Konsep dark tourism mungkin masih terdengar asing, karena istilah ini belum lama ada jika dibanding dengan istilah lainnya di bidang pariwisata. Melalui dark tourism, para wisatawan diajak mengenang peristiwa kelam yang dulu pernah terjadi daripada sekadar bersenang-senang.
Beberapa contoh lokasi dark tourism yang terkenal di dunia adalah Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, Chernobyl, Memorial Genosida Murambi, dan Monumen 9/11 Amerika.
Tak hanya di luar negeri, di Indonesia juga terdapat beberapa lokasi dark tourism yang dapat dikunjungi. Merangkum dari berbagai sumber, Jumat (22/1), berikut ini 4 destinasi dark tourism di Indonesia.
1. Museum Tsunami, Banda Aceh
Bangunan yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini menampilkan beragam diorama dan foto lokasi-lokasi di Aceh yang terkena dampak tsunami. Di dalamnya ada juga sumur doa yang dindingnya tertulis nama-nama korban tsunami Aceh 2004. Diketahui sekitar 170 ribu orang meninggal dalam bencana alam tersebut.
2. Museum Sisa Hartaku, Sleman
Merupakan lokasi untuk mengenang peristiwa meletusnya Gunung Merapi yang terjadi pada 2010 lalu. Akibat peristiwa ini lebih dari 300 orang meregang nyawa. Di sini pengunjung dapat menyaksikan sisa-sisa perabotan rumahnya yang menjadi saksi bisu dari panasnya erupsi Merapi. Bahkan, terdapat pula kerangka tulang dari sapi peliharaan warga yang mati pada saat letusan terjadi.
3. Pemakaman Desa Trunyan, Bali
Adalah tempat dimana jasad warga sekitar yang sudah meninggal akan diletakkan di atas tanah dan tidak dikubur di bawah pohon Taru Menyan, sesuai dengan adat yang berlaku di sana. Karena itu, di pemakaman ini wisatawan bisa menyaksikan langsung sisa tulang dan tengkorak manusia yang telah meninggal tersebut.
4. Lumpur Lapindo, Sidoarjo
Merupakan destinasi dark tourism berupa tanggul yang mengelilingi genangan lumpur panas yang berasal dari pengeboran PT. Lapindo Brantas pada 2006 lalu. Peristiwa ini menyebabkan puluhan desa tenggelam dan penduduk setempat harus mengungsi. Di tempat ini, pengunjung dapat menyaksikan lumpur panas yang masih aktif menyembur dan patung karya seniman lokal yang menggambarkan korban bencana Lumpur Lapindo.
Penulis : Gilang Ilham Editor : Shuvia Rahma