Saat memasuki toko aroma kayu manis, keningar, samar-samar tercium. Aroma ini berasal dari kue yang berada di dalam toples kaca kuno. Meski kue memiliki warna sama, yakni kuning hingga cokelat tua, namun memproduksi dengan total 25 jenis kue. Toko jadul ini menjadi salah satu pelopor kuliner lawas yang telah berdiri sejak 1930 atau 88 tahun silam. Saat ini, toko kue ini dikelola generasi ketiga, yakni The Bian Liep bersama sepupunya untuk melanjutkan penjualan.
Karena dua pengelola itu sudah sepuh, wartawan Jawa Pos Radar Malang mewawancarai Rusi, menantu The Bian Liep. Rusi lantas blak-blakan menceritakan awal mula berdirinya toko kue ini. Semuanya berawal dari hobi sang buyut yang suka memasak. Awalnya, daerah Pecinan merupakan kawasan permukiman Belanda. Kebiasaan mereka adalah melakukan tea time dengan aneka kue kering.
”Kalau sehari-hari sepi. Kecuali ada pelanggan yang mau memberi hadiah kue ke kerabatnya. Jarang (ada pelanggan). Tidak seperti dulu,” tutur Rusi.
Rusi memang tidak terjun langsung membuat kue, tapi dia paham mengenai jenis kue dan bahan-bahannya. ”Pembuatnya mertua saya, tante saya, ipar saya, dan ada satu tante lagi,” katanya.
Di toko ini, dia hanya membantu mengawasi Toko Madjoe. Kue-kue yang ada di toko ini memang resep yang mengadopsi resep Negeri Kincir Angin alias Belanda.
”Seperti kue speculaas, ini salah satu andalan di toko kami. Disukai pelanggan karena rasanya dominan rempah-rempah,” ujar ibu tiga anak ini.
Bahan utama yang digunakan adalah nutmeg, kayu manis, jahe, vanila, hingga lada. Proses pembuatan kue speculaas ini cukup lama. Satu loyang berukuran 35 cm x 39 cm saja kadang butuh waktu hingga dua jam pemanggangan. Namun aneka kue yang ditawarkan tidak hanya speculaas.
Kue lain yang sama larisnya adalah jan hagel, pindakoeken, kaasstengels, boterkoek, banket, dan ransis. Nama-nama kue itu bagi banyak orang mungkin cukup asing. Nah, mungkin karena itulah, meski kue-kue diadaptasi dari resep Belanda, Rusi sendiri sering menyebut beberapa kue dengan nama yang lebih mudah dihafal. Jan hagel misalnya, dia menyebutnya dengan ”yanahel”. Pindakoeken dia sebut kue kacang atau boterkoek yang disebut kue kering aneka bentuk. Disebut begitu karena kue ini dicetak dengan cetakan khusus buatan sendiri.
”Nenek buyut sendiri yang sengaja membuat cetakannya. Ada bentuk kelinci, singa, kupu-kupu, mawar,” ujar Rusi menerangkan.
Produksi kue ini dilakukan di dua tempat. Pertama, di toko kue itu sendiri. Kedua, di rumah mertuanya. Rata-rata dalam satu kali produksi satu resep bisa menghasilkan antara 5,5 kilogram hingga 7 kilogram. Tergantung berat aneka kue yang dihasilkan.
”Kadang satu kilo adonan bisa dipanggang sekitar lima jam, seperti kue ransis. Ginger bread cookies juga butuh waktu lama,” ujarnya.
Harga kue di Toko Madjoe cukup beraneka ragam. Kue speculaas dibanderol sekitar Rp 150 ribu per kilogram. Begitu juga dengan kue lain seperti jan hagel, almond cookies, dan butter cookies yang juga dibanderol sekitar Rp 150 ribu per kilonya. Paling mahal adalah kue kaasstengels, per kilogramnya dijual seharga Rp 250 ribu. Semua makanan ini, ditaruh dalam toples kaca. Alasannya, karena toples kaca membuat kue lebih kedap udara dan membuat kualitas kue tetap renyah.
”Tapi, kue semacam kue aneka selai dan semprit harus ditutupi koran biar tidak mengubah rasa karena sinar matahari,” ucapnya.
Pelanggan yang membeli kue ke tokonya pun tidak hanya berasal dari Malang. Ada juga yang datang dari daerah lain. Biasanya, mereka datang jauh-jauh sambil bernostalgia dengan toko kue yang tidak pernah tersentuh modernisasi ini, baik bangunan atau furniturnya.
”Ya banyak yang datang ke toko buat beli dan foto. Katanya ingat ibu atau neneknya yang sering mengajak mereka ke sini,” terang Rusi.
Beberapa pelanggan kadang memang kangen dengan rasa kue di Toko Madjoe yang khas dan belum tentu ditemui di toko lain. Salah seorang pelanggan, Cantika, yang sempat membeli di toko ini, penasaran karena neneknya sering menjadi pelanggan di sini.
”Saya aslinya Jakarta, oma yang tinggal di sini. Ya saya mampir ke sini karena ingin menjajal kuenya sih,” kata dia. Meski dia membenarkan jika kue ini mahal, tapi itu sepadan dengan rasanya.
Pewarta: Sandra DC Editor : Shuvia Rahma