDD, pendiri Sekolah Katolik Kolese Santo Yusup, ada pendiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Johannes Emde, dan makam Madam Dollira Chavid, bos lokalisasi prostitusi Gang Dolly Surabaya.
Rombongan Jawa Pos Radar Malang juga melihat makam Wongso Indrajit, petinju juara WBC Internasional pada era 80-an. Lalu tour dilanjutkan ke bunker yang berisi 900 mayat yang ditumpuk.
Siapa mayat ini? ”Para Belanda yang meninggal sebelum tahun 1920-an. Mayat ini pindahan dari Makam Klojen Lor,” tambah Hariyani lagi.
Tidak seperti bunker pada umumnya. Tidak ada ruang bawah tanahnya. Modelnya hanya berbentuk kotak seperti tandon. Juga tanpa nama, sehingga tidak teridentifikasi siapa saja yang dimakamkan dalam satu bunker tersebut.
Karena banyak tokoh yang dimakamkan di kawasan ini, pengelola TPU menggelar penghormatan dua kali dalam setahun. Untuk lokasi makam pastoral, penghormatannya melalui misa arwah, tepatnya setiap 4 November. Kemudian setiap akhir tahun digelar penghormatan terhadap rakyat Jepang yang dimakamkan di TPU tersebut.
”Ada penghormatan kepada yang berjasa menyebarkan ajaran nasrani di tanah Jawa,” terang Hariyani sembari menunjuk makam Mgr Clement Van Den Pas O Carm, misionaris nasrani pertama di tanah Jawa.
Sementara itu, Cak Pit, tour guide lain yang menemani wartawan ini menunjukkan beberapa makam unik. Di antaranya, jembatan kayu yang terbuat dari peti mati orang belanda.
”Di jembatan lain (menunjuk salah satu jembatan) bentuknya tidak dipotong, utuh berbentuk tutup peti mati,” kata dia.
Pewarta: Sandra Desi Caesaria Editor : Editor : Hendarmono Al S.